"Jangan Mati Sebelum Ngopi"


Pada edisi sebelumnya, Bakul Prisma mengangkat soal trend generasi milenial di Coffee Shop. Kali ini, Bakul Prisma masih membahas soal kopi namun dari sudut pandang sosiologis.
Analisis Sosial & Politik, Ubedilah Badrun memberikan paparan menarik dari kopi dari kacamata sosilogis. Menurut pria kelahiran Indramayu, 15 Maret 1972 tersebut kopi itu ialah entitas peradaban yang muncul di tengah masyarakat dan seringkali dimaknai masyarakat terhadap kopi.
Jika diselami lebih jauh, kopi itu menjadi simbol jika seseorang ingin menjadi akrab yah dengan mengopi. Bahasa kopi itu adalah bahasa rakyat, bahasa yang menciptakan bahasa peradabannya sendiri.
Kehadiran Coffee Shop memberikan ruang publik untuk mendiskusikan banyak hal mulai dari persoalan keseharian sampai ke persoalan berat mulai dari ekonomi dan politik.
Di era modern saat ini, menurut Ubedilah maraknya Coffee Shop menunjukkan adanya fungsi sosiologis secangkir kopi. Kekinian, ngopi sebagai suatu perilaku atau gaya hidup untuk menunjukkan kelas tertentu. Maraknya Coffee Shop dengan konsep-konsep tertentu pada dasarnya memberikan energi dan perasaan tersendiri yang meringankan pemikiran-pemikiran jelimet.
~ Bahasa Kopi itu Adalah Bahasa Rakyat (Ubedilah Badrun)

No comments

Powered by Blogger.