9 Tahun Lalu Kekalutan Buat Seorang Robert Enke Mengambil Jalan Pintas



10 November 2009 jadi momen paling kelabu untuk seorang Terese Enke, ibu dua orang putri cantik, Lara dan Leila ini harus menerima kenyataan pahit sang suami, Robert Enke memilih untuk mengambil jalan pintas, bunuh diri akibat depresi. 

Bagi pencinta sepakbola Jerman, nama Robert Enke tentu sudah tak asing lagi. Ia adalah salah satu kiper kawakan dari Jerman yang memiliki jam terbang cukup tinggi. Berkarier sejak 1995, Enke tercatat sempat membela Borussia M├Ânchengladbach, Benfica, Barcelona, Fenerbahce, serta Hannover 96. 288 caps total dijalani Enke selama kariernya. 

Namun sayangnya aksinya mengawal gawang tak membuat kehidupannya baik-baik saja. Enke memilih menabrakan dirinya ke

 kereta api yang sedang melaju kencang. Apa yang membuat Enke begitu terpuruk sampai harus mengambil keputusan untuk bunuh diri? 

Penyebabnya ialah depresi berkepanjangan setelah ia memutuskan untuk pindah ke Barcelona dari Benfica pada 2002. Enke gagal beradaptasi dengan iklim sepakbola di La Liga Spanyol. Enke yang di Benfica mengantongi 77 caps, tiba di Nou Camp dan bertahan hingga 2004 hanya 1 kali dimainkan sebagai starting line up. Itu pun di pertandingan melawan tim kasta ketiga Liga Spanyol, Novelda di ajang Copa Del Rey. 

Di debut pertamanya tersebut, Enke bernasib naas. Barcelona kalah 2-3 dari Novelda, dan ia pun langsung mendapat kritik pedas dari rekan satu timnya, Frank de Boer. Di depan awak media, de Boer mengatakan bahwa ada sejumlah pemain di Barcelona yang tak paham bermain sepakbola. 

"Saya punya perasaan bahwa kiper bisa saja melakukan kesalahan dari pada penyelamatan," kata de Boer saat itu. Tak haya de Boer, pelatih Barcelona saat itu, Louis van Gaal pun sangat berang kepada Enke. Pernyataan van Gaal pun tak kalah pedasnya dengan de Boer. 

Sejak saat itu, Enke berada di titik terendah dalam kariernya. Enke sempat kembali turun di laga Barcelona melawan Osasuna di ajang La Liga sebagai pemain pengganti, dan lagi-lagi Enke tak bermain maksimal. Ia kebobolan 2 gol dan Barca hanya meraih imbang 2-2. 

Pihak klub pun terpaksa memberikan opsi kepada Enke jadi pemain pinjaman di klub lain. Di 2013, ia terbang ke Turki dan membela Fenerbache. Sayang niat klub agar Enke bisa meningkatkan skillnya tak tercapai. Di klub Turki ini, Enke hanya 1 kali dimainkan. Masih sedikit percaya kepada Enke, pihak klub lantas meminjamkan Enke ke Tenerife pada 2004. 

Setelah 9 kali bermain untuk Tenerife, Enke memutuskan untuk pulang kampung ke Jerman. Masa-masa sulit di Nou Camp ternyata tak jua terhapus dari bayang-bayang seorang Enke. Jurnalis Jerman,  Ronald Reng yang menulis buku biografi kiper kelahiran 24 Agustus 1977 tersebut mengatakan Enke gagal menerjemahkan dengan baik konsep sepakbola Spanyol yang memainkan bola dari kaki ke kaki mulai dari seorang kiper. 

Enke gagal memenuhi ekpektasi publik Nou Camp bahwa ia lihai untuk memainkan skema serangan dari bawah mistar. Enke memang terlahir sebagai kiper klasik yang tugasnya menyelamatkan gawang saja. Ia bukan seorang Manuel Neuer yang berani untuk keluar dari sarangnya. 

Depresi pada pesepakbola memang jadi permasalahan tersendiri. Faktornya banyak, bisa seperti yang dialami Enke, atau kebanyakan karena faktor cedera yang tak kunjung sembuh. Karenanya kemudian tak mengherankan banyak kasus atlet atau pesepakbola kemudian jadi pecandu alkohol atau malah pengguna narkotika. 

Bahkan yang lebih parahnya menurut penelitian dari Eugene MD dkk di journals.lww.com depresi yang menyerang para atlet mulai menyerang atlet berusia muda. Para atlet ini berdasar laporan tersebut memiliki tingkat kerentanan untuk terserang depresi cukup tinggi, beban untuk jadi atlet hebat jadi salah satu faktor utamanya. 

Namun kemudian setelah berhasil mencapai titik terbaik di kariernya, depresi kembali menyerang karena keinginan untuk terus jadi yang terbaik. Enke terserang pada depresi pada titik ini. Namun pertanyaannya apakah di kasus Enke, tim dokter dari tim terakhir yang ia bela Hannover 96 tidak bisa mendeteksi hal tersebut? 

Psikolog olahraga dari University of Michigan, Scott Goldman menyebut depresi pada atlet sulit diketahui karena gejalanya tidak semenonjol seperti pada kebanyakan orang. Atlet cenderung menyembunyikan keadaannya atau bahkan tidak sadar bahwa dirinya sedang mengalami depresi.

Kasus Enke jadi pelajaran bersama bagi insan olahraga di seluruh dunia bahwa menjadi atlet atau pesepakbola bukan semata jadi yang terbaik, namun juga bagaimana mengelola emosi saat meraih kekalahan, kemenangan, kejayaan, dan keterpurukan dengan tepat. 

Nama Enke sendiri saat ini diabadikan menjadi salah satu jalan di Hannover, Jerman. Selain itu, nama Enke juga menjadi sebuah yayasan yang dibentuk untuk mendampingi para atlet saat terkena depresi. 

Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment