Tabloid Bola, Dari Laporan Langsung Rayana Djakasurya Hingga Artikel Bermutu Gus Dur


26 Oktober 2018 nanti akan menjadi edisi terakhir salah satu tabloid yang menjadi inspirasi banyak orang, termasuk saya untuk menjadi atau menyukai sepakbola dan olahraga, tabloid BOLA. Lebih jauh tabloid Bola bahkan menjerumuskan saya untuk bekerja menjadi kuli tinta. 

Meski tak pernah berhasil bekerja di kawah candradimuka bagi para jurnalis olahraga hebat tersebut, tabloid Bola jadi media pembelajaran bagi saya belajar untuk merangkai kata menjadi laporan olahraga yang menarik minat baca. 

Saya masih ingat betul saat harus mengumpulkan uang dari ongkos sekolah agar bisa membeli edisi tabloid Bola yang terbit di hari Jumat tiap minggunya. Kalau uang tidak terkumpul, saya sangat mengharapkan kakak yang membeli. Kebetulan kakak saya penggemar Juventus dan ingin selalu mengupdate berita terkait tim Nyonya Tua tersebut. 



Waktu itu loper koran di tempat tinggal saya berlokasi cukup jauh. Paling tidak harus menggunakan angkutan umum untuk sampai ke tempat loper koran, ongkosnya 500 perak. Uang segitu tentu sangat berarti, jadi lebih sering saya berjalan kaki untuk sampai ke tempat loper koran. Sampai akhirnya ayah saya sempat menjadi loper koran di depan rumah karena melihat kesukaan anak-anaknya membeli tabloid Bola. 

Tiap halaman yang tersaji di tabloid Bola ialah kenangan. Utamanya bagi kakak yang begitu gandrung dengan laporan dari seorang jurnalis hebat, Rayana Djasurya. Laporan langsung dari Italia memang jadi ulasan yang akan selalu dilahap oleh kakak saya. 

Laporan bung Ray begitu menggigit, renyah, dan jadi bekal berguna bagi anak-anak zaman itu jika sedang berkumpul dengan kawan-kawan membahas sepakbola. Kami jadi paham dan mengerti deretan wasit di Serie A, mulai dari si galak Pierluigi Colina, hingga Stefano Braschi. 

Bung Ray juga menyajikan laporan yang tidak melulu soal taktik pertandingan di Serie A namun di luar 2x45 menit acapkali jadi materi tulisan di kolom khusus tersebut. Dari gosip seputar pemain, hingga yang paling menarik tentu saja laporan bung Ray jika sudah mendekati bursa transfer. 

Saya yang lebih suka dengan laporan dari Liga Inggris bahkan sampai terhipnotis dengan materi-materi di Serie A hingga jadi mendalami dan membacanya sampai tuntas. Saya menjadi tahu soal kelemahan dan keburukan Juventus misalnya di satu pertandingan saat masih dilatih oleh Marcello Lippi. Bahan untuk membuat kakak saya marah besar saat berdiskusi tentang sepakbola. 

Sampai pada akhirnya saat bekerja menjadi seorang kuli tinta, saya menemukan literasi yang memaparkan seorang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ternyata juga pernah menuliskan artikel sepakbola di tabloid Bola. Tokoh yang saya kagumi ini ternyata memiliki sisi lain yang tak semua anak pada generasi saya mengetahuinya. 

Gus Dur cukup banyak menghasilkan karya di Bola yang saat itu masih disisipkan menjadi bagian dari Harian Kompas. Sejumlah artikelnya begitu menarik perhatian banyak pembaca seperti artikel berjudul, Piala Eropa lebih sangar, lebih berat dari Piala Dunia. Di dalam artikel tersebut, Gus Dur memaparkan soal perbedaan kualitas tim dari Eropa dan non Eropa di ajang Piala Dunia. 

"Kualitas tim peserta putaran-final di Piala Eropa lebih teruji, lebih merata, dan persaingan yang muncul begitu ketat, tajam," tulis Gus Dur di Tabloid Bola, April 1994 seperti dikutip dari kompas.com 

Bahkan dengan kemampuan analisisnya Gus Dur pada 1994 mampu memprediksi adanya kebangkitan dari tim Asia di kancah sepakbola Internasional. Gus Dur menyebut Korsel sebagai negara dari Asia yang akan mengguncang panggung sepakbola dunia. Prediksi itu menjadi kenyataan saat Piala Dunia 2002 dihelat. 

Seperti saya sebut di awal tabloid Bola memang kawah candradimuka bagi banyak orang hebar di negeri ini, sayang saya kemudian hanya merasakan ilmu itu seperti kebayakan orang lain dengan hanya membaca artikel bermutu yang disajikan. Selamat jalan Bola, terima kasih untuk semua ilmu dan kenangan ini. 

Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment