Setelah Qatar, Uni Emirates Arab Bakal Jadi Kekuataan Baru Sepak Bola



Qatar sukses menjadi kampium Piala Asia 2019 setelah di babak final kalahkan favorit juara, Jepang. Sebelumnya di babak semifinal, Qatar juga menumbangkan salah satu negara yang bakal jadi kekuatan baru sepak bola di Asia, Uni Emirates Arab (UEA). 

Seperti dikutip dari goal.com Qatar meraih kemenangan meyakinkan 3-1 atas Jepang. 3 gol Qatar dicetak oleh Almoez Ali pada menit ke-12, dilanjutkan lewat gol Abdulaziz Hatem pada menit ke-27 dan penalti dari Akram Afif pada menit ke-83. Sedangkan satu-satunya gol Jepang dicetak oleh Takumi Minamino pada menit ke-69. 

Suksesnya Qatar meraih gelar Piala Asia 2019 tentu saja menjadi kejutan tersendiri. Bagaimana tidak, Qatar bukanlah tim favorit di kompetisi ini. 

Perlahan namun pasti, Qatar yang didaulat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 mulai membangun sepakbola mereka. 

Laporan BBC pada 2015 lalu yang berjudul 'How will Qatar build a good team for the 2022 World Cup?' menjelaskan cara kerja federasi sepakbola Qatar. Sepakbola Qatar tidak hanya dibangun semata karena kekuatan uang. 

Federasi sepakbola Qatar memiliki program yang berkesinambungan dan memiliki tujuan yang sangat jelas. 

Kesamaan dari negara-negara yang maju di sepakbola internasional, pengembangan pemain usia muda jadi fokus federasi sepakbola Qatar. Talenta muda asal Indonesia yang kini merumput di Qatar, Abdurrahman Iwan mengatakan bahwa sepakbola Qatar sangat terfokus pada pemain muda. 

"Belajar dari Academy Aspire gratis. Semua fasilitas ditanggung oleh Academy Aspire," kata pemain yang sempat menyandang gelar top skor ini. 

Selain Qatar yang memiliki program jelas dan keseriusan membangun sepakbola, satu lagi negara di kawasan Timur Tengah yang bakal jadi kekuatan baru sepakbola di Asia yakni UEA. 

Langkah UEA sendiri di Piala Asia 2019 terhenti oleh Qatar di babak semifinal. Sama dengan Qatar, meski dimudahkan dalam hal dana, federasi sepakbola UEA membangun Timnas mereka dari level pemain muda. 

Pada 2015 lalu bekersajasama dengan FIFA, UEA akan mengadakan festival untuk menyaring 100 bibit muda berbakat dari lapangan hijau.  "Semua bakat akan kami pantau dan kami perhatikan," kata  Balhassan Malouch, direktur departemen teknis federasi sepakbola UEA seperti dilansir dari uaefa.ae

Federasi sepakbola UEA juga memiliki program bernama Football Association Academy (FAA) untuk menjaring bibit muda di UEA. Program ini bahkan baru saja bekerjasama dengan Professional Football Scouts Association (PFSA) dari Inggris. 

Nantinya kerjasama ini akan menghasilkan kajian lengkap dari perkembangan pemain muda di UEA, kajian itu di dapat dari semua pemain muda UEA yang bermain di semua level kompetisi. Sekedar informasi, PFSA didukung penuh oleh mantan pesepakbola terkenal Inggris, seperti Ryan Giggs.

Selain fokus pada pembinaan pemain muda untuk membangun kekuatan timnas yang kuat, federasi sepakbola UEA juga paham bagaimana mengelola liga secara profesional untuk memberikan dampak yang signifikan kepada sepakbola di dalam negeri mereka. 

Untuk bisa menambah pengalaman pemain asli UEA, pihak federasi misalnya mampu ditunjukan jadi tuan rumah sejumlah pertandingan klub Eropa. Event-event seperti final Coppa Italia merupakan salah satu strategi federasi sepakbola UEA untuk membangun sepakbola dalam negeri mereka. 

Liga UEA pun mulai melirik mantan-mantan pemain bintang Eropa, Alessandro Del Piero hingga Diego Maradona pernah mengais uang di sepakbola UEA. Geliat sepakbola dari UEA juga diamini oleh mantan pelatih Timnas Inggris, Sven-Goran Eriksson. Pria Swedia ini memang pernah melatih di salah satu klub UEA, Al Nasr. 

"Sama halnya di Al Nasr dan Guangzhou R&F. Sepak bola terus berkembang pesat," kata Eriksson seperti dilansir fifa.com

Pertanyaannya kemudian, mengapa Indonesia tak mampu mengikuti jejak Qatar ataupun UEA? Padahal jika PSSI pun cukup sering mempublikasi kerjasama mereka dengan pihak luar dalam hal pembinaan pemain muda, selain itu jika UEA memiliki Syeikh Mansour yang memiliki PSG, Indonesia juga punya Erik Thohir yang sempat menguasai Inter Milan. 

No comments

Powered by Blogger.