Profil Pelatih di Grup A Piala AFF 2018, Siapa Berpeluang Dipecundangi Bima Sakti?



Perhelatan Piala AFF 2018 akan segara dimulai. Ajang bergengsi antar negara di kawasan Asia Tenggara ini akan mulai dihelat pada 8 November 2018 mendatang dan berakhir pada 15 Desember 2018. Di pertandingan pertama, Kamboja akan menatang Malaysia di Olympic Stadium, Phnom Penh, 08 November 2018, pukul 18:30 waktu setempat. 

Perhelatan Piala AFF tahun ini terasa lebih berbeda, pasalnya sejumlah negara peserta memiliki pelatih yang terbilang cukup mumpuni untuk bisa membuat kejutan. Filipina dengan Sven Goran Erikson tentu saja jadi negara yang ditunggu-tunggu penampilannya. Pun dengan timnas kita sendiri, Indonesia di bawah besutan Bima Sakti. 

Publik sepakbola Indonesia tentu akan menanti seberapa tangguh Bima menggantikan peran seorang Luis Milla yang diputus kontraknya secara kontroversial oleh PSSI.  Jika melihat dari pembagian grup, Bima Sakti akan melewati dua hadangan pelatih berlatarbelakang Eropa. Tentu saja ada nama Sven Goran Erikson di situ, serta pelatih Thailand, Milovan Rajevac. 

Tak hanya dua pelatih ini, sejumlah negara lain juga memiliki pelatih dengan curriculum vitae tidak sembarangan. Berikut profil pelatih peserta Piala AFF 2018: 

1. Sven-Goran Eriksson

Pasca ditunjuk jadi pelatih Timnas Filipina pada 27 Oktober 2018 lalu, nama Sven Goran Eriksson langsung membuat ngeri publik sepakbola nasional. Bagaimana tidak, ia bukan pelatih kemarin sore. Rekam jejaknya membuat ia layak disebut sebagai salah satu pelatih hebat di dunia. 

Pria kelahiran Sunne, Swedia 70 tahun silam itu mengawali karier kepelatihannya dengan menukangi klub kecil Liga Swedia, Degerfors IF pada 1977. Namanya kemudian mulai dikenal publik sepakbola Eropa saat menjadi pelatih di Benfica pada periode 1982 hingga 1984. 

Memberikan 5 gelar untuk Benfica serta menjadi runner up Piala UEFA dan Piala Super Eropa, mantan full back kanan tersebut pindah ke Serie A dan melatih AS Roma. Di Serie A, Eriksson memiliki masa-masa indah. Bersama klub Serie A lainnya Sampdoria dan Lazio, Eriksson dianggap sebagai pelatih bertangan dingin yang memiliki taktik jitu serta nilai filosofi kepelatihan yang kuat. 

Menariknya, nilai filosofi kepelatihan Eriksson justru sangat terpengaruh dengan dua nama pelatih besar Inggris, Bobby Houghton dan Roy Hodgson. Hal ini dikarenakan di awal karier kepelatihannya, Eriksson cukup banyak mendapat ilmu dari seorang Tord Grip, pelatih Swedia yang sangat menerapkan pola kepelatihan Inggris. 

Eriksson ialah tipikal pelatih yang sangat setia dengan formasi 4-4-2 yang sangat kaku. Pengaruh Anglo-Saxon tak bisa dilepas dari Eriksson selama karier kepelatihannya. Nilai kesetian yang dipegang Eriksson inilah yang membawanya menjadi pelatih asing pertama yang melatih Timnas Inggris. 

Namun justru dengan kondisi itulah peluang seorang Bima Sakti untuk mempecundangi Filipina terbuka lebar. Bagaimana pun juga sebelum ditunjuk jadi pelatih Filipina, ia adalah pelatih gagal yang dipecat dari tim kasta kedua Liga China. 

Keengganan Eriksson untuk merevolusi taktik dan gaya bermainnya disinyalir membuat Shenzhen mendepaknya dari kursi pelatih. Dengan hanya mengandalkan taktik kaku yang sudah usang, Bima Sakti cukup berpeluang untuk mengatasinya. Ditunjang secara skill, kualitas pemain Filipina tak terlalu jauh dibanding pemain Timnas Indonesia. 

2. Milovan Rajevac

Selanjutnya ada pelatih Thailand berpaspor Serbia, Milovan Rajevac. Pria 64 tahun ini ditunjuk sebagai pelatih Thailand pada 26 April 2017 lalu. Butuh waktu 1 bulan bagi federasi Thailand untuk akhirnya menyetujui Rajevac sebagai pelatih Timnas Thailand. Padahal Rajevac bukan pelatih sembarangan. 

Bahkan kabarnya federasi Thailand, meminta Rajevac memberikan rencana strategi dan program jangka panjangnya untuk Timnas Thailand sebelum resmi ditunjuk sebagai pelatih. Rajevac sendiri memiliki lisensi kepelatihan FIFA, ia juga lulusan dari Universitas Belgrade yang artinya ia memiliki kemampuan akademis dalam urusan taktik. 

Selain itu, sebelum jadi pelatih Rajevac juga mantan bek untuk sejumlah klub di Liga Serbia seperti Red Star Belgrade, serta sempat bermain di Liga Amerika Serikat bersama New York Arrows. Hampir sama dengan Eriksson, Rajevac juga pelatih di Piala AFF yang sempat membawa anak asuhnya ke ajang Piala Dunia. 

Saat menangani Ghana, tim asal Afrika itu dibawanya berkompetisi di Piala Dunia 2010. Ghana mampu ia bawa sampai ke babak ke perempatfinal sebelum dikalahkan Uruguay lewat laga dramatis. Sebagai seorang pelatih berlatar belakang kawasan Balkan, Rajevac tentu memiliki nilai filosofis tersendiri. 

Ia mampu mengkombinasikan antara kekuatan fisik pemain dan formasi yang tak kaku. Di Thailand, Rajevac sudah terbukti menerapkan gaya kepelatihan yang seperti itu. Pemain Thailand yang memang sudah terasah secara skill semakin terasah kemampuannya. 

Timnas kita di era Antun 'Toni' Pogacknik pernah merasakan hebatnya pelatih asal Balkan. Pogacknik saat itu lebih menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan dalam bereaksi. Ini menjadi solusi untuk postur tubuh pemain kita. 

Dibanding Eriksson, Rajevac-lah yang justru menjadi batu sandungan untuk Timnas Indonesia. Bukan semata karena rekor jelek Indonesia jika bertemu Thailand namun lebih kepada pola bermain mereka dibawah Rajevac, utamanya soal sprint-sprint kejut atau jarak pendek yang bisa merusak skema permainan timnas. 

3. Fandi Ahmad

Pertemuan antara Fandi Ahmad dari Singapura dengan Bima Sakti tentu menjadi reuni bagi keduanya. Pasalnya saat masih menjadi pemain, kedua pemain ini beberapa kali pernah bertemu di lapangan hijau. Fandi Ahmad ialah legenda hidup sepakbola Singapura, sama halnya dengan Bima Sakti. 

Mantan pemain yang berposisi sebagai gelandang serang serta bisa ditempatkan sebagai striker ini pada era 90-an ialah pemain yang cukup ditakuti oleh Aples Tecuari atau barisan bek timnas lainnya. Fandi Ahmad juga bukan orang asing di sepakbola Indonesia. 

Pada 1982 hingga 1983, ia sempat tercatat membela klub legendaris Niac Mitra. Dari klub Niac Mitra inilah, Fandi kemudian terbang ke Belanda dan membela Groningen. Di Groningen, Fandi bukan pemain lapis kedua. Ia jadi andalan untuk Groningen, bermain sebanyak 36 kali, Fandi mampu menciptakan 11 gol. 

Pria yang menikahi model asal Afrika Selatan, Wendy Jacobs ini juga tercatat pernah merasakan ketatnya kompetisi di Liga Indonesia saat berprofesi sebagai pelatih. Setelah memutuskan pensiun pada 1999, Fandi tercatat jadi pelatih untuk klub Pelita Raya pada periode 2006 hingga 2010. 

Fandi ditunjuk jadi pelatih Singapura pada awal 2018 ini. Pertemuannya dengan Bima Sakti pada 09 November 2018 tentu akan jadi pertemuan yang menarik. Rekam jejaknya sebagai striker tentu akan membuat Fandi lebih menginstruksikan pemainnya untuk tampil menyerang, namun bagi Bima Sakti yang berpengalaman untuk mengawal Fandi saat bertemu di lapangan hijau, pasti sudah memiliki solusi jitu di lini tengah untuk meredam taktik tersebut. 

4. Norio Tsukitate

Timor Leste jadi negara terlemah di grup A Piala AFF 2018. Namun eks provinsi Indonesia ini memiliki seorang pelatih yang wajib diwaspadai yakni Norio Tsukitate. Pelatih asal Jepang ini bukanlah orang baru di sepakbola Timor Leste. 

Pada 2013, eks pemain Nagoya Grampus ini sempat ditunjuk untuk menjadi pelatih Timnas Timor Leste U-19. Hasilnya cukup lumayan, Timor Leste mampu ia bawa menjadi juara ketiga di ajang AFF U-19 2013. Tsukitate dibuat tak berkutik oleh Indra Sjafri di babak semifinal pada ajang itu. Dua gol dari Ilham Udin dan Muhammad Hargianto membuat Timor Leste gagal melangkah ke final. 

Hebatnya di perebutan tempat ketiga, Timor Leste mampu mengalahkan Laos dengan skor cukup telak 4-2. Kemenangan Timor Leste ini mengantarkan Tsukitate di tahun berikutnya ditunjuk sebagai pelatih Laos. Federasi Laos cukup terkesan dengan gaya kepelatihan Tsukitate yang memfokuskan pada pemain muda. 

Tsukitate memang pelatih yang memiliki latar belakang sebagai pelatih yang fokus pada pemain muda. Sebelum menangani Timor Lester U-19, selama 3 tahun, Tsukitate tercatat menjadi pelatih untuk tim junior Shimizu S-Pulse, salah satu klub raksasa Liga Jepang. 

Lepas dari Laos, Tsukitate kemudian kembali menangani tim muda. Kali ini ia ditunjuk sebagai pelatih Timnas perempuan Bangladesh U-16. Tsukitate kembali mampu menorehkan prestasi di tim muda ini. Timnas U-16 Bangladesh mampu ia antarkan ke babak semifinal ajang SAFF Women's Championship 2014. 

Melihat track record seperti ini, sosok Tsukitate tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi skuat Timor Leste yang main di ajang Piala AFF 2018 mayoritas ialah pemain muda, dan itu menjadi spesialis bagi seorang Tsukitate. 


Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment