Ibunda Pemain yang Pernah Dipuji Sir Alex Ferguson Keluhkan Peran Pemerintah Original

Masih ingat dengan nama Jack Brown? Tentu saja bagi pencinta sepakbola nasional tak asing dengan nama talenta muda ini. Beberapa tahun lalu, Jack Brown sempat jadi buah bibir karena prestasinya.
Pada 2012 silam, Jack mampu berdiri di depan ribuan penonton Stadion Old Trafford untuk mendapat penghargaan pemain terbaik di ajang The World Final Skill Test MU Soccer Scholl.
Tak main-main, skill Jack mampu menyingkirkan 30 pemain lain yang berasal dari 25 negara di seluruh dunia. Bahkan nilai dari Jack Brown setara dengan legenda Mancheter United, David Beckham.
Mantan manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson pun memberikan pujian tersendiri untuk anak dari Lance dan Indah Brown tersebut. Hebatnya saat ditanya soal asal usulnya, Jack dengan bangga mengatakan di depan ribuan suporter Manchester United bahwa ia berasal dari Indonesia.
Ini tentu patut dibanggakan, pasalnya menurut sang ibu, Indah Brown mengungkap fakta bahwa saat itu pihak penyelenggara mendaftarkan Jack Brown berasal dari Singapura.
"Padahal pihak penyelenggara mendaftarkan dia dari Singapura," kata Indah kepada penulis.
Sayang seribu sayang, skill mumpuni dan rasa nasionalisme yang begitu besar sepertinya tak membuat pemerintah dalam hal ini Kemenpora misalnya tak mau memberikan support.
Indah Brown juga menyebut sejak awal anaknya meniti karier di luar negeri, ia tidak pernah mendapat support dari pemerintah.
"Padahal anak saya membawa nama Indonesia di panggung dunia,"kata Indah.
Kondisi serupa juga dirasakan oleh banyak pemain Indonesia yang tengah meniti karier di Qatar, sebut saja Andri Syahputra atau bagaimana kasus Tristan Alif. Mereka seolah harus berjuang sendirian meski tampil dengan label orang Indonesia di panggung dunia.
Meski ranah untuk mengurus pesepakbola merupakan tugas dari PSSI sebagai federasi, pihak pemerintah harusnya bisa menjadi stackholder karena hal tersebut sesuai dengan keinginan FIFA sebagai federasi sepakbola dunia.
Eks pelatih Timnas Indonesia, Fakhri Husaini juga sempat mengungkap pertanyaan soal peran pemerintah ini.
"Saya ingin bertanya, apa saja yang sudah diberikan negara untuk mendukung prestasi sepak bola Indonesia? Apakah ada fasilitas lapangan yang layak untuk anak-anak SSB?" tulis Fakhri dalam surat terbukanya pada 2015 lalu seperti dikutip dari goal.com
Hal ini tentu sangat berbanding jauh dengan sejumlah negara di Eropa yang memiliki infrastruktur olahraga, seperti lapangan futsal dan lapangan sepakbola adalah milik pemerintah dan aksesnya adalah tanpa biaya, alias gratis, masyarakat hanya perlu mendaftarkan diri jika ingin bermain.
Pihak Kemenpora pernah mencanangkan soal program 1000 lapangan namun pada 2017 lalu program tersebut malah berhenti di tengah jalan. Penyebab program tersebut berhenti sangat lucu yakni pihak Kemenpora tak bisa menjangkau seluruh desa di Indonesia.
Tentu saja kondisi ini sangat tidak elok jika terus dibiarkan, mau sampai kapan banyak talenta muda Indonesia yang berkarier di luar negeri tanpa adanya support dari pemerintah. Perubahan memang harus dilakukan untuk kondisi sepakbola nasional lebih baik dan tentu saja agar Indonesia Adil dan Makmur.

No comments

Powered by Blogger.