Sepakbola Itu Bagian dari Ekonomi Kreatif



Gagasan bahwa sepakbola pada hakaketnya ialah bagian dari ekonomi kreatif mungkin sangat sedikit yang mendengarnya. Selama ini sepakbola selalu diidentikkan dengan skala bisnis besar. Tak salah memang, faktanya sepakbola secara industri memang merupakan bisnis dengan perputaran uang besar.

Sebagai contoh dalam kurun waktu 2011 hingga 2014, FIFA sebagai penyelenggara Piala Dunia telah menghasilkan pendapatan sebesar 5,72 miliar dollar dengan 70 persen diantaranya berasal dari hak pemasaran. Selain itu, FIFA bahkan memiliki cadangan kas sebanyak 1,52 miliar dollar. FIFA setara dengan PBB atau negara-negara ekonomi maju yang memiliki program hibah untuk disalurkan ke anggotanya.

Pada level klub, kita sama-sama mengetahui bagaimana tim besar dunia seperti Real Madrid, Juventus, Barcelona, Duo Manchester, Chelsea, Bayern Munchen, PSG merupakan merk dagang yang bernilai sangat tinggi. El Real misalnya pada data 2011 lalu memiliki kekayaan bersih mencapai 5 miliar dolar. Namun jika kita melihat lebih jauh sebenarnya bisnis di sepakbola tak terlalu memiliki keuntungan berlimpah. Jika dibandingkan dengan nilai pendapatan perusahaan multinasional, kekayaan bersih sebuah klub besar Eropa masih sangat kecil.

Kuper dan Szymanski di Soccernomics menyebut bahwa bisnis sepakbola secara makro jika dibandingkan dengan industri lain sangatlah jauh berbeda. Hal itu bisa dilihat dari presentase nilai kekayaan Real Madrid misalnya dengan sebuah perusahaan tak terkenal asal Amerika Serikat, TIMET. Pada 2008, TIMET memiliki laba kotor mencapai 1,5 miliar dollar, tak jauh berbeda bukan dengan kekayaan bersih Real Madrid di 2011.

Karenanya menempatkan sepakbola bagian dari ekonomi kreatif ialah hal yang masuk akal. Merujuk pada New England Foundation for the Arts, ekonomi kreatif merupakan sektor ekonomi kreatif yang memperoleh nilainya dari memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa budaya yang berdampak pada ekonomi dengan menghasilkan pekerjaan, pendapatan dan kualitas hidup.

Sebagai bukti bahwa sepakbola sebagai bagian dari ekonomi kreatif di persoalan berdampak pada ekonomi dengan menghasilkan pekerjaan dapat kita lihat dengan fakta bahwa pada Piala Dunia 2014 di Brasil, event ini menyerap 14 juta pekerja. Jelas memang sepakbola menciptakan banyak lapangan pekerjaan, mulai dari pemain, manajemen klub, pengurus stadion, anak gawang, calo tiket, penjual jersey, pengamat, jurnalis, sampai penulis konten di agregator seperti yang marak terjadi di Indonesia sekarang ini.

Selain itu jika kita melihat dari sisi jasa budaya, contoh nyatanya ialah mantan presiden AC Milan, Silvio Berlusconi yang menamakan partai politiknya dengan chant sepakbola, Forza Italia! Yang tak kalah menarik jika melihat sepakbola ialah bagian dari ekonomi kreatif di persoalan meningkatkan kualitas hidup , fakta seperti diungkap Grant Allard di Duke.edu menyebutkan bahwa gejala pasien kanker di sebuah rumah sakit di Mataro, Spanyol berkurang karena kebiasaan pasien menonton laga sepakbola.

Sepakbola ialah pertunjukan yang dimana para pemainnya bak aktor di pentas teater. Mereka memainkan peran yang bisa membuat penonton mengelola rasa didirinya, mulai dari senang, bahagia, tertawa, bersedih, menangis, hingga marah. Melihat sepakbola dari sisi ekonomi kreatif akan mendatangkan perspektif baru di penonton sepakbola bahwa olahraga ini seharusnya bisa menjadi institusi budaya yang menjadi tempat untuk menempa identitas mereka dan memberikan kontribusi positif untuk sekitar. 

No comments

Powered by Blogger.