Saat Roberto Baggio Memutuskan Jadi Pengikut Budha



Matahari saat itu sudah meninggi. Teriknya menyirami ribuan penonton yang sesaki Stadion Rose Bowl, Amerika Serikat, tempat berlangsungnya final Piala Dunia 1994.

Tidak hanya di Stadion Rose Bowl, jutaan pasang mata kala itu pun membeku pandangi televisi menunggu siapa yang bakal keluar sebagai juara dunia, Brasil atau Italia.

Jual beli serangan tersaji selama pertandingan. Sayang tidak ada gol yang tercipta. Wasit asal Hungaria, Sandor Puhl terpaksa harus melanjutkan pertandingan sampai babak penalti karena hingga babak tambahan waktu tak ada gol yang dihasikan oleh pemain kedua negara.

Gli Azzuri sempat diatas angin saat penendang pertama Brasil, Marcio Santos, gagal lesakan bola ke gawang. Petaka datang untuk Italia saat penendang keempat setelah Daniele Massaro gagal, maju sebagai algojo.

Penendang keempat itu ialah penyerang yang dianggap sebagai penyerang terbaik Italia. Dengan rambut kuncir kuda, pemain bernomor punggung 10 itu melangkah. Taffarel dengan gagah berani menghadapinya.

Dunia runtuh seketika untuk si pemain yang bernama lengkap Roberto Baggio. Bola melambung sangat tinggi dan melampangkan jalan Brasil raih gelar Piala Dunianya keempat.

"Itu momen terburuk dalam karier saya. Jika saya bisa menghapus momen dalam karier saya, penalti Piala Dunia 1994 jadi yang utama," kata Roberto Baggio di dalam buku otobiografinya.

Kegagalan Baggio mengeksekusi penalti membuat dirinya jadi public enemy di Italia. Bagi orang Firenze hal itu sangat 'menyenangkan', pasalnya sejak 1990 mereka menyimpan bara dendam kepada pria kelahiran 18 Februari 1967 itu karena keputusannya pindah ke Juventus. Publik Firenze mengutuk kegagalan ini sebagai buah dari pengkhianatannya terhadap Fiorentina.

Padahal menurut publik Artemio Franchi selama di Florence, Baggio menemukan banyak hal dalam hidupnya, termasuk soal pencarian manusia pada sosok Yang Maha Kuasa. 01 Januari 1988, Roberto Baggio membuat publik Italia terhenyak saat memutuskan untuk menjadi penganut agama Budha. Tahun sebelumnya, Baggio tengah diterpa masalah berat dalam kariernya, cedera. Baggio yang saat itu digadang-gadang sebagai striker muda masa depan Italia mengalami cedera yang mengancam masa depannya.

Sempat mengalami proses penyembuhan, pada akhir 1987 Baggio mencoba untuk mengikuti latihan bersama skuat Fiorentina. Baru 10 menit berlatih, Baggio seperti laporan dari football-italia.net mengalami kelelahan, cederanya kambuh, ia harus kembali ke meja operasi. Di tengah keterpurukan inilah, pria yang lahir dari keluarga dengan 8 saudara ini bertemu dengan kawan kecilnya, Morrichio yang sudah terlebih dahulu jadi penganut agama Budha.

Memutuskan untuk jadi penganut agama Budha membuat Baggio jadi bahan cibiran, keluarganya pun sempat berada di keputusan yang sulit, antara menerima atau mengikhlaskan keputusan Baggio. Cerita-cerita soal Baggio kecil yang sangat religius dan tiap minggu selalu datang ke gereja muncul di media, ini menambah keterpurukan dan beban untuk Baggio.

Namun Baggio tak gentar untuk pilihan hidupnya ini. Morrichio yang mengenalkan sejumlah ajaran Budha saat Baggio melawan keterpurukan karena cedea menceritakan bahwa pada pagi 01 Januari 1988, ia baru saja menghadiri pesta tahun baru dan baru terlelap 3 jam. Tepat pukul 07:30 kata Morrichio, pintu rumahnya diketuk oleh Baggio yang sudah bulat memutuskan untuk jadi penganut agama Budha.

Dalam otobiografinya, Baggio menceritakan bahwa pada awalnya Morrichio sangat terkejut dengan keputusannya tersebut. Baggio bahkan mengatakan bahwa Morrichio menyebutnya gila karena keputusannya tersebut. Namun dengan sejumlah argumen yang diberikan Baggio, Morrichio akhirnya percaya bahwa sahabatnya itu memang sudah menemukan kedamaian dan keyakinan untuk jadi Buddhis. Maka sejak pagi yang dingin di Januari 1988, Baggio selalu tak bisa melepaskan hidupnya dari meditasi dan berdoa dua kali sehari selama 1 jam, serta melakukan renungan ketika mengakhiri hari.

