Sinyal Bahaya Sebelum Laga Babak 8 Besar Liga 2 Digulirkan



Laga babak 8 besar Liga 2 akan bergulir pada 24 Oktober 2018. Melalui halaman resminya, PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) sudah membagi 8 tim yang lolos menjadi 2 grup. Grup A diisi oleh Semen Padang, PS Mojokerto Putra, Aceh United FC, dan Kalteng Putra. Sedangkan grup B diisi oleh PSS Sleman, Persita Tangerang, Madura FC, dan Persiraja Banda Aceh. 

Sebelum laga Liga 2 ini digulirkan sinyal bahaya sudah dibunyikan oleh salah satu akun Facebook yang sudah cukup lama menyampaikan dugaan adanya permainan jual beli pertandingan dan jual beli posisi di Liga 2 demi mendapat tiket promosi ke Liga 1. Akun Facebook Cocomeo Cocomeo bagi pecinta Liga Indonesia tentu sudah tak asing, akun ini cukup sering menyampaikan temuan investigasinya tentang bobroknya tata pengelolaan Liga Indonesia. 

Di postingan terbarunya, akun ini menyampaikan pesan kepada Kapolri Tito Karnavian untuk segera menangkap salah satu tokoh sepakbola Indonesia, Vigit Waluyo sebelum bergulirnya babak 8 besar Liga 2. 

"Oleh sebab itu, sebelum ini bakalan terjadi, mBah Coco berharap kepada Yth Bapak Kapolri, Jenderal Pol. Tito Karnavian beserta jajarannya, segera tangkap saja, sosok “the new GodFather” suap menyuap di Indonesia, yang bernama Vigit Waluyo. Sosok ini, sepertinya sangat licik bak seperti belut.

Bayangkan, kasusnya yang terlibat di PDAM Delta Tirta Sidoarjo, sudah divonis 1.6 bulan, dan sudah sah diketok palu oleh Mahkamah Agung, November 2017 lalu. Nyatanya, sampai Oktober 2018 ini, Vigit masih bisa bernapas di udara segar. Dan, kini masih sangat doyan mengutak-atik, komposisi klub-klub peserta Liga 1 dan Liga 2.

Vigit Waluyo adalah mantan pemilik Deltras Sidoarjo. Dia adalah anaknya Mislan, pemilik Gelora Dewata, Bali yang hijrah ke Sidoarjo tahun 90-an. Sepak terjangnya semakin dahsyat. Bahkan, di lingkungan sepak bola nasional, kiprahnya sangat menakutkan bagi pemilik klub-klub seolah-olah gurem di Indonesia." tulis akun Facebook Cocomeo Cocomeo. 

Dari postingan akun Cocomeo Cocomeo, tentu bagi publik yang tak awam sepakbola bertanya-tanya, siapa Vigit Waluyo? Mengapa ia sampai dijuluki 'the new GodFather'? 

Vigiti Waluyo merupakan seorang penguasaha asal Jawa Timur yang sudah cukup lama berkecimpung di sepakbola nasional. Vigit merupakan anak dari tokoh sepakbola era 80-an, HM Mislan. HM Mislan merupakan pendiri klub era Galatama, Gelora Dewata, selain itu pada musim 1985/1986, Mislan menjabat sebagai manajer Persebaya Surabaya, serta sempat menjadi Ketua Umum Yayasan Arema. 

Pria yang bertitel Insinyur tersebut tercatat pernah menjadi manajer di sejumlah tim gurem seperti Persiwangi Banyuwangi, PSIR Rembang, ia juga disebut-sebut sebagai orang di belakang layar terciptanya dualisme di Persebaya Surabaya. Vigit juga disebut-sebut turut andil mengubah klub Perseba Super Bangkalan menjadi PBFC.  

Vigit sendiri pada 2017 sempat jadi sorotan publik karena klubnya, PS Mojokerto Putra yang sekarang lolos ke babak 8 besar Liga 2 mendapat sponsor dari sebuah produk jas hujan. Bukan produk jas hujan sembarangan, produk ini milik dari  dua putra orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi), yaitu Kaesang Pangarep dan Gibran Rakabuming. 

Di perhelatan Liga 2 2017, tim PS Mojokerto Putra turun dengan jersey bertuliskan, 'Tugas Negara Bos', tagline dari produk jas hujan tersebut. Vigit mengaku bahwa ia memang mengirimkan proposal kerjasama setelah melihat produk ini menjadi viral di Medsos,  “Kami tidak tahu pertimbangan pihak sponsor, singkatnya tawaran kerja sama kita diterima,” ungkap penasihat PSMP, Vigit Waluyo seperti dikutip dari ngopibareng.id 

Vigit bahkan menceritakan bahwa ia bersama jajaran PS Mojokerto Putra sempat bertemu langsung dengan putra Jokowi, Kaesang Pangarep. “Jika tim ini bisa meraih prestasi, tentu sponsor manapun senang. Jadi itu yang sekarang berusaha kami wujudkan, biar tim ini bisa lebih dikenal dan ke depan makin banyak sponsor yang datang,” harap Vigit. 

Menariknya nama Vigit kemudian kembali jadi buah bibir setidaknya di kalangan masyarakat Jawa Timur saat Kajari Sidoarjo pada Oktober 2017 akan segera mengeksekusi Vigit Waluyo pada kasus Korupsi dana PDAM yang terjadi pada 2010 silam. 

