Benarkah Penggabungan Perserikatan dan Galatama Jadi Biang Masalah ?


Kompetisi Perserikatan yang bergulir di Indonesia sejak 1931 dianggap banyak kalangan sebagai kawah candradimuka persepakbolaan di negeri ini. Era Perserikatan merupakan era terbaik sepakbola Indonesia, sejumlah gelar bergengsi sukses diraih oleh timnas. Tidak hanya itu, di level pemain dan klub, Indonesia dianggap sebagai Macan Asia oleh negara-negara lain. 

Kompetisi Perserikatan merupakan kompetisi sepakbola yang berlangsung rutin di tiap daerah, nantinya hasil dari kompetisi antar daerah tersebut berujung pada penyeleksian kepada pemain yang akan memperkuat tim untuk pertandingan antar kota. 

Saringan yang begitu ketat dari kompetisi di pelosok daerah hingga bisa memperkuat satu tim kota menjadikan era Perserikatan melahirkan bibit-bibit handal sepakbola. Mereka bukan sekedar pemain yang unggul dalam skill namun memiliki mental serta semangat kuat untuk memberikan hasil terbaik di lapangan hijau. 

Sebelum Indonesia merdeka seperti dikutip dari data fourfourtwo, Solo dan Jakarta menjadi kota yang paling mendominasi gelar juara di era Perserikatan. Jakarta saat itu diwakili oleh tim Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ), cikal bakal Persija Jakarta, sedangkan Solo diwakili oleh Vorstenlandsche Voetbal Bond, cikal bakal Persis Solo. Bandung, Surabaya, Semarang serta Yogyakarta sempat nyempil untuk menaklukkan dominasi dua kota tersebut di era Perserikatan. 

Namun setelah Indonesia merdeka dan negeri ini mengalami pasang surut politik, era Perserikatan kemudian mengalami momentum tak mengenakkan saat harus dilebur menjadi satu dengan Galatama, kompetisi yang terselenggara pada 1979. Perserikatan yang dianggap sebagai kompetisi amatir harus dilebur dengan Galatama yang dirancang sebagai kompetisi sepakbola semiprofesional. 

Azwar Anas yang saat itu menjadi Ketum PSSI tak mempedulikan suara-suara sumbang yang tak menyetujui dileburnya Perserikatan dengan Galatama. Sejumlah rumor berkembang saat itu, publik menganggap PSSI dibawah kepemimpinan Azwar Anas hanya malu karena Liga Galatama yang mereka buat tak mendapat apresiasi dari publik sepakbola. Publik masih lebih banyak menonton pertandingan Perserikatan dibanding Galatama. 

Sebenarnya hal itu menjadi wajar, seperti disebutkan di awal bahwa Perserikatan merupakan kompetisi yang berlangsung rutin di tiap daerah, dan seperti yang kita tahu bahwa bicara militansi sepakbola daerah, suporter Indonesia adalah juaranya, pembentukan Galatama tak melihat faktor budaya tersebut. 

Tak bisa dipungkiri memang bahwa Galatama juga jadi bagian manis dari perkembangan sepakbola Indonesia. Kompetisi Galatama bahkan seperti dilansir dari panditfootball jadi panutan untuk Jepang membentuk kompetisi sepakbola. Sayangnya, penggabungan Perserikatan dan Galatama pun memiliki dampak yang sangat signifikan dan berbuntut panjang bahkan hingga sampai saat ini. 

Salah satu dampak yang sangat terasa dari penggabungan Perserikatan dan Galatama ialah soal kompetensi di daerah yang berlangsung rutin serta komersialisasi sepakbola yang belum pada waktunya. Semenjak era Galatama berlangsung, pelosok daerah jadi sepi kompetisi sepakbola, ini dianggap jadi sumber masalah pembinaan sepakbola Indonesia sampai sekarang. 

Belum lagi soal komersialisasi yang belum pada waktunya dirasakan insan sepakbola Indonesia ketika penggabungan Galatama dan Perserikatan. Sejumlah kasus suap muncul di era Galatama, kasus yang saat ini seperti sudah jadi rahasia umum di Liga Indonesia. Di era Perserikatan memang sempat juga terjadi kasus suap yang buat geger seperti kasus suap 1962, namun di era Galatama di tahun awal terbentuknya saja sudah muncul kasus pengaturan skor laga Perkesa 78 lawan Buana Putra pada 1979. 

Hal itu tentu saja dikarenakan belum mampunya para insan sepakbola yang duduk di pengurus klub untuk bisa menopang klub tanpa ada bantuan dana lagi dari pemerintah daerah. Mau tak mau, bandar judi jadi salah satu sumber dana untuk bisa menjalankan roda klub sepakbola. Di titik inilah sumber penyakit sepakbola Indonesia terus menggerogoti hingga sekarang.  

Pertanyaannya kemudian apakah memang tepat mengatakan jika peleburan dua kompetisi tersebut menjadi pangkal masalah sepakbola di negeri ini? 

Jawabannya bisa iya namun bisa juga tidak. Iya jadi pangkal masalah karena kemudian para pejabat PSSI di era Azwar Anas tak mampu melihat dimensi lain dari kejayaan sepakbola era Perserikatan. Mereka gagal meniru semangat para pendahulu yang membentuk PSSI dan mengadakan kompetisi Perserikatan. 

PSSI yang berdiri setahun sebelum era Perserikatan saat itu pun diisi oleh orang-orang berwawasan visioner dan bukan orang yang menggunakan sepakbola sebagai tempat mencari popularitas, batu loncatan jabatan, atau memperkaya diri. Para pengurus PSSI kala itu adalah orang-orang yang mampu menerjemahkan kegelisahan masyarakat terjajah dengan menghadirkan sepakbola sebagai salah satu wadah perjuangan. 


Maka tak mengherankan semangat yang dihadirkan era Perserikatan ialah semangat untuk membebaskan diri dari belunggu penjajah. Sepakbola jadi alat untuk mengatakan kepada dunia bahwa Indonesia masih ada. Semangat ini yang kemudian tak diserap dengan betul-betul dari penggabungan Galatama dan Perserikatan. 

Akan tetapi jawabannya pun bisa tidak, karena kemudian penggabungan Galatama dan Perserikatan mampu membawa sepakbola negeri ini ke arah yang lebih maju dari sebelumnya. Dari era amatir menuju semi profesional, dan sekarang profesional. 

Para pengurus PSSI di era penggabungan Galatama dan Perserikatan memiliki mimpi agar klub Indonesia mampu setara dengan klub Eropa yang sumber dananya tak lagi ditopang oleh pemerintah daerah. PSSI di era itu menganggap sudah saatnya klub tinggal landas menuju era profesional, di mana klub mampu menghidupi diri mereka sendiri. Harapan terakhirnya tentu saja membuat Timnas Indonesia memiliki pasokan pemain berkualitas. 

Kesimpulannya baik era Perserikatan, atau era penggabungan Galatama dan Perserikatan masih memiliki hal positif, kemudian jadi negatif lebih dikarenakan ketidakmampuan para individu. Sistem yang dibangun sudah tepat, sayangnya individu yang menjalankan terlalu abai. 

Kondisi ini sangat jauh berbeda jika melihat pengurus PSSI di era-era setelah itu. Mereka yang hadir dan menduduki posisi penting di federasi atau klub ialah residu dari permasalahan yang muncul di penggabungan Perserikatan dan Galatama. Alih-alih membentulkan, mereka malah nyaman dengan kondisi tersebut akiibatnya sistem tak jelas, individunya apalagi, jadi seperti inilah wajah sepakbola Indonesia sekarang. 
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 Comments:

Post a Comment