'Mengapa saya?' jadi pertanyaan sebelum Baggio memutuskan untuk jadi Buddhis. Baggio mengatakan bahwa dirinya merasa tak terima dengan cedera yang menerjangnya saat kariernya tengah menanjak. Cedera yang tak kunjung sembuh bahkan sempat membuat Baggio menyerah pada sepakbola. Hal itu kemudian berubah setelah ia mengetahui ajaran Karma di agama Budha.

Setelah kembali bangkit dalam karier dan benar-benar menemukan kedamaian saat memeluk agama Budha, Baggio kembali dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan keyakinanya. Seperti tersebut di atas, keputusannya untuk pindah ke Juventus dengan bayaran 25 juta lira benar-benar dikutuk suporter Fiorentina. Publik Firenze bahkan menyangkutpautkan agama Budha dengan keputusan pindah ke Juventus. Baggio dengan agama barunya diperolok-olok. Baggio tak bergeming dan tetap menuju Turin untuk melanjutkan petulangan baru di kariernya.

Mengaitkan agama dengan kegagalan atau keterpurukannya di lapangan hijau acapkali diterima Baggio sepanjang kariernya. Termasuk saat ia gagal di Piala Dunia 1994. Salah satu media di Italia bahkan sempat menurunkan artikel yang menyebut seadainya Baggio berdoa kepada Yesus daripada sang Budha, niscaya Italia mampu meraih juara Piala Dunia.

Tentu saja ini begitu menyakiti Baggio. Ia pun sempat terpancing emosi dengan menyebut bahwa selain dirinya ada dua pemain Italia lain yang gagal jadi algojo penalti, Franco Baresi dan Daniele Massaro, mengapa publik Italia tak mengaitkan agama mereka?

Yang menarik agama kembali jadi bahan pergunjingan publik kepada Baggio saat ia memutuskan untuk menikahi sang kekasih hati, Andreina di sebuah gereja Katolik. Publik ramai-ramai menghakiminya karena keputusan yang kontroversial tersebut. Baggio menjawab enteng hal tersebut, ia menikahi Andreina di gereja semata-mata karena menghormati orang tuanya yang telah membesarkan dirinya dengan ajaran Katolik meski begitu Baggio menyebut keimanannya sebagai Buddhis tak tergoyahkan.

Sebelum memutuskan untuk menikah dengan Andreina, Baggio bahkan sempat 'di-ruqyah' oleh ibu dari Andreina. Sang mertua menganggap keputusan Baggio memeluk agama Budha karena tengah dirasuki setan. Sejumlah pastor sempat diminta untuk 'menyembuhkan' Baggio. Namun belakangan sang mertua akhirnya menerima keputusan Baggio ini, bahkan Andreina diketahui juga tertarik pada ajaran Budha dan tiap pagi selalu melakukan meditasi bersama Baggio.

Keluarga Baggio dan sang istri memang pada akhirnya melihat perubahan sikap dan perilaku pemain yang telah mengoleksi 218 gol sepanjang kariernya. Dari hal paling sederhana soal kesetiaan misalnya, setelah menjadi seorang Buddhis, Baggio menurut  keluarga besarnya begitu setia dengan Andreina. Tak seperti kebanyakan pesepakbola top lainnya yang jatuh ke skandal seks dengan wanita lain, Baggio tetap merajut cinta bersama Andreina, baik saat ia tengah merasakan kejayaan atau saat kembali mendapat ujian di kariernya.

Lambat laun publik Italia atau Firenze pada akhirnya menyadari bahwa soal pilihan Baggio menjadi seorang Buddhis merupakan pilihan hidup yang tak ada satu orang pun berhak menghakimi. Soal benar atau salah akan selalu relatif jika membicarakan agama, yang pasti tiap ajaran agama di dunia akan selalu mengajarkan kebaikan dan kasih sayang sesama mahluk hidup. Semoga saja kasus Baggio bisa membuat publik yang akhir-akhir ini mempergunjingkan soal pilihan Lindswell Kwok menjadi mualaf bisa lebih paham dan belajar arti penting menghormati antar sesama apapun latar belakang dan agamanya. 

No comments

Powered by Blogger.