Koran Jawa Pos tertanggal 28 Oktober 2017 menurunkan artikel yang berjudul 'Selangkah Lagi Eksekusi Vigit'. Di dalam artikel tersebut, Vigit berdasar putusan MA sudah divonis pidana penjara 1 tahun 6 bulan penjara serta membayar denda Rp 50 juta. Seharusnya putusan ini sudah dijalankan sejak 06 Oktober 2016 silam lalu namun salinan keputusan entah mengapa tidak sampai kepada pihak terkait. 

"Tapi, saat itu, salinan tidak langsung diserahkan ke para pihak terkait. Alasannya, juru sita yang menangani kasus tersebut berpindah tugas ke Pengadilan Negeri (PN) Gresik," tulis Jawa Pos. 

Di dalam putusan Mahkamah Agung nomor 127/Pid.Sus/2011/PN.Sby, Vigit pada 12 Agustus 2010 yang menjabat sebagai pengelola PS Deltras mengajukan permohonan pinjaman dana sementara untuk Deltras kepada PDAM sebesar Rp 3 miliar. Nantinya dana tersebut akan dikembalikan pada akhir bulan November 2010. 

Permohonan dana pinjaman tersebut kemudian disetujui oleh Ketua PDAM Sidoarjo saat itu, Dajayadi tanpa izin tertulis dari Bupati Sidoarjo. Dayadi bersama Vigit kemudian meneken surat perjanjian dengan nomor : 690/78/404.10.1/VIII/2010 yang pada pokoknya tentang pemberian pinjaman dari PDAM ”DELTA TIRTA” kepada PS. DELTRAS Sidoarjo sebesar Rp. 3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah), dengan bunga pinjaman sebesar 6 % setahun 

Peminjaman dana besar itu disertai dengan jaminan, diantaranya, Surat Pernyataan Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo, Surat Pernyataan Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo sebagai Ketua Tim Anggaran, tanggal 10 Agustus 2010, dan 4 (empat) buah sertifikat Tanah Hak Bangunan di Kelurahan Pagesangan Surabaya
No.281, 283, 295 dan 296. 

Uang itu kemudian diterima Vigit sebanyak 3 tahap, pertama pada 16 Agustus 2010 melalui Bank BPD sebesar Rp 1 miliar, pada 18 Agustus 2010 lewat bank yang sama dengan nilai Rp 1 miliar, dan terakhir pada 19 Agustus 2010 lewat Bank BRI. 

Namun dalam putusan MA disebutkan bahwa dana itu oleh Vigit ternyata tidak dimasukkan kedalam pembukuan PS Deltras. "Bahwa dana pinjaman sebesar Rp. 3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) tersebut setelah diterima oleh saksi Ir. VIGIT WALUYO tidak dimasukkan kedalam pembukuan PS DELTRAS namun telah habis untuk membayar hutang-hutang Deltras, Gaji Pemain dan akomodasi pemain" tulis putusan MA tersebut. 

Paparan tersebut sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh akun Cocomeo cocomeo. Yang lebih menarik lagi, akun ini juga memaparkan soal cara main Vigit di Liga Indonesia. 

"Bagaimana caranya, Vigit Waluyo sebagai “the new GodFather” ini bisa sukses? Menurut investigasi mBah Coco, Vigit punya kaki tangan yang mengatur wasit, dari orang dalam anggota EXCO PSSI. mBah Coco berani menyebut namanya Nasrul Koto, yang bekerjasama dengan EXCO yang membawahi Komisi Wasit PSSI. Nasrul Koto, adalah mantan sayak kanan, tim nasional Indonesia, saat meraih medali emas SEA Games 1987. Ada sekitar 10 wasit yang sudah disiapkan memimpin pertandingan “8 Besar” minggu depan.

Kini, sepertinya lima (5) klub anggota Liga 2 yang lolos “8 Besar”, sudah pasti dikelola Vigit Waluyo. Konsep otak “the new GodFather” ini sangat sederhana. Siapa yang bisa membayar lebih mahal dibandingkan lainnya, dialah yang akan lolos promosi Liga 1 ?. Tebakan mBah Coco, dari lima klub yang dikelola Vigit, yang peluangnya sangat besar, adalah PS Mojokerto Putra (MP). Mengapa ? Karena, pemilik aslinya adalah Vigit Valuyo.

Berarti ada dua klub lagi, yang berlomba-lomba ingin lolos ke Liga 1 musim mendatang. Siapa yang paling mahal membayar Vigit Waluyo, klub itulah yang akan mendampingi PS Mojokerto Putra ?

Padahal, jika menganut klub profesional yang sesuai standart AFC, seharusnya stadion Gajahmada, Mojosongo – Mojokerto yang berkapasitas 10 ribu ini, tidak layak sebagai stadion yang ikut dalam Liga 1. Namun, baik PSSI maupun LIB sepertinya “tutup mata”. Dalam sepak bola modern, dengan kapasitas 10 ribu, mana pernah bisa untung, jika dikaitkan sebagai industri. Lha wong, yang punya stadion berkapasitas 30 ribu saja, pusing tujuh keliling, selalu rugi dan “buntung”, apalagi cuman 10 ribu penonton." tulis akun ini. 

Apakah pernyataan akun ini sekedar isapan jempol semata, serta tudingan tak berdasar, tentu saja semua pihak wajib untuk menelusurinya jika memang ingin sepakbola Indonesia menjadi lebih maju. Soal sepak terjang Vigit juga sempat diulas oleh akun Twitter, Footballnesia pada 2013 lalu. Akun ini mengulas hal yang tak jauh berbeda dengan Cocomeo cocomeo. 

"Siapakah Vigit Waluyo? Vigit Waluyo adalah mafia bola top di Jatim, segaris dgn Haruna Sumitro, La Nyalla, dan Wastomi Suhari" kicau akun Footballnesia. 
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment