Kala Pesepakbola Dunia "Kehabisan Nafas" di Stadion Hernando Siles



Stadion merupakan salah satu faktor penting bagi tim sepakbola yang tak memiliki kapasitas pemain mumpuni untuk bisa meraih hasil maksimal. Dukungan suporter di dalam stadion akan jadi teror bagi tim lawan. Selain itu letak stadion bisa juga jadi faktor pelemah tim lawan yang akan bertandang. 

01 April 2009, Tim Tango Argentina yang kala itu dilatih oleh legenda hidup mereka, Diego Armando Maradona bersiap untuk menjalani laga tandang di babak kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Selatan. Maradona yang biasanya sesumbar timnya akan mampu meraih hasil bagus untuk laga kali ini memilih untuk menyimpan kata-katanya. 

Publik tentu saja sudah menduga bahwa Maradona dan skuat Argentina kala itu merasa laga itu akan sangat berat mereka jalani. Argentina harus melakoni laga di salah satu stadion tertinggi di dunia miliki Bolivia, Stadion Hernando Siles. Jauh-jauh hari keberadaan stadion ini sebagai markas Timnas Bolivia sudah dikritik oleh banyak pihak. 

Stadion Hernando Siles akan menjadi 'neraka' bagi para pemain. Bagaimana tidak, stadion yang dibangun pada 1931 tersebut memiliki ketinggian 3637 meter di atas permukaan laut. FIFA sebenarnya sudah sempat mengeluarkan aturan terkait hal ini pada 2007. FIFA saat itu melarang negara menggunakan stadion yang memiliki ketinggian di atas 2500 meter di atas permukaan laut untuk menggelar pertandingan babak kualifikasi Piala Dunia. 

Sontak saja aturan tersebut kemudian mendapat banyak tentangan dari sejumlah negara. Bagi Bolivia dan sejumlah negara yang memiliki stadion di atas 2500 meter di atas permukaan laut kondisi tersebut bisa jadi cara paling ampuh untuk membuat permainan tim lawan jadi berantakan. Faktanya memang beberapa tim yang menjajal Bolivia di stadion ini harus menerima kekalahan pahit. 

Begitu juga dengan skuat Tim Tango pada April 2009 tersebut. Argentina merasakan kekalahan terbesar mereka atas Bolivia semenjak kedua bertanding sejak 1926, Lionel Messi cs kala itu dihantam 1-6. Dari segi permainan, Argentina memang sangat kedodoran meladeni Bolivia. 

Para pemain Argentina seperti 'kehabisan nafas' untuk bisa mengatur skema serangan. Konsentrasi para pemain terpecah, umpan-umpan berjalan tak semestinya, sementara para pemain Bolivia terlihat nyaman bertanding. Umpan satu dua antar pemain Bolivia terjalin dengan sempurna, adu sprint antar pemain Bolivia dengan Argentina di sektor sayap pun sukses dimenangkan oleh tim yang kala itu dilatih oleh Erwin Sanchez. 

2017, Argentina kembali melawat ke stadion ini, hasilnya tetap saja minor meski gol yang tercipta lebih sedikit. Argentina kalah dua gol tanpa balas pada 28 Maret 2017. Angel Di Maria, Angle Correa, hingga Enzo Perez dibuat tak berkutik meladeni permainan Bolivia di Hernando Siles. Menakjubkan bukan! 

Bagi orang Bolivia, Stadion Hernando Siles merupakan senjatan mematikan untuk timnas mereka mengalahkan para tim tamu. Nama stadion ini sendiri diambil dari mendiang Presiden Bolivia yang ke-31, ayah dari sang arsitek Emilio Villanueva, Jose Gabino Villanueva memiliki kedekatan tersendiri memang dengan Siles saat masih menjabat sebagai presiden. 

Sebagai negara yang terletak di dataran tinggi, pemilihan lokasi Stadion Hernando Siles tentu bukan karena faktor kesengajaan untuk membuat tim lawan menjadi kalah. Bagi suporter Bolivia, ketinggai stadion yang mencapai 3637 meter di atas permukaan laut adalah hal biasa, pasalnya tempat tinggal mereka pun rata-rata memiliki ketinggian 3000 meter di atas permukaan laut. 

Untuk bisa mencapai stadion ini, para turis tinggal menyusuri jalan sepanjang 1,5 km dari Plaza Mayor, salah satu pusat bersejarah di kota La Paz menuju kawasan Miraflores. Sepanjang jalan menyusuri kawasan Miraflores, para turis akan disajikan pemandangan indah kawasan pegunungan Andez yang terkenal. 

Selain itu sepanjang jalan menuju kawasan Miraflores yang jadi lokasi Stadion Hernando Siles, para turis akan dimanjakan dengan banyaknya tempat-tempat hiburan malam serta restoran yang siap menyajikan berbagi makanan khas orang Bolivia seperti chuno (sejenis kentang beku) atau chicharron (daging babi kering) yang disajikan bir jagung atau chicha. 

Dikutip dari stadiumguide.com, perjalanan ke stadion ini dari Plaza Mayor memakan waktu 30 menit menggunakan transportasi umum seperti bus atau taksi. Jurnalis asal Inggris, Peter Burt menceritakan kisahnya saat bertandang ke Stadion Hernando Siles. 

Burt datang saat Club Bolivar, klub yang menjadikan Stadion Hernando Siles sebagai markas tengah menjamu Universitaria de Quito dalam lanjutan Liga Bolivia. Suasana stadion malam itu digambarkan oleh Burt seperti lazimnya stadion-stadion di seluruh dunia. 

Suara dukungan suporter membahana di tiap sudut stadion, para suporter tak merasa terganggu dengan posisi stadion. Suara mereka kara Burt terus nyaring selama 2x45 menit. "Sepertinya efek ketinggian tidak terlalu berpengaruh untuk para suporter. Mereka tak kesulitan untuk bernafas," kata Burt yang saat itu duduk membelakangi area Curva Sur, basis suporter fanatik Club Bolivar. 

Menariknya menurut Burt, bukan ketinggian yang membuatnya merasa tak nyaman berada di stadion ini namun barisan para aparat keamanan yang menenteng senjata laras panjang dengan wajah tak bersahabat. "Saya membayar 6,60 poundsterling untuk tiket dan kemudian harus bertemu para aparat bersenjata yang begitu mengerikan," tulis Burt di inbedwithmaradona.com

Sebagai negara termiskin di dunia, pertandingan sepakbola di Bolivia memang cukup rentan terjadinya aksi kriminalitas. Maka tak heran sebenarnya jika di tiap pertandingan akan selalu muncul para aparat keamanan yang sudah berpakain siap tempur. Ini jadi salah satu ciri khas dari pertandingan sepakbola di kawasan Amerika Selatan. 

Dikisahkan lagi oleh Burt, di dalam stadion para suporter Club Bolivar memiliki cara tersendiri untuk saling melekatkan. Burt melihat sebagian para suporter yang berasal dari kelompok Curva Norte saling berbagi makanan dan minuman. "Makanan dan minuman begitu melimpah. Ada sandwich, jelly, hingga kopi panas yang akan diserbu para suporter di waktu istirahat babak pertama," 

Stadion Hernando Siles merupakan keunikan yang memang jadi 'senjata' ampuh bagi Bolivia membungkam para lawan-lawannya. Meski stadion ini dianggap tak memenuhi standar menurut mereka yang tinggal di Eropa, stadion ini adalah rumah bagi mereka untuk terus bertahan sebagai satu entitas sepakbola dunia. 

Membuat Stadon Hernando Siles tak boleh lagi digunakan dengan alasan-pesepakbola dunia tak bisa bernafas secara normal saat bertanding di sana merupakan tindakan tak elok. Pasalnya ini adalah keindahan dari budaya sepakbola dunia, mereka yang hadir seharusnya bisa beradaptasi dengan budaya tersebut tanpa harus menghilangkannya. 



Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 Comments:

Post a Comment