Teknologi Bola Kaki Dari Zaman ke Zaman



Ingat dengan banana kick ala Roberto Carlos ke gawang Fabian Barthez pada 1998 silam? Atau ingat dengan sepakan keras dari pemain macam Gabriel Batistuta, Eric Cantona, ataupun Steven Gerrard. Mungkin sebagian dari kita akan sepakat bahwa sepakan keras dan terarah para bintang sepakbola dunia ini dipengaruhi oleh teknik dan skill mereka.

Namun ada satu faktor lagi yang bisa membuat para bintang sepakbola ini dengan 'mudah' menendang bola dengan keras dan terarah. Faktor tersebut ialah teknologi lawas yang dipergunakan saat sepakola tengah populer di abad ke-16 yakni rubber bladders.

Pada era 1800-an, tepatnya pada 1836, Charles Goodyear mematenkan penemuannya berupa karet vulkanisir, bahan baku utama dalam pembuatan bola kaki. Pada awalnya, teknologi yang digunakan untuk membuat bola kaki hanyalah teknologi sederhana yakni dengan cara merajut tali pengikat.

Kemudian muncul desain bernama 'Buckminster Ball' atau yang dikenal dengan Buckyball. Desain ini jadi patokan bersama untuk membuat bola yang kini dipermainkan oleh para pemain sepakbola yang kita kenal. Apa itu Buckyball? Nama Buckyball sendiri diambil dari nama Arsitek Amerika Serikat, Buckminster Fuller.

Buckyball sendiri pola segi enam seperti pentagon dan segitiga yang dipasang di permukaan kulit bola. Pola ini tetap bertahan hingga detik ini, bola dengan pola Buckminster di era modern saat ini memiliki 20 permukaan heksagonal dan 12 pentagonal.

Pada 1900, teknologi pembuatan bola mengalami pembaruan. Di era ini, bola yang dihasilkan menggunakan teknik rubber bladders. Teknologi lama ini yang kemudian terus berkembang hingga saat ini. Apa itu rubber bladders?

Rubber Bladders merupakan teknik pembuatan bola di era 1900 yang menggunakan ban dalam dilapisi cokelat tebal, gunanya agar bola bisa memantul lebih mudah untuk ditendang. Bagaimana membuat teknik seperti ini?

Teknik rubber bladders pada dasarnya hanyalah teknik menjahit permukaan bola di awal pembuatan. Bola yang saat itu memiliki penutup kulit berwarna kecokelatan dijahit secara bersama-sama dengan enam panel, setiap bagian dijahit bersama dengan tangan dengan rami lima lapis dan celah renda kecil ada di satu sisi. Semua jahitan dilakukan dengan penutup bola di dalam ke luar. Tujuan sederhana dari teknik menjahit seperti ini ialah menjaga bola agar tidak terus melambung tinggi saat ditendang si pemain.

Kekinian, teknik dibuat lebih mudah dengan meninggalkan menjahit secara manual. Perusahaan produksi bola kaki saat ini sangat mengutamakan dari segi bahan, desain berteknologi tinggi, serta keakuratan dan kemampuan bola menerima kekuataan si penendang bola.

Menurut penelitian Simon Choppin dari Centre for Sports Engineering Research di Sheffield Hallam University, bola kaki modern seperti bola resmi Piala Dunia 2014, Brazuca memiliki perbedaan dibanding bola-bola sebelumnya utamanya untuk ukuran panjang jahitan.

"Kami mengukur kedalaman jahitan bola Jabulani sekitar 0,48 mm sementara Brazuca punya kedalaman jatuhan 1,56 mm, tiga kali lipat lebih dalam," jelas Choppin seperti dikutip BBC. 

Choppin menjelaskan pada dasarnya, kasarnya permukaan bola merupakan salah satu kunci untuk mengatasi efek goyangan atau putaran ketika bola ditendang secara keras.

Rabi Mehta, Kepala Experimental Aero-Physics Branch di Ames Research Center di NASA, mengatakan bahwa rancangan Brazuca memang mengurangi peluang knuckling effect. Brazuca mampu membatasi knuckling effect hingga hanya 48 km/jam, sementara Jabulani 80 km/jam. Efek aerodinamis ini yang tidak ditemukan pada bola-bola abad ke-16.

No comments

Powered by Blogger.