Begini Nasib Si Pesakitan Pelaku Match Fixing di LPI 2013, Camara Fode



Kasus match fixing di sepakbola Indonesia saat ini jadi perhatian nasional. Sejumlah pihak mulai dari kalangan media, suporter, pemilik klub, aparat kepolisian dan sejumlah stackholder lain sama-sama membuat kasus ini jadi viral di tengah masyarakat. 

Pembentukan tim Satgas Antimafia Bola menjadi salah satu keluaran positif dari bergulirnya kasus match fixing. Meski pihak federasi, PSSI sendiri tampak masih berpegah teguh dengan pendirian bahwa tidak ada match fixing, namun nyatanya kerja tim Satgas Antimafia Bola mampu menangkap sejumlah petinggi PSSI.

Sedikit mundur ke belakang, kasus match fixing di sepakbola Indonesia sejatinya memang bukan isu baru. Pada 2013 misalnya, Komdis PSSI menjatuhkan sanksi berat kepada manajer PKT Bontang, Camara Fode larangan beraktivitas seumur hidup di sepakbola Indonesia untuk kasus pengaturan pertandingan antara PKT vs PSLS di Liga Primer Indonesia (LPI) 2013. 

Laporan dari tribunnews.com saat itu mengungkap bahwa Camara Fode sebagai pihak yang membagikan uang kepada pemain. Uang itu berasal dari pihak ketiga bernama Michael, yang diduga mafia dari Malaysia.

"Camara mengakui itu semua kepada kami, meski dia menyebut kalau itu adalah sponsor. Sanksi ini akan kami laporkan ke FIFA. Dan hukuman terhadap Camara akan berlaku di seluruh dunia," kata Ketua Komdis PSSI, Hinca Pandjaitan saat itu. 

Tak lagi berkecimpung di sepakbola Indonesia, bagaimana nasib pelatih yang saat masih jadi pesepakbola itu pernah bermain satu lapangan dengan Luis Figo di ajang Piala Dunia U-16 1989 di Skotlandia? 

Bagi sepakbola Guinea, tanah kelahirannya, Camara sempat digadang-gadang sebagai talenta emas. Di ajang Piala Dunia U-16 1989, Camara mampu meraih gelar sepatu emas bersama sejumlah pemain lain seperti Gil Gomes dari Portugal. 

Sebelum jadi pemain andalan di Timnas Guinea di ajang yang juga diikuti oleh legenda Nigeria, Victor Ikpeba, karier Camara di klub Horoya Athlétique Club (HAC). HAC merupakan salah satu klub ternama di Guinea. 

Bakat sepakbolanya kemudian mendorong Baba Sacko, salah satu pejabat tinggi di federasi sepakbola Guinea untuk memanggilnya ke Timnas Guinea. Sejumlah gol mampu ia lesakkan untuk Guinea seperti saat melawan Mesir di pertandingan persahabatan sebelum terbang ke Skotlandia. 

Bermodalkan penampilan apik di Piala Dunia U-16 1989, karier Camara kemudian berlanjut ke Eropa. Klub Belgia Sint-Niklase mengontarkanya dari 1991 hingga 1995. Sayang kariernya di Eropa berantakan. 

Pada 2000, Camara memulai peruntungannya di sepakbola Asia dengan membela klub Tiongkok, Yunnan Hongta. 3 tahun kemudian, ia datang ke Indonesia dan menjadi mesin gol untuk PKT Bontang hingga 2006. 

Hanya PKT, klub di Indonesia yang dibela Camara. Setelah pensiun pada 2011 di klub Thailand, Nonthaburi, Camara setahun kemudian ditunjuk sebagai pelatih di PKT. 

Kasus match fixing kemudian menimpa dirinya pada 2013, ia terpaksa hijrah dari Indonesia dan kembali ke kampung halamannya. Seperti dikutip dari stade28.com, Camara yang saat ini berusia 42 tahun jadi pelatih untuk klub pertamanya, HAC. 

"Saya mengikuti kursus pelatihan di Indonesia pada 2010-2011," kata Camara. 

Sekedar informasi, HAC sendiri pada 2018 lalu dibawa Camara tampil cukup baik di salah satu kompetisi lokal di Guinea. 

Saat ditanya oleh jurnalis stade28.com, Camara tak menyinggung kasus match fixing yang pernah menimpanya di Indonesia. Ia hanya bercerita sedikit soal pengalamannya melatih di Indonesia.

"Pada 2012/2013, saya direkrut untuk menyelematkan PKT Bontang, di sana kami berhasil meriah 3 kemenangan di 3 pertandingan. Pada 2013, saya juga sempat menjadi asisten pelatih di PSM Makassar," kata pria yang mengaku terinspirasi dengan sosok Pep Guardiola dan Zinedine Zidane tersebut. 

No comments

Powered by Blogger.