Sisi Lain Stadion Olimpico yang Begitu Kelam


Stadion Olimpico di kota Roma, Italia merupakan salah satu termegah di Eropa. Bagi publik Italia, stadion berkapasitas 72 ribu tempat duduk ini merupakan juga jadi salah satu simbol kejayaan sepakbola Italia. Menurut sejarahnya stadion yang dibangun pada 1928 ini menghelat sejumlah laga penting nan bersejarah. 

Seperti saat Italia untuk pertama kalinya meraih trofi Piala Euro 1968. Stadion Olimpico pada tahun itu menjadi saksi saat Azzurri melibas Yugoslavia di partai final dengan skor meyakinkan 2-0. Stadion ini juga menjadi tempat saat salah satu raksasa Serie A, Juventus berhasil meraih gelar Liga Champions pada musim 1996 setelah di partai final mengalahkan wakil Belanda, Ajax Amsterdam lewat drama adu penalti. 

Namun tak sedikit juga stadion ini menjadi sanksi kenangan pahit sejumlah negara dan klub lain, tak terkecuali AS Roma, tim yang bermarkas di stadion ini. AS Roma harus merasakan malu di depan para pendukungnya sendiri saat kalah dari Liverpool di drama adu penalti di laga final Piala UEFA 1984. 

Juventus juga merasakan kenangan pahit di stadion ini setelah di laga final Piala Dunia Antarklub 1973, mereka menyerah 0-1 dari wakil Argentina, Independiente. Di level negara, stadion ini mungkin jadi tempat paling buruk untuk dikenang oleh Diego Maradona cs di skuat Argentina Piala Dunia 1990. Pasalnya di stadion ini, tim Tango menyerah di partai final dari Jerman Barat lewat gol tunggal Andreas Brehme pada menit ke-85. 

Namun kenangan pahit itu sebelum seberapa jika merasakan para korban kekejaman fasis pemerintah Italia saat masih dipimpin oleh Benito Mussolini. Bagi para korban fasis pemerintahan Mussolini, Stadion Olimpico akan membangkitkan kenangan pahit mereka. 

Ya, Stadion Olimpico memiliki sejarah yang begitu kelam jika kita menarik diri ke masa Italia dibawah kekuasaan diktator Mussolini. Stadion Olimpico sendiri memang dibangun 6 tahun setelah Mussolini menjambat sebagai perdana menteri ke-27 saat Italia masih menjadi monarki. 

Bagi para korban, stadion ini memiliki banyak ikon fasis yang begitu menyayat hati mereka. Di sejumlah sudut di stadion ini misalnya masih ditemui patung-patung marmer setinggi lima belas kaki yang menggambarkan atlet Italia dengan penggambaran sempurna. 

Bagi para korban, ini bukan sekedar patung semata. Di masa pemerintahan Mussolini, penggambaran orang Italia yang sempurna seperti di patung tersebut menimbulkan banyak korban tewas akibat pola pikir sempit fasis tersebut. Patung dan obelisk yang masih berdiri kokoh di sejumlah sudut Stadion Olimpico dianggap sebagai 'Mussolini Dux', sebuah tiang pancang yang menyimbolkan kekuasaan dari seorang Mussolini. 

Tidak sekedar patung dan obelisk, Stadion Olimpico yang awalnya bernama Stadio dei Cipressi ini dirancang dengan gaya fasis yang khas, stadion ini terinspirasi dengan bangunan-banganan Kekaisaran Romawi yang khas. Arsitek dari stadion ini pun dikenal sebagai orang yang memiliki pemikiran fasis, Enrico Del Debbio dan dilanjutkan oleh Luigi Moretti. 

Pada awal dibangunnya Olimpico, stadion ini kerap disebut Foro Mussolini yang berarti sebuah forum (plaza), alun-alun, atau tempat berkumpul yang merujuk pada bangunan kuno di era Romawi kuno. Bagi Mussolini penamaan itu menjadi penting untuk mendorong ajaran fasis bisa diterima oleh orang Italia dengan mengangkat romantisme era Romawi kuno. 

Saat Mussolini berkuasa, sepertinya rekannya Hitler di Jerman, ia juga menggunakan olahraga khususnya sepakbola dan stadion sebagai simbol propaganda pemikiran mereka. Rezim Mussolini memeluk olahraga khusus sepakbola dengan menanamkan semangat fasisme yang dibalut dengan cinta tanah air. 

Sejumlah surat kabar Italia di era itu juga sering mengangkat berita soal bagaimana Mussolini tengah berkuda, berenang, dan bermain tenis. Ini hanya pencitraan semata, itu semua hanyalah koregorafi fasis yang dipopulerkan Mussolini, cara-cara yang mirip dengan Hitler di Jerman. 

Di lapangan hijau, Mussolini memang sukses mengantarkan zaman keemasan bagi sepakbola Italia. Ia berhasil membuat Timnas Italia sukses meraih gelar Piala Dunia back to back, 1934 dan 1938. Kemenangan di Piala Dunia ini jadi alat propaganda ajaran fasis Mussolini. 

Namun peran Mussolini demi bisa Azzurri meraih kejayaan kabarnya dilakukannya dengan cara-cara kotor. Penggawa Timnas Italia 1938 misalnya mengaku dapat ancaman menyeramkan bahwa mereka wajib meraih gelar Piala Dunia 1938 yang berlangsung di Italia. Jika sampai gagal, ancaman kematian harus mereka tanggung. 

“Italia sebagaimana rekan-rekan Jerman mereka, tak ingin gagal di lapangan sepakbola maupun medan perang,” ungkap Phil Ball dalam Morbo: The Story of Spanish Football.

Stadion Olimpico, Roma kemudian tidak hanya jadi satu-satunya simbol ajaran fasis Mussolini, sejumlah stadion lain di penjuru Italia kemudian dibangun untuk proyek mercusuar ini. Ada Stadion Olimpico Grande Torino atau Stadion Mussolini di Turin, Stadion Renato Dall'Ara di Bologna, Stadion della Vittoria di Bari, Stadion Artemio Franchi, markas Fiorentina, hingga stadion yang berlokasi di kota yang mayoritas penduduknya pro pada ajaran komunisme, Livorno, Stadio Armando Picchi. 

Menurut sejarawan asal Inggris, John Foot, sejarah stadion di Italia pada akhirnya bermuara pada satu kesimpulan bahwa kemajuan ekonomi dan sepakbola di Italia tak bisa dilepaskan dari ajaran fasis Mussolini. "Ini menunjukkan kekuatan industri Italia yang benar-benar dikuasai oleh fasis. Mereka sukses melakukan itu," kata Foot seperti dikutip dari gazzetta.it

Meski kemudian saat pemerintah fasis runtuh dan Mussolini kemudian dieksekusi di gang sempit bernama Via XXIV Maggio, Stadion Olimpico tetap menjadi warisan ajaran fasis yang masih bertahan. Publik Italia kemudian coba menggerusnya dengan tidak lagi menempatkan sejumlah simbol fasis ini sebagai kemegahan dan kejayaan Olimpico. 

Kini Olimpico menjadi stadion modern di era sepakbola industri yang memiliki banyak fasilitas yang disesuaikan fungsinya sebagai olahraga bukan sebagai penyebaran ajaran fasis. 
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment