Mewaraskan Suporter Indonesia dari Budaya yang Menghancurkan Fair Play dan Sportifitas



Merujuk pada format KBBI, suporter diartikan sebagai orang yang memberikan dukungan, sokongan, dan sebagainya dalam sebuah pertandingan olahraga. Namun jika lebih dikerucutkan ke pertandingan sepakbola, arti dari suporter dapat kita lihat dari pernyataan Daniel L Wann, penulis buku The Psychology and Social Impact of Fandom. 

Dalam ulasannya Daniel menyebut bahwa suporter merupakan pribadi-pribadi yang aktif secara fisik, politik, dan sosial untuk klub sepakbola tertentu. Artinya peran seorang suporter di klub sepakbola tak sebatas berteriak dan bernyanyi sepanjang 2x45 menit namun bersifat lebih dinamis. 

Mereka jelas secara fisik datang ke stadion untuk memberi dukungan penuh kepada klub yang dicintai, namun juga di lain sisi secara politik suporter bisa memberikan suara saat ada permasalahan di klub tersebut. Lebih jauh secara masif, suporter mampu melakukan gerakan sosial di kala kondisi klub yang mereka cintai tengah dirundung problematika. Kondisi ini sudah sangat sering terjadi di pelbagai negara, termasuk di Indonesia. 

Posisinya yang bersifat dinamis tersebutlah yang kemudian membuat suporter sepakbola memiliki nilai penting sebenarnya untuk pemain dan klub atau dalam bahasa sepakbolanya, mereka ialah pemain ke-12 saat klub bertanding. Bahkan secara lebih luas, peran suporter mampu mengubah arah kebijakan klub, atau bahkan arah kebijakan politik satu federasi sepakbola, bahkan satu negara. 

Fajar Junaedi dalam buku berjudul 'Bonek: Komunitas Suporter Pertama dan Terbesar di Indonesia' menyebut bahwa jika melihat wataknya suporter di Indonesia memiliki watak sosialis, dimana mengutamakan kesetaraan kelas. 

"Sepakbola adalah olahraga yang berwatak sosialis. Sepak bola mengajarkan kesetaraan sebagaimana sosialisme mengajarkan kesetaraan sosial." tulis Fajar Junaedi. 

Karena watak dan sifatnya tersebut suporter harus bisa mawas dan jaga diri terhadap fenomena sosial baik di dalam lapangan ataupun di luar lapangan sepakbola. Semangat fair play dan sportifitas yang sudah menjadi ruh dalam sepakbola tetap harus dijunjung tinggi oleh mereka yang mengaku suporter, baik mereka yang lebih condong ke budaya Ultras atau mereka yang lebih sreg dengan budaya Hooligan. 

Sayangnya jika melihat kondisi suporter Indonesia saat ini muncul satu fenomena baru sebenarnya yang jika dikaitkan dengan ilmu sosiologis sebagai masalah sosial yakni runtuhnya nilai fair play dan sportifitas suporter saat menyikapi masalah yang ada di dalam lapangan dan di luar lapangan. Bahayanya lagi masalah yang sebenarnya murni berada di lapangan sepakbola justru menjadi darurat bagi negara ini saat suporter menyikapinya dengan cara-cara yang tak elegan.

Satu contoh persoalan konflik menahun antara basis kelompok Persija, Jakmania dan Persib, Bobotoh. Konflik yang seharusnya hanya ada di dalam stadion dan tak lebih dari 2x45 menit justru  dengan maraknya kemajuan di sosial media membuat konflik kedua basis suporter ini bisa membahayakan nilai-nilai persatuan dan falsafah bangsa ini, Bhineka Tunggal Ika. 

Mengapa bisa dikatakan demikian? Dikutip dari republika.co.id (09/06/18) konflik kedua basis suporter ini sudah mulai membawa sentimen kedaerahan yang sangat membahayakan. Sentimen kedaerahan sebenarnya tidak hanya dimunculkan oleh konflik kedua basis suporter ini, basis suporter lainnya pun melakukannya, baik di sosial media ataupun saat menonton langsung ke stadion. 

Bahkan di tingkatan yang lebih merusak, sentimen kedaerahan ini berbuntut pada tidak bolehnya satu kelompok mendukung Timnas Indonesia saat bermain di stadion kandang lawannya. Kasus yang dialami sekelompok orang asal Bandung saat laga Timnas Indonesia vs Bahrain di Stadion GBK pada 2011 lalu. Dikutip dari viva.co.id (09/06/18) saat itu, bus yang membawa penonton dari Bandung tersebut diserang massa usai laga. 

"Lo Viking yah? Saya diteriaki Viking, Viking. Akhirnya saya lari kencang, tetapi di tengah jalan saya jatuh dan dipukuli hingga pelipis saya bengkak," kata Robby salah satu korban aksi brutal tersebut. 

Budaya yang dilestarikan 

Konflik suporter sepakbola yang tak kunjung padam dan sudah merembet ke permasalahan lebih luas sebenarnya bisa diantisipasi atau dicegah jika budaya yang salah tak dilestarikan. Semangat tak mau bersikap fair play, tak menjunjung sportifitas dalam tingkatan yang lebih kecil sebenarnya mampu dicegah dengan peran dedengkot para suporter itu sendiri. 

Satu contoh budaya yang sebenarnya bukan budaya suporter sepakbola yakni menyerang kelompok lawan secara diam-diam tanpa alasan yang jelas dan setelah itu kabur. Fenomena yang sangat sering muncul akhir-akhir ini. 

Dikutip dari viva.co.id (09/06/18) pada 25 Mei 2018 lalu suporter Persija, Jakmania mendapat serangan dari orang tak dikenal saat pulang usai menonton laga Persipura vs Persija di Stadion Pakansari, Cibinong, Jawa Barat. 

"Pukul 00.54 WIB, konvoi bus diserang sekelompok orang tak dikenal saat melintas di Kilometer 26, dari Cibinong arah Jakarta. OTK menyerang dari semak-semak pinggir tol." tulis kronologis penyerangan kepad Jakmania. 

Kondisi ini tentu sebenarnya juga salah satu hasil negatif saat sosial media dijadikan sebagai tempat untuk melakukan ujaran kebencian dan permusuhan. Tak bisa dituntaskan secara langsung via sosial media, aplikasinya di lapangan justru menciderai nilai sportifitas itu sendiri. 

Sosial media sebagai alat 

Kemajuan teknologi sebenarnya sudah jauh-jauh hari diprediksi bakal membawa malapetaka untuk kehidupan masyarakat. Di tingkatan suporter, kondisi sosial media justru menjadi alat untuk menumbuhkan benih-benih perpecahan dan permusuhan. 

Postingan-postingan yang dilakukan oleh basis kelompok suporter tertentu justru mendorong terciptanya malapetaka sosial yang lebih besar. Sejumlah kasus yang sebenarnya bukan berasal dari persaingan antar klub sepakbola justru diseret oleh segelintir kelompok suporter sebagai masalah mereka, yang ujungnya sebenarnya bisa berakibat rusaknya nilai-nilai sosial dn persaudaran sesama manusia. 

Kasus pelecehan seksual yang diduga dilakukan seorang pesepakbola terkenal kepada public figure, Via Vallen misalnya. Kasus yang sebenarnya murni bukan soal sepakbola justru dipolitisir oleh sebagian kelompok sebagai konflik baru di tengah masyarakat. 

Ujaran dan postingan yang dilakukan kelompok suporter tertentu kepada Via Vallen lebih banyak mengarah kepada fenomena sosial yang dinamakan bahaya budaya kultus dan matinya empati kepada korban pelecehan seksual. 

Apa yang dilakukan Via Vallen dengan memposting chat dm berbau pelecahan seksual di akun Instagram pribadinya justru diartikan kelompok ini sebagai serangan kepada apa yang mereka cintai. Postingan dari individu-individu tertentu yang sangat kultus ini membuat terciptanya suara kelompok terhadap kasus ini. Pada ujungnya tercipta pemikiran di publik bahwa suporter Indonesia tak memiliki empati. 

Menumbuhkan empati dan mengembalikan ruh suporter

Budaya-budaya negatif tersebut di atas sebenarnya mau tak mau, suka tak suka harus segera dihilangkan dari identias suporter Indonesia saat ini. Bagaimana caranya? Cara yang paling mudah tentu saja dengan kembali menumbuhkan rasa empati dan mengembalikan ruh suporter itu sendiri. 

Ini bisa tercipta jika muncul  pemahaman dan juga kesadaran kolektif yang sifatnya positif dari masing supporter agar tidak melakukan tindakan–tindakan konyol dan vandal, terhadap rivalnya, terlebih lagi terhadap orang yang tidak tahu menahu terhadap persoalan yang sedang dialami. 

Lalu bagiamana menumbuhkan empati, suporter harus sadar bahwa mereka juga manusia dan manusia menurut Robert Herber Mead, seorang sosilog merupