Konser Guns N' Roses di Stadion GBK dan Suara Penolakan


Grup rock dunia, Guns N' Roses dijadwalkan akan menggelar konsernya di Stadion Gelora Bung Karno pada Kamis, 08 November 2018, ini jadi konser kedua bagi grup band yang diawaki Axl Rose, Bumblefoot, Richard Fortus, Tommy Stinson, DJ Ashba, Frank Ferrer, Dizzy Reed, serta Chris Pitman setelah pada 2012 lalu. 

Hampir sama pada periode 2012 lalu, konser Guns N' Roses tahun ini kembali menghadirkan sedikit polemik soal penolakan menggunakan Stadion GBK sebagai tempat konser. Suara itu tentu saja datang dari sejumlah suporter yang beranggapan harusnya Stadion GBK hanya digunakan untuk event olahraga saja. 

Segelintir suara yang menolak konser Guns N' Roses di GBK juga datang dari sejumlah suporter Persija Jakarta atau Jakmania. Mereka beranggapan bahwa harusnya pengelola GBK bisa menjadikan stadion ini sebagai home base klub kesayangan mereka. 

Sekedar informasi, Persija Jakarta saat ini tengah memburu titel gelar juara Liga 1 2018 dan bakal melakoni 4 partai kandang. Sayangnya hingga saat ini, Persija masih harus menjadi tim musafir karena tak bisa menggunakan Stadion GBK. Besar kemungkinan, 4 laga kandang Persija akan dijalani di Stadion Wibawa Mukti, Bekasi, Jawa Barat. 

Sejumlah suporter merasa bahwa konser Guns N' Roses akan membuat rumput stadion menjadi rusak dan itu tentu saja bakal merugikan untuk tim atau timnas yang bakal menggunakan stadion itu. Apalagi Timnas Indonesia pada 13 November 2018 bakal menggunakan stadion ini pada pertandingan melawan Timor Lester di ajang Piala AFF 2018. 

Ada juga sejumlah alasan yang sepertinya tidak masuk akal dan sekedar hanya rasa kesal karena tim kesayangan mereka belum jua mendapat stadion seperti janji manis Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. 

Tentu saja penggunaan stadion sebagai tempat konser musik menjadi hal biasa dan wajar. Apalagi untuk band selegendaris Guns N' Roses, stadion dengan kapasitas besar sangat dibutuhkan untuk menampung penggemar mereka yang banyak. 

Di luar negeri, penggunaan stadion untuk jadi tempat konser sudah hal yang tak asing. Stadion kebanggan orang Inggris, Stadion Wembley misalnya. Stadion yang memiliki julukan The Home of Football sudah menjadi lokasi konser langganan musisi dunia mulai dari Metalica, Coldplay, Green Day, Madonna, Oasis, hingga Adele. 

Bahkan konser Adele pada Juni 2017 lalu memecahkan rekor penonton di Wembley yakni 98 ribu orang, jumlah ini mengalahkan rekor penonton terbanyak Wembley yang sebelumnya dipegang oleh laga Cardiff vs Portsmouth pada 17 Mei 2008 yang hanya ditonton 89.874 orang. 

Artiya jik ada argumen bahwa pertandingan sepakbola atau olahraga ialah satu-satunya sumber pendapatan berlimpah dari sebuah stadion terbantahkan. Bagaimana dengan pendapat bahwa rumput stadion akan rusak jika dijadikan sebagai tempat konser? 

Anggapan itu mungkin ada benarnya, namun terlalu kuno. Pasalnya pengelola stadion memiliki teknologi tersendiri untuk melindungi rumput stadion dari kerusakan saat konser musik berlangsung. Pihak GBK sendiri dalam rilis mereka sudah menjawab kekhawtiran itu dengan penggunaan grass cover untuk melindungi rumput stadion. 

Apa itu grass cover? grass cover merupakab pelindung bagi rumput stadion dari kelebihan abrasi karena beban yang tinggi dari puluhan ribu orang di sebuah konser atau acara lainnya. Pelindung ini memiliki pori-pori yang cukup untuk sirkulasi cahaya, air, serta oksigen sehingga tak membuat rumput stadion terganggu pertumbuhannya saat ribuan orang jingkrak-jingkrak menonton konser musik di stadion. 

Penggunaan grass cover ini juga pernah dilakukan oleh pengelola GBK sasat stadion ini juga digunakan sebagai tempat konser One Direction beberapa tahun lalu dan mendapat penolakan karena dua hari setelah konser grup boyband tersebut Timnas Indonesia bertanding di kualifikasi Piala Asia U-23 2016. 

Penggunaan grass cover oleh pihak pengelola GBK pun sudah tepat, hal itu merujuk pada aturan FIFA soal fungsi lain dari sebuah stadion. Soal aturan FIFA mengenai fungsi lain dari sebuah stadion lebih lengkapnya bisa lihat disini. https://www.scribd.com/doc/100501692/FIFA-Football-Stadiums-Technical-recommendation-and-requirements-5th-edition

Jika merujuk pada Football Stadiums: Technical Recommendation dan Requirements soal fungsi lain dari stadion, suporter bisa saja melakukan penolakan jika stadion digunakan tak pada tempatnya. Namun hal itu dikarenakan pihak pengelola tak memiliki sumber daya lebih untuk bisa menjaga rumput dan fasilitas stadion. 

Hal tersebut pernah dilakukan sejumlah suporter di Rembang pada 2017 lalu. Barisan suporter PSIR Rembang saat itu melakukan penolakan kepada konser musik grup band Netral di Stadion Krida Rembang. Menurut sejumlah suporter PSIR, mereka memperhatikan betul kondisi rumput Stadion Krida jika sampai digunakan untuk tempat konser musik rock.

"Rumput Stadion Krida harus dijaga karena kompetisi Liga 2 belum selesai," kata salah satu suporter seperti dikutip dari kbr,id  

Suara-suara penolakan Stadion GBK untuk konser musik Guns N'Roses pada hakikatnya hanyalah bentuk rasa sayang yang sedikit berlebihan dan tak memiliki pengetahuan lebih. Wajar jika ada suara penolakan mengingat stadion ini ialah ikon bagi bangsa ini. 

Stadion ini dalam perkembangannya menjadi saksi bisu perjalanan sejarah negara ini. Stadion ini juga menjadi penyejuk dan penyemangat tidak hanya bagi warga Jakarta tapi warga Indonesia pada umumnya. Stadion GBK misalnya menjadi penyejuk bagi kondisi perpolitikan bangsa ini pasca peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 atau yang biasa kita sebut peristiwa Malari. 

Saat itu kota Jakarta diguncang rusuh yang berawal dari demonstrasi mahasiswa terkait kebijakan politik dan ekonomi pemerintah Soeharto. Dikutip dari Antara, saat rusuh terjadi tercatat 11 orang meninggal dunia, 177 luka berat, 120 luka ringan, dan 775 orang diciduk aparat keamanan.

Jakarta membara usai rusuh tersebut, penangkapan sejumlah orang yang dicurigai terlibat Malari terus berlangsung setelah rusuh mereda. Kesejukan kemudian tercipta di Jakarta saat Stadion GBK menjadi tempat berlangsungnya laga persahabatan antara Timnas Indonesia dengan juara Piala Dunia 1930 dan 1950, Uruguay.

Rasa sejuk benar-benar terasa usai laga yang berlangsung pada 19 April 1974 itu berakhir untuk kemenangan Timnas Indonesia. Menariknya Timnas bukanlah lawan yang pertama dituju Uruguay, saat itu mereka lebih memilih untuk melawan Australia. Namun berkat usulan dari federasi sepakbola Australia, Uruguay pun bersedia melawan Timnas yang berakhir jadi aib untuk mereka.

Hal sama juga bisa berlaku untuk konser Guns N'Roses, konser ini bisa jadi penyemangat bagi bangsa ini untuk terus berkarya dalam wadah kebangsaan. Penyemangat untuk melawan bibit perpecahan bangsa ini, dan meyakinkan dii bahwa sebagai satu kesatuan, kita ada negara yang hebat. Hadirnya musisi sekelas Guns N'Roses ialah bentuk penghargaan orang luar negeri akan fasilitas berkualitas yang ada di negara ini. 

“Venue-nya fantastis, bersih dan indah. Kita sudah lihat venuenya dan sangat bersenang-senang. Mereka nggak sabar untuk konser,” kata Ron Chamberlain selaku GNR Production Manager seperti dikutip dari tribunnews.com

Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment