Stadion Armando Picchi Jadi Bukti Nyata Sepakbola Sulit Dilepaskan dari Politik



Mantan redaktur koran Harian Rakjat yang juga salah satu petinggi partai terlarang di negeri ini, Partai Komunis Indonesia (PKI), Nyoto pernah berujar, "Kalau sport sudah politik, apalagi sastra dan seni!" di koran Harian Rakjat edisi 04 Maret 1964. 

Pernyataan Nyoto ini tentu saja bisa jadi pro kontra dikalangan penikmat sepakbola. Mereka yang kontra menganggap bahwa sepakbola harus terbebas dari nilai-nilai politik. Mencampurkan adukkan sepakbola dengan politik dianggap bisa menciderai semangat fair play yang dijunjung oleh olahraga ini. 

Mereka yang pro beranggapan bahwa faktanya sepakbola memang tak bisa dipisahkan dari politik. Sepakbola memang jadi bagian tak terpisahkan dari alat untuk berpolitik. Massa di sepakbola tentu saja jadi hal paling menggiurkan bagi para politikus jelang masa kampanye. 

Meski sejumlah suporter misalnya jauh-jauh hari sudah 'berikrar' bahwa sepakbola terbebas dari politik, saat masa kampanye tiba ketika calon walikota, gubernur, anggota DPR, atau calon presiden sekalipun datang menghampiri dan memberi janji, para supoter ini pun akan larut dalam buaian janji tersebut, lihat saja kasus Jakmania kepada Gubernur Anies Baswedan di persoalan stadion untuk Persija. 

Fakta sejarah juga memang membuktikkan bahwa sejak zaman Soekarno, sang proklamator juga menggunakan sepakbola sebagai bagian dari alat propagandanya untuk menumbuhkan semangat nasionalisme di zaman itu. Tengok saja dibangunnya Stadion GBK di era kepemimpinannya. Jika tak ada lobi politik dan tujuan politik, mungkin sampai saat ini Indonesia tak bisa memiliki stadion termegah itu. 

Selain Stadion GBK, ada satu stadion lagi yang menjadi bukti nyata bahwa politik memang sulit dipisahkan dari sepakbola. Letaknya bukan di Indonesia, jauh di Italia sana. Nama stadionnya, Stadion Armando Picchi, markas klub kecil, Livorno.  

Sekilas tentang Livorno, kota ini merupakan salah satu kota pelabuhan yang terletak di pantai barat Tuscany. Kota ini memiliki kedekatan dengan Venezia karena pada abad ke-16, kota ini salah kota di Italia yang banyak memperkenalkan budaya renaissance. Berdirinya kota pelabuhan ini tak bisa dilepaskan dari peran keluarga bangsawan dari Florence, keluarga Medici. 

Bagi penggemar fanatik Serie A mungkin tak terlalu asing dengan Livorno, meski namanya tak sebesar Juventus atau duo Milan, sepak terjang klub ini cukup menggigit. Selain soal sepak terjang, penggila sepakbola sangat tahu soal Livorno tentu saja karena klub dan kota ini menjadi gambaran nyata soal pertautan politik dengan sepakbola. 

Livorno seperti pernah ditulis di detiksport.com merupakan benteng terakhir ajaran komunisme di Italia. Kota dan klub ini memang cerminan dari ajaran komunis yang mengakar dan kuat. Tak semata mengibarkan bendera palu arit atau gambar ikon komunis, Stalin atau Che Guevara, Livorno menerpakan banyak hal soal ajaran komunis di keseharian mereka.

Jurnal yang berjudul, "The birthplace of Italian Communism: Political Identity and Action Amongst Livorno Fans" karangan Mark Doidge dari Univeristas Brighton menyebutkan bahwa Marxisme dan Komunisme ialah dua hal yang berpengaruh banyak pada kehidupan masyarakat Livorno 

Misalnya soal kebijakan klub membeli pemain, pada 2013 lalu klub ini sempat ditawari untuk bisa merekrut salah satu striker tajam, Tomasso Rocchi yang kala itu tengah berstatus bebas transfer. Namun manajemen klub menolak, alasannya karena Rocchi ialah seorang Laziale, pendukung Lazio, klub di ibukota Italia, Roma. Memang ada yang salah dengan Laziale? Konflik politik dan rekam sejarah tentu saja jadi latar belakang dibalik keputusan manajemen klub. 

Kembali ke Stadion Armando Picchi, stadion ini sebelumnya bernama Edda Ciano Mussolini, nama putri dari diktator Italia, Benito Mussolini dan menjadi salah satu stadion peninggalan era Mussolini. Semangat melawan ajaran fasis lalu membuat suporter Livorno yang berafiliasi dengan gerakan komunisme mengubah stadion ini menjadi Stadion Armando Picchi pada 1971. 

Jika di era Mussolini, stadion ini digunakan sebagai salah satu alat propaganda dan kampanye untuk menyebarkan ajaran fasis, maka semenjak kematiannya dan berakhirnya Perang Dunia II serta dilanjutkan dengan Perang Dingin, stadion ini jadi simbol penerapan ajaran komunisme di Italia. 

Armando Picchi sendiri ialah mantan pemain Inter Milan di era 60-an. Namun karier Picchi ialah putra asli Livorno dan memulai karier sepakbolanya di akademi Livorno pada 1949. Ia lalu promosi ke tim utama pada 1954 dan berkarier di sana hingga 1959. Setelah pensiun pada 1969, Picchi sempat menjadi pelatih untuk Livorno pada 1969/1970. 

Stadion yang terletak di pusat kota dan mudah diakses bagi banyak pendatang baru ini, Armando Picchi sempat disebut-sebut banyak kalangan sebagai daerah merah untuk suporter. Hal ini dikarenakan di stadion ini banyak terjadi kekerasan antar suporter, apalagi jika tim yang bertamu ialah AS Roma, Lazio, atau Verona. 

Kekerasan antar suporter yang pecah itu bukan semata-semata seperti yang sering kita lihat di Indonesia, dua kelompok saling serang hingga saling bunuh tanpa ada akar masalah yang jelas. Di Livorno, kekerasan itu karena perbedaan pandangan politik yang berlarut-larut, serta rasa dendam akibat perlakukan diskriminasi para penguasa di era Mussolini, di mana mereka berafiliasi dengan kelompok suporter dari Roma atau Verona. 

Semangat untuk terus menyuarakan anti diskriminasi dan ajaran politik kiri lainnya hingga saat ini memang terus dipertahankan di Stadion Armado Picchi. Seperti yang disebutkan di awal, suporter Livorno bukan semata hanya mengibarkan bendera palu arit atau ikon Che Guevara, mereka juga melakukan gerakan nyata di dalam stadion seperti misalnya melakukan proyek penggalangan dana gempa bumi yang sempat menimpa Italia pada 2009 dan Haiti pada 2010. 

Selain itu, dukungan politik juga selalu mereka suarakan untuk bangsa Palestina yang terjajah oleh Israel. Semangat anti Israel dan zionis lantang disuarakan oleh para suporter Livorno di Stadion Armando Picchi, seperti yang mereka lakukan saat menjamu Maccabi Haifa di ajang Piala UEFA beberapa musim lalu. 

Lantas apakah pihak manajemn klub merasa khawatir dengan tindak tanduk para suporter mereka ini? Tak seperti di Indonesia lagi misalnya dimana para suporter sempat mendapat sanksi karena membentangkan bendera Palestina sebagai bentuk solidaritas, lalu klub harus membayar denda. Di Livorno, manajemen klub punya arah politik yang sama dengan suporter. 

Bagi para petinggi klub Livorno, penting bagi mereka untuk terus menjaga campanilismo yakni keterikatan keanggotaan masyarakat dengan sebuah ruang. Sebuah afinitas yang tak melulu soal fisik, tapi lebih menyangkut psikologis.

Maka tidak mengherankan jika para basis suporter fanatik Livorno atau yang biasa disebut ultras ini mendapat ruang istimewa untuk terus bersuara. Sejumlah kelompok ultras Livorno mulai dari Magenta, Fedayn, Sbandati, Gruppo Autonomo, hingga yang terbesar Brigate Autonome Livornesi (BAL) bisa dengan leluasa untuk terus menjadi Stadion Armando Picchi sebagai ruang untuk berpolitik. 

Stadion ini juga jadi ruang untuk BAL dan basis suporter Livorno lainnya untuk terus menyanyikan 'Bella Ciao'. Ini jadi chant heroik untuk terus mengobarkan semangat perlawanan pada kaum kapitalis dan borjuis. Bella Ciao sendiri merupakan lagu rakyat Italia saat perjuangan melawan Benito Mussolini.

Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment