Tak Cukup Hanya Unggah Video, Mbak Nana



Bola liar informasi soal dugaan terjadinya pengaturan skor seketika membuat gaduh suporter di akar rumput. Kegaduhan itu bisa dilihat jika mencermati sejumlah akun suporter, saling serang dan saling caci ditunjukkan.

Acara Mata Najwa dengan tajuk PSSI Bisa Apa yang publish hingga jilid 4 memang membawa dampak positif bagi sepakbola negeri ini. Para petinggi PSSI yang sebelumnya seolah tak tersentuh hukum pada akhirnya masuk dalam bidikan Satgas Antimafia Bola yang juga lahir dari rahim acara tersebut.

Pekerjaan rumah selanjutnya adalah bagaimana meredam gejolak di tingkatan suporter? Pasalnya informasi yang terbuka ke publik pada akhirnya tak dipahami dengan bijak oleh suporter di tingkatan akar rumput.

Kekhawatirannya sebenarnya adalah informasi yang beredar terkait dugaan pengaturan pertandingan malah akan memunculkan bara api permusuhan antar suporter. Sejumlah klub yang namanya terlanjur terekspose diduga terlibat dalam pengaturan skor membuat para suporternya mendapat makian dari suporter lawan.

Persija misalnya, klub juara Liga 1 musim lalu ini dianggap sebagai salah satu klub yang terlibat dalam pengaturan skor. Di edisi PSSI Bisa Apa Jilid 4, Najwa Shihab sebagai tuan rumah Mata Najwa sempat menanyakan ke salah satu narasumber terkait kejanggalan di final Liga 1 musim lalu antara Persija vs Mitra Kukar.

Narasumber yang disebut pada acara tersebut mengetahui seluk beluk dugaan pengaturan skor di Liga 1 mengatakan bahwa laga tersebut memang sudah diatur. “Yang pasti pertandingan itu gol-golnya kontroversial.” kata si narasumber.

Saat dipertegas oleh Najwa Shihab soal pernyataan si narasumber bahwa pertandingan itu diatur, si narasumber tidak membeberkan data dan fakta yang valid. Jawaban yang kemudian dikeluarkan ialah Persija memberikan sejumlah dana untuk perangkat pertandingan.

Sayangnya saat ditanya berapa jumlah uang yang dikeluarkan Persija, si narasumber malah menjawab seperti ini, “Biasanya sih sekitar 20 juta, tapi saat itu kita tidak tahu dapat berapa”

Jawaban seperti ini justru mengakibatkan bola liar informasi. Sejumlah akun suporter lawan Persija yang tak bisa menyikapi informasi ini secara lebih dewasa memanfaatkan momen ini untuk melakukan serangan.

Begitu juga sebaliknya, sejumlah akun suporter Persija ramai-ramai mengeluarkan pernyataan tantangan yang sifatnya membakar bara permusuhan. Slogan Persija Sampai Mati dengan konotasi yang negatif populer di halaman sosial media.

Tidak hanya Persija, sejumlah klub yang namanya terseret juga merasakan dampaknya di tataran suporter. Mulai dari Arema FC hingga Borneo FC mendapat banyak serangan dari warganet yang langsung menelan bulat-bulat informasi yang masih harus diuji kebenarannya tersebut.

Dampak untuk Suporter

Bergulirnya informasi soal dugaan pengaturan pertandingan di sepakbola Indonesia sebenarnya membuat suporter kembali menjadi korban. Gejala di tingkatan akar rumput ini yang harus jadi pekerjaan rumah bersama insan sepakbola nasional.

Bara permusuhan seperti disebutkan di atas memang nyata terjadi di tingkatan sosial media. Hal ini wajib diantisipasi, pasalnya seperti yang kita ketahui sejumlah kasus kekerasan supoter bermula dari saling ejek di sosial media.

Najwa Shihab baru-baru ini memang kemudian mengunggah video seruan kepada para suporter agar bisa berpikir lebih jernih terhadap kasus ini. “Tidak ada gunanya antar suporter saling ejek. Memangnya kita tahu petinggi klub kita itu benar-benar bersih? Yakin klub yang kita dukung tidak pernah menyuap wasit? Kita semua, para supoter ini adalah korban” kata Najwa dalam video singkatnya tersebut.

Seruan itu layak diapresiasi, para suporter pun wajib untuk mencerna seruan ini sebagai bagian dari kritik otokritik. Sayangnya lagi-lagi seruan tersebut bukanlah hal yang dibutuhkan untuk meredam gejolak suporter.

Harus ada beberapa tindakan nyata memang untuk bisa meredam gejolak tersebut. Beberapa waktu lalu sebelum bara permusuhan ini semakin membesar dengan terungkapnya sejumlah informasi terkait dugaan pengaturan skor, penulis sempat mengirimkan DM ke akun Instagram Najwa Shihab.

Poin dari DM tersebut ialah mengajak Najwa Shihab untuk bisa memberi ruang kepada suporter untuk mengelola energi berlebih yang mereka miliki.

Jika sepakat suporter adalah para korban maka tindakan nyata yang harus dilakukan ialah menjadikan suporter bagian dari proses memajukan sepakbola negeri ini. Langkah yang mungkin bisa dilakukan ialah mengajak suporter bersinergis dengan sejumlah lembaga seperti Badan Ekonomi Kreatif misalnya.

Merujuk pada New England Foundation for the Arts, ekonomi kreatif merupakan sektor ekonomi kreatif yang memperoleh nilainya dari memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa budaya yang berdampak pada ekonomi dengan menghasilkan pekerjaan, pendapatan dan kualitas hidup.

Sebagai bukti bahwa sepakbola sebagai bagian dari ekonomi kreatif di persoalan berdampak pada ekonomi dengan menghasilkan pekerjaan dapat kita lihat dengan fakta bahwa pada Piala Dunia 2014 di Brasil, event ini menyerap 14 juta pekerja.

Jelas memang sepakbola menciptakan banyak lapangan pekerjaan, mulai dari pemain, manajemen klub, pengurus stadion, anak gawang, calo tiket, penjual jersey, pengamat, jurnalis, sampai penulis konten di agregator seperti yang marak terjadi di Indonesia sekarang ini.

Kreatifitas, Edukatif, Ekonomi Kreatif Suporter

Suporter klub Indonesia sebenarnya bukan hanya melulu identik dengan aks-aksi tak terpuji dan jadi cibiran masyarakat di luar pencinta sepakbola. Sejumlah barisan supoter nyatanya memang memiliki aksi kreatifitas yang mumpuni, tak jarang aksi kreatifitas mereka mengarah ke pemberdayaan ekonomi mandiri. 

Kisah soal bagaimana kreatifitas suporter PSS Sleman, Brigata Curva Sud (BCS) bahkan sudah jadi pembicaraan publik di Asia. BCS memiliki rekam jejak tak sembarangan dalam hal kreatifitas dan ekonomi mandiri. 

Konsep berdiri di atas ekonomi sendiri (berdikari) diterapkan nyata oleh BCS. BCS tercatat membangun unit-unit usaha seperti distro CSS Shop, CS Mart, CS Pegadaian (untuk membantu anggota yang kesulitan dana saat away) dan CS Magazine.

Tidak hanya BCS yang memiliki semangat membangun sepakbola nasional dengan aksi kreatifitas dan ekonomi mandiri, barisan suporter Semen Padang pun melakukan hal sama. 

Kreatifitas suporter Semen Padang bisa kita lihat dari goresan mereka di cerita komik yang tertuang di akun Facebook dan Instagram, Carito Kabau Sirah. 

Komik bernada satir yang menunjukkan kegelisahan para suporter di kehidupan sehari-hari atau soal sepakbola nasional dituangkan dengan cara-cara menggelitik dan sangat kreatif.

Bahkan untuk hal yang lebih serius, barisan suporter juga melakukan hal kreatif dan edukatif. Lihat bagaimana akun-akun seperti komunitas Bawah Skor Mandala yang fokus pada pengarsipan sejarah sepakbola nasional khususnya PSIM Yogyakarta. 

Komunitas Bawah Skor Mandala bahkan tidak hanya mengarah ke edukasi soal arsip sepakbola nasional namun juga di tataran ekonomi kreatif. 

"Awal mula kisahnya terjadi pada tahun 2010. Saya aktif kuliah dan nonton bola. Saya merasa PSIM tidak punya merchandise yang mewakili atau representatif kecintaan klub pada saat itu. Saya coba-coba bikin merchandise yang formal dengan makna kecintaan terhadap PSIM dengan unsur yang tidak norak dan provokatif," kata Dimaz Maulana, penggagas komunitas Bawah Skor Mandala.

Menariknya, Bekraf yang memiliki 16 subsektor dari industri kreatif yang wajib dikembangkan, beberapa di antaranya sudah dijalankan oleh para suporter di Indonesia. 

Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf menyebut ke-16 subsektor ekonomi kreatif itu ialah, aplikasi dan pengembangan game, arsitektur dan desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film, animasi video, fotografi, kriya (kerajinan tangan), kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni‎ rupa, televisi dan radio. 

Jika ditelusuri lebih jauh, ke-16 subsektor itu sudah dijalankan oleh para supoter kita seperti soal radio misalnya, barisan suporter PSS Sleman memiliki Elja Radio, untuk desain komunikasi visual bisa terwakili dari kerja-kerja kreatif BCS dan Carito Kabau Sirah.


No comments

Powered by Blogger.