Derita Pesepakbola Etnis Uyghur


Sepakbola menjadi jalan lain dan harapan bagi sejumlah orang yang terlahir 'berbeda'. Sejak beberapa tahun lalu saya sempat mengupas jalan lain yang ditempuh banyak orang di lingkaran diskriminasi. 

Etnis Rohingya salah satunya, etnis yang mendapat perlakuan tak manusiawi dari junta militer Myanmar harus hidup terkatung-katung di tanah pengusian. Meski begitu sepakbola tetap jadi salah satu harapan bagi sejumlah pemuda Rohingya untuk hidup layaknya orang kebanyakan. 

Laporan dari Nathan A Thompson di nytimes.com pada 30 Juli 2017 lalu mengungkap meski para etnis Rohingya mengalami masa suram dalam hidupnya namun sepakbola membuat hidup mereka lebih berarti. Sepakbola memberi harap dan kekuataan untuk mereka menjalani hidup. "Saat bermain sepakbola, kesedihan dan kemarahan seakan menghilang," kata Ismail salah satu pengungsi Rohingya yang kini menerap di kamp Bangladesh.

Etnis Rohingya di Amerika Serikat juga sempat menjadi sepakbola sebagai saluran lain untuk menyuarakan eksistensi mereka sebagai manusia. Berlokasi di Phonenix, Amerika Serikat, salah satu pengungsi Rohingya, Win La Bar bermain di sebuah klub sepakbola amatir bersama pengungsi lain yang terusir dari tanah kelahiran hanya karena berbeda. 

Laporan dari cnn.com (02/09/2017) sendiri menyebut bahwa di daerah Phoenix, Arizona terdapat 200 anak pengungsi yang berasal dari pelbagai belahan dunia.

Selain Rohingya, etnis Matabeleland di Zimbabwe juga melakukan hal serupa. Meski mendapat aksi represif dari pemerintah Zimbabwe karena dianggap sebagai pemberontak dan ingin memerdekakan diri, para pemuda di Matabeleland tetap bercita-cita untuk jadi pesepakbola hingga bisa mentas di panggung dunia. 

Hal serupa juga dilakukan oleh etnis Uyghur, etnis yang tinggal di Xinjiang, China dan sudah berpuluh-puluh tahun mendapat aksi diskriminasi dari pemerintah Negeri Tirai Bambu tersebut. Kebetulan saat ini tengah ramai aksi solidaritas kepada etnis ini karena tindakan diskriminatif pemerintah China soal agama yang dianut orang Uyghur, Islam. 

Terlepas apakah benar aksi diskriminatif pemerintah China didasari oleh agama yang dianut orang Uyghur, namun faktanya praktek diskriminatif memang terjadi di Xinjiang. Pada April 2018 lalu, salah satu pesepakbola terbaik dari etnis Uyghur, Erfan Hezim mendadak ditangkap oleh pemerintah China usai ia melakukan perjalanan ke luar negeri. 

Dari laporan rfa.org, Erfan yang memiliki nama China, Ye Erfan ialah satu dari jutaan orang Uyghur yang dikirim ke kamp-kamp 'pendidikan ulang' pemerintah China. Publik dunia saat itu tak mengetahui kabar miris ini, pasalnya pemerintah China menangkap Erfan di tengah mata publik dunia tengah fokus menyaksikan laga Piala Dunia 2018. 

Awalnya Erfan yang memiliki kontrak profesional selama 5 tahun dengan klub Liga Super China, Jiangsu Suning FC tak diketahui keberadaannya usai mendarat ke China usai melakoni tur sepakbola bersama klunya di dua negara, Spanyol dan Uni Emirates Arab. Belakangan baru pemerintah China mengatakan ke publik bahwa Erfan memang dikirim ke kamp 'pendidikan ulang'. 

Organisasi pemain profesional, FIFPro yang berpusat di Belanda sampai harus mengirim surat ke pemerintah China terkait keberdaan Erfan. Surat tersebut cukup lama dibalas oleh pemerintah China, dan baru Juni 2018 dibalas dengan isi yang menyebutkan Erfan berada di wilayah Jiaochu. 

"FIFPro menyerukan pembebasan segera Erfan Hezim dari kamp dan segera dipersatukan kembali dengan keluarganya" tulis rilis resmi FIFPro. Sebagai informasi, China sendiri bukan negara yang pemainnya masuk dalam anggota FIFPro, status China di FIFPro hanyalah 'pengamat'. 

Salah seorang mahasiwa hukum asal China, Shawn Zhang berhasil menggunakan citra satelit untuk memberikan gambaran visual kamp yang jadi tempat penahanan untuk Erfan dan jutaan orang Uyghur lainnya. 

Menurut sumber lokal Uyghur, Erfan dianggap bersalah karena mengunjungi negara-negara asing tanpa persetujuan pemerintah pusat, meski alasannya ialah untuk kepentingan profesinal sepakbola, bagi orang Uyghur hal tersebut ialah pelanggaran hukum. 

Masih bersumber pada laporan rfa.org, kabarnya selama berada di kamp 'pendidikan ulang' tersebut Erfan dan orang Uyghur lainnya diadali tanpa sistem pengadilan yang sah, mereka juga dipaksa untuk mengubah keyakinan mereka dan berjanji setia kepada Partai Komunis China. 

Sejumlah pengamat HAM Internasional sudah menyerukan agar pemerintah China mau mengakui bahwa memang terdapat banyak kamp konsentrasi yang mereka dirikan untuk mendidik ulang orang Uyghur. Maya Wang dari Humat Rights Watch seperti dinukil dari The Guardian menyebutkan bahwa lebih dari 1 juta orang Uyghur harus masuk ke dalam kamp-kamp tersebut akibat kesalahan yang tidak masuk akal. 

Senator Amerika Serikat, Marco Rubio juga sempat mengatakan ke publik bahwa tindakan pemerintah China kepada orang Uyghur merupakan penahan massal terbesar dari kaum minoritas di abad ini. Pemerintah China sendiri memilih untuk bungkam dengan adanya tuduhan kamp-kamp khusus orang Uyghur. 

Meski aksi penangkapan dan penahanan dirasakan oleh banyak orang Uyghur tak terkecuali pesepakbola mereka hal tersebut tak menyurutkan anak-anak muda Uyghur untuk tetap meniti karier di lapangan hijau. Laporan Bianca Silva dari majalah Time menyebutkan bahwa sepakbola ialah sesuatu yang lain bagi orang Uyghur untuk tetap bertahan hidup dan menunjukkan eksistensi mereka sebagai kaum minoritas dan terdiskriminasi. 

Di daerah Meizhou, Barat Laut Xinjiang, terdapat sebuah sekolah sepakbola (SSB) yang diisi oleh anak-anak Uyghur. Di tempat tersebut, tiap sorenya anak-anak Uyghur berlatih keras untuk menjadi pemain sepakbola profesional. Bahkan salah seorang anak dari SSB ini, Muradil menyebut bahwa cita-citanya ialah bisa pergi ke Brasil dan menjadi bintang seperti idolanya, Lionel Messi. 

Yang menarik, SSB ini mendapat sokongan dari kaum milineal China yang bersimpatik dengan orang Uyghur. Sejumlah program bantuan digagas oleh sejumlah mahasiwa China untuk menyokong aktifitas para anak Uyghur bermain bola. 

Yuyang Liu seorang fotografer dan juga bagian dari program SSB ini menyebutkan bahwa saat ini banyak pemuda/i China yan melihat sisi lain dari orang Uyghur, praktek diskriminasi yang didapat etnis ini harus dikikis bukan dari pemerintah tapi dari orang-orang China itu sendiri, salah satunya dengan program tersebut. "Saya pikir program ini sangat penting untuk anak-anak Uyghur yang pada 2009 menjadi korban kekerasan. Hal ini untuk mengikis jurang antara orang Uyghur dengan kami," kata Liu. 

Program yang coba didorong ke SSB ini sendiri mendapat respon cukup positif dari orang-orang tua Uyghur. Memet Zunun seperti dikutip dari chinafile.com mengatakan bahwa sepakbola memang jadi 'pelarian' bagi anak muda Uyghur dari tekanan dan aksi diskriminasi. 

Zunun mengatakan bahwa sebelum terjadi revolusi Komunis di China, orang Uyghur tiap sholat Jumat di sore hari akan berbondong-bondong datang ke tanah lapangan untuk mengadakan pertandingan sepakbola. Bola yang digunakan kata Zunun berasal dari kulit domba yang mereka jahit sendiri, pertandingan selesai sebelum adzan Magrib berkumandang. 

Di daerah lain Xinjiang, tepatnya di Kizilsu, komunitas Uyghur di tempat tersebut berhasil menjadikan sepakbola sebagai bagian dari muatan lokal pendidikan di sekolah dasar kota tersebut. Pelatih sepakbola di sekolah tersebut, Nasrulla Mijit mengatakan bahwa 9 anak asuhnya saat ini tengah mengikuti program akademi di salah satu klub besar Liga Super China, Guangzhou Evergrande. 

Bahkan satu anak dari sekolah ini, Imran pernah menghabiskan waktu selama 1 bulan untuk mengikuti pelatih di Italia bersama klub Juventus. Imran diberangkatkan oleh klub Guangzhou Evergrande.  

No comments

Powered by Blogger.