Deretan Kasus Match Fixing di Liga Indonesia


Persegres Gresik United vs Persik Kediri

Kasus berikutnya juga diungkapkan oleh mantan pelatih Persegres Gresik United, Agus Yuwono yang mengatakan bahwa dirinya juga sempat mendapatkan tawaran untuk mengikuti hasil yang diinginkan oleh bandar, yaitu hasil imbang. Saat itu, Persegres menghadapi Persik Kediri.

“Saya didatangi orang asing, ditunjukan uangnya Rp 200 juta, asal mau mengikuti bandar (minta hasil imbang. Tapi saya tidak mau karena pertandingan pertama di kandang . tapi seusai pertandingan, hasilnya sesuai bandar 1-1. Saya marah sama si penghubung ini, tapi dia bilang kan sudah diatur semua (untuk dapat hasil imbang),” kata Agus Yuwono kala itu.

Pusamania Borneo FC vs Persebaya Surabaya

Dalam kasus ini, mantan pemain sepak bola yang pernah memperkuat Arema Malang, Johan Ibo menjadi runner (penghubung) antara Bandar dan pemain yang ingin disuap (3 Pemain PBFC). Bahkan, Johan Ibo ternyata bukan hanya sekali ini melakukan suap-menyuap, dia juga pernah melakukannya terhadap salah satu tim asal Papua.

“Saya temukan fakta baru, sebelum kita, hal yang sama juga terjadi di Raja Ampat. Dengan pelaku yang sama pula (Johan Ibo). Kalau ada itikar memperbaiki, harus kita seriusi. Bahan sudah ada, tinggal tindakannya saja. Yang harus kita kejar adalah tindakan PSSI untuk membuka tabir ini,” kata manager PBFC, Dandri Dauri kala itu. Namun sayang kasus ini terhenti ditengah jalan karena aparat hukum menyebut kasus ini tak memiliki cukup bukti.

Bontang FC vs PSLS Lhokseumawe

Kali ini masalah datang dari Liga Prima Indonesia tahun 2013, dimana saat itu mempertemuakan antara klub Bontang FC melawan PSLS Lhokseumawe. Laga itu sendiri dimenangkan Bontang FC dengan skor 4-3, saat itu Camara Fode diplot sebagai pelatih. Namun, karena lisesnsi belum memenuhi syarat, ia ditulis sebagai manajer tim pada laga tersebut agar tetap bisa duduk di bangku cadangan.

Camara disebut sebagai pihak yang membagikan uang kepada pemain, dimana uang itu berasal dari pihak ketiga bernama Michael yang diduga mafia asal Malaysia. Uang itu diberikan melalui Yusuf, yang dikatakan berasal dari Surabaya. Camara diduga membagikan uang kepada pemain di hotel.

Persipur Purwodadi

Baru-baru ini mantan pelatih Persipur Purwodadi, Gunawan membeberkan apa yang pernah terjadi di dalam klub yang pernah ditanganinya pada tahun 2013 ini. Ya, klub asal Purwodadi ini melakukan pengaturan skor dengan bayaran Rp 400 juta satu pertandingan.

Tidak hanya itu, bahkan pengaturan skor tersebut diketahui oleh semua pihak Manajemen Purwodadi. “Memang pada saat di (Persipur) Purwodadi semua pemain terlibat, Bandar itu langsung ke manajemen saya. Divisi Utama 50 persen dirusak sama Bandar-bandar Malaysia,” kata Gunawan saat konpresnsi press yang diadakan oleh Tim Advokasi #IndonesiaVsMafiaBola.

No comments

Powered by Blogger.