Baduy FC, Pertarungan dengan Hukum Adat Demi Cita-cita ke Pentas Nasional


Urang Kanekes atau orang Baduy merupakan salah satu masyarakat adat yang ada di Indonesia. Mereka bertempat tinggal di desa Kanekes, Banten, Jawa Barat, Indonesia.
Sebagai salah satu masyarakat adat, orang Baduy memiliki norma dan aturan tersendiri yang berbeda dari masyarakat kebanyakan. Norma dan aturan yang membuat mereka seperti ‘termarjinalkan’ dibanding dengan masyarakat lainnya.
Seiring perkembangan zaman, sejumlah aturan dan norma di Baduy coba dikendurkan, salah satunya ialah soal hobi anak muda suku Baduy bermain sepakbola. Sepakbola sebenernya bukan aturan khusus di norma suku Baduy yang dilarang namun ada hal lain diluar sepakbola yang membuat olahraga paling populer di dunia ini dilarang dimainkan.
Meski begitu berkat perjuangan segelintir orang Baduy luar dan orang diluar suku Baduy berdirilah klub Baduy FC, klub sepakbola yang bermaterikan pemuda-pemuda asli suku Baduy.
Bagaimana klub ini bisa berdiri, apa visi misi klub ini ke depannya, serta bagaimana klub ini bertahan di tengah himpitan aturan adat?
Awal berdiri
Andi S Trisnahadi ialah salah satu orang dibalik berdirinya klub Baduy FC pada April 2015 lalu. Saat dihubungi, Andi mengatakan asal mula ia bisa mendirikan klub sepakbola ini,
“Saya sudah berteman sudah cukup lama dengan orang-orang Baduy. Ada fenomena menarik di 2012 lalu saat di Baduy mulai banyak anak-anak dan pemuda Baduy yang bermain sepakbola,” kata Andi.
Andi menambahkan dari sekedar hobi semata, orang Baduy yang suka bermain sepakbola ini kemudian membuat klub-klub kecil untuk menyalurkan hobi merkea tersebut.
“Klub-klub ini sering main tarkam dengan klub lain yang berasal dari desa-desa di luar Baduy. Namun negatifnya dari tarkam ini kemudian sering kejadian bentrok antara warga,” kata Andi.
Sejumlah tetua-tetua adat Baduy pun sempat melarang namun kata Andi ada keinginan kuat dari para pemuda ini untuk terus bisa mengolah si kulit bundar. Atas dasar itu, pada akhirnya Andi dan sejumlah suku baduy luar coba menampung apresiasi para pemuda ini dan membuat klub bernama Baduy FC.
“Keinginan mereka untuk bermain bola sangat kuat. Di Baduy itu, pakaian sehari-hari mereka selain Jamang Sangsang (pakaian adat suku Baduy) ialah jersey klub sepakbola,” kata Andi.
Setelah berdiri, lantas apa yang dilakukan manajemen Baduy FC. Andi selaku manajer klub menyebutkan bahwa mereka membangun platform yang kuat untuk membuat klub ini menjadi klub profesional.
“Langkah pertama kami tentu saja mendaftarkan klub ini ke PSSI prov Banten. Klub ini harus diakui terlebih dahulu. Setelah itu, kami tengah berupaya mendekati beberapa pihak seperti sponsor dan lembaga negara terkait untuk membuat kami kuat,” kata Andi.
Maklum saja, salah satu permasalahan klub ini ialah persoalan finansial. Selama ini perputaran klub didanai oleh dana urunan dari manajemen klub.
“Bahkan saat kami didatangi salah satu media di Jakarta, kami mendapat bantuan jersey untuk anak-anak berlatih. Mereka semua sangat senang dan bersemangat untuk terus gapai mimpi main di level nasional,” kata Andi.
Andi menyebut selama ini mereka berlatih dengan hanya mengandalkan 3 bola yang sudah usang serta peralatan seadanya.
“Kami tidak patah arang, kabar terbaru kami baru mendapat apresiasi dari Badan Olahraga Profesional (BOPI). Mereka sangat perhatian kepada kami, saya sempat diundang ke Jakarta untuk bertemu mereka. BOPI menjanjikan akan membantu kami dalam banyak hal, termasuk dalam hal koneksi ke pihak sponsor,” kata Andi.
Di luar itu, skuat Baduy FC pun tiap harinya saat ini fokus untuk terus berlatih sepakbola. Salah satu fokus perhatian dalam latihan ialah soal mengasah skill mereka bermain sepakbola.
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 Comments:

Post a Comment