Raymond Goethlas, Sosok 'Ikan Besar' di Kasus Match Fixing


Sepak bola Indonesia tengah diterpa kondisi tak mengenakkan. Satgas anti mafia bola terus bergerak, kabarnya akan ada 'ikan besar' yang ditangkap, semoga saja tak pernah ada sosok Raymond Goethals di sepak bola Indonesia. 

Siapa Raymond Goethlas? Mungkin namanya masih terdengar asing bagi pencinta sepak bola Indonesia. Ia adalah mantan pelatih Marseille saat merengkuh gelar Liga Champions pada 1993 silam. 

Sayangnya gelar tersebut dicabut setelah terbukti klub asal Ligue 1 Prancis itu melakukan aksi suap kepada pemain lawan. Goethlas lahir di Belgia, sebelum menjadi seorang pelatih, ia adalah mantan pemain RC Brussels dengan posisi sebagai kiper. 

Sebagai seorang kiper, karier Goethlas cukup mengkilap. Ia mampu meraih sejumlah gelar domestik di Liga Belgia. Selain itu bersama Timnas Belgia, Goethlas ialah penggawa saat membawa Red Devils meraih juara ketiga di Euro 1972. 

Menapaki karier sebagai seorang pelatih, Goethlas dianggap sebagai pelatih hebat. Ia sosok pelatih yang sangat displin cenderung keras dan memiliki visi hebat. Setidaknya seorang Fabio Capello tak berkutik saat melawan taktik Goethlas. 

Sebagai mantan kiper, taktik Goethlas ialah menekankan pada sisi permainan bertahan dengan serangan balik cepat dan menerapkan perangkap offside yang sangat rapih. Kabarnya taktik Goethlas ia adopsi dari mantan pelatih Anderlecht, Pierre Sinibaldi di era 60-an. 

Naas kariernya kemudian harus tercemar saat melatih Standard Liege pada 1982. Untuk bisa meraih gelar pertamanya, Goethlas kabarnya menyarankan kepada pemilik klub untuk memberi suap kepada pemain tim lawan. 

Kasus ini terbongkar pada 1984 dan membuat heboh sepakbola Belgia. Seperti dikutip dari thesefootballtimes.co (03/02/19) Goethlas menyarankan penyuapan kepada sejumlah pemain Waterschei, klub yang akan jadi lawan terakhir Standard Liege di musim itu. 

Saran itu diambil oleh Goethlas selain demi mengamankan gelar Liga Belgia, ia juga memiliki maksud agar para pemainnya tak mengalami cedera di laga melawan Barcelona di final Piala Winners. Sayangnya di laga final yang berlangsung di Camp Nou tersebut, Standard Liege tetap saja kalah 2-1 dari klub Catalan tersebut. 

Setelah kasus ini terbongkar ke publik, Goethlas 'melarikan diri' ke Portugal. Ia sempat melatih Vitória Guimaraes selama satu musim. Hebatnya setahun setelah kasusnya di Liege jadi pro kontra di Belgia, Goethlas kembali ke negaranya dan melatih Racing Jet Brussels. 

Goethlas seolah-olah jadi sosok yang tak tersentuh hukum meski ia sudah terbukti melakukan tindakan yang menciderai nilai fair play dalam sepakbola. Malah pada 1989, ia mendapat kepercayaan untuk menangani salah satu klub besar Liga Prancis, Bordeaux. 


Di klub ini, Goethlas ialah sosok yang mampu memperkenalkan legenda hidup Manchester United, Eric Cantona. Berkat tangan dingin Goethlas, sosok Cantona muda mampu bermain apik meski ia bertandem dengan salah satu bintang besar Prancis kala itu, Jean-Pierre Papin. 

Meski tak memberikan gelar di Bordeaux, Goethlas ditarik ke klub besar Prancis lainnya, Marseille. Di klub inilah Goethlas mendapatkan kejayaan sekaligus kehancuran. 

Bermaterikan pemain seperti Fabian Barthez, Alen Boksic, Rudi Voller, Desailly, hingga Deschamps, Marseille menjelma bak Los Galatico Real Madrid pada musim 2003. Gelar domestik mampu disabet Marseille seperti juara Ligue 1 selama dua musim berturut-turut, 1990/91 dan 1991/92. 

Bagi Goethlas, gelar ini belumlah cukup. Setelah tak mampu meriah gelar Piala Winners saat masih melatih Liege, Goethlas sangat bernafsu bisa meraih gelar Liga Champions. 

Ia berada di posisi sulit, jadwal yang begitu ketat membuat dirinya harus memutar otak demi bisa menurunkan skuat yang fit dan terbaik. Gelar Ligue 1 tak mau ia lepas, pun dengan gelar Liga Champions musim 1992/93. 

Manajemen Marseille kemudian mencari jalan pintas, yakni menyuap pemain lawan. Kondisi saat Goethlas melatih Liege musim 1982 sangat mirip ia rasakan di Marseille 1992. 

Marseille kemudian ketahuan memberi suap kepada sejumlah pemain Valenciennes, tim yang akan menjadi lawan Marseille di pekan terakhir Ligue 1 Prancis. Harapannya tentu saja agar pemain yang akan tampil melawan AC Milan di laga final Liga Champions mampu fit dan tak cedera. 

Terbongkarnya kasus ini membuat gelar Ligue 1 Prancis dicabut, Goethlas sendiri dalam proses penyelidikan pihak berwenang tak terbukti ikut melakukan hal tersebut namun publik Prancis kala itu tak percaya begitu saja. 

Nama Goethlas pun raib begitu saja, ia seperti sosok tak pernah ada di panggung sepakbola Eropa. Bahkan di dalam negerinya, namanya seolah tak dikenal meski jadi pelatih Belgia pertama yang meraih gelar Liga Champions. 

Dalam sebuah jejak pendapat pada awal 2018 lalu, para pencinta sepakbola Belgia hanya menempatkan Goethlas di posisi 38 dari 100 pesepakbola Belgia paling berpengaruh. 

No comments

Powered by Blogger.