Pesepakbola Era 90-an Bakal Bawa Era Baru di Sepakbola

Mantan striker gagal Juventus, Thierry Henry seperti dinukil dari mirror.co.uk resmi menjadi pelatih anyar untuk tim dari Ligue 1, AS Monaco. Kabar ini langsung menjadi trending topic di jagat Twitter. 

Resminya Henry jadi pelatih untuk AS Monaco semakin menandakan era baru untuk para pesepakbola dari era 90-an. Henry menambah daftar panjang sejumlah mantan pemain 90-an yang kini alih profesi sebagai pelatih. 

Sejumlah teman seangkatan Henry, seperti Steven Gerrard, Frank Lampard, Ole Gunnar Solskjaer sudah mulai menjadi pelatih di musim ini. Bahkan nama-nama yang juga beken di era 90-an seperti Didier Deschamps, Pep Guardiola, Luis Enrique, Antonio Conte, Filippo Inzaghi, Zinadine Zidane, Gennaro Gattuso lebih dulu memulai kariernya sebagai seorang pelatih. 



Makin banyaknya eks pemain 90-an yang alih profesi sebagai seorang pelatih juga akan membawa energi baru di sepakbola. Seperti yang kita ketahui, di era 90-an, sejumlah pihak menganggap bahwa era tersebut ialah era terbaik jagat sepakbola. 

Tak berlebihan memang faktanya sejumlah eks pemain 90-an yang kini jadi pelatih mampu membawa kejayaan untuk klub yang mereka asuh. Nama Zidane tentu bisa dikedepankan. Ia bukan sekedar pelatih yang 'terjangkit' pola kepelatihan kuno karena dididik oleh pelatih generasi 70 dan 80-an, Zidane mampu beradaptasi dengan perkembangan sepakbola saat ini dan membawa Real Madrid jadi sangat perkasa. 

Pun dengan nama pelatih Manchester City, Pep Guardiola. Ia mampu menciptakan formula anyar di sepakbola tiki taka. Konsep para mantan pemain 90-an yang jadi pelatih ini begitu kaya. Mereka mampu mengkombinasikan ilmu yang didapat saat masih jadi pemain dengan kondisi kekinian. Tak heran sebenarnya jika sejumlah dari generasi tua kesulitan jika berhadapa dengan taktik para pelatih jebolan sepakbola 90-an ini. 

Kalahnya Manchester United dari Derby County yang diasuh oleh Frank Lampard jadi salah satu bukti. Jose Mourinho yang mendapat ilmu kepelatihan dari pelatih gaek Sir Bobby Robson sepertinya kesulitan untuk bisa mengimbangi dan membongkar taktik dari Lampard di Derby. 

Kekalahan Red Devils atas Derby County itu bukan semata karena kondisi internal Manchester United yang tengah rapuh, namun juga di persoalan taktik The Spesial One yang sepertinya sudah tergerus zaman. 

Sejumlah pihak sudah menunding soal taktik Mou yang sudah usang tersebut. Eks striker Chelsea, Chris Sutton yang sekarang jadi komentator sepakbola menagtakan harus ada perubahan taktik dan filosofi dari Mourinho jika masih ingin bertahan sebagai seorang pelatih hebat.  Taktik dan filosofi bermain kekinian inilah yang diusung oleh mantan pemain era 90-an saat menjadi pelatih. 

Kemenangan Prancis di Piala Dunia 2018 pun sebenarnya sudah menandakan era baru di sepabola. Prancis yang dilatih oleh eks pemain Juventus, Didier Deschamps sukses memberikan taktik dan filosofi bermain yang berbeda dan kekinian. 

Publik tentu masih ingat bagaimana Deschamps saat perhelatan Piala Dunia 2018 tetap ngotot memainkan sosok  Olivier Giroud meski si pemian tak mencetak sebiji gol. Bagi Deschamps, ini adalah persoalan taktiknya sebagai pelatih yang tak bisa diganggu gugat oleh siapapun. 

Eddward S Kennedy di tirto.id menuliskan Deschamps memainkan Giroud sebagai seorang defensive forward. "Peran defensive forward menjadi krusial dalam hal ini. Selain harus lihai dalam melakukan pressing maupun melakukan man-to-man marking terhadap salah satu pemain tengah atau pemain belakang lawan, seorang defensive forward juga harus berani (dan mampu) melakukan pelanggaran ketika memang diperlukan." tulis Eddward. 

Deschamps sadar bahwa sepakbola akan selalu berevolusi dan ia mampu menjalankan hal tersebut, begitu juga dengan Giroud. “Dia penting dalam gaya permainan kami dan kami membutuhkan dukungan dari caranya bermain. Tentu bagus jika dia mencetak gol, tapi Olivier selalu murah hati dan tidak mengeluh untuk bekerja lebih keras. Dia mungkin tidak memiliki gaya permainan yang flamboyan, tapi tim membutuhkannya kendati ia tidak mencetak gol.”kata Deschamps. 

Kembali ke soal Henry yang baru jadi pelatih AS Monaco, sosok yang pernah membawa Barcelona meraih gelar Liga Champions ini juga memiliki kemampuan untuk menjelma jadi pelatih hebat. Sebagai seorang mantan pemain, Henry cukup lengkap mendapat ilmu sepakkbola. 

Ia pernah dilatih oleh Pep Guardiola selama dua musim, ia juga pernah merasakan tangan dingin dari Frank Rijkaard, dan tak lupa ia juga kenyang mendapat ilmu dari Si Profesor, Arsene Wenger. Ilmu-ilmu sepakbola dari para pelatih top itu pun tak pernah ia lupakan. Henry misalnya selalu ingat dengan gaya kepelatihan dari Rijkaard saat di Barcelona. 

"Dia akan selalu seperti itu dan menginginkan gelandang bertahannya menempel pemain nomor 10 (playmaker) lawan, sehingga ia dapat menghentikan serangan balik. Ia juga akan membawa kedisiplinan, baik di dalam dan luar lapangan sebagai kunci baginya," kata Henry. 

Semoga saja Thierry Henry mampu meneruskan rekan-rekan seangkatannya yang mampu bertahan dan memunculkan filosofi permainan anyar di era evolusi sepakbola saat ini. Tanpa mengecilkan pelatih yang tak memiliki jam terbang tinggi sebagai seorang pemain seperti Jurgen Klopp atau Thomas Tuchel, kehadiran Henry dengan segudang rekam jejaknya di klub bakal membawa era baru di sepakbola modern saat ini. 
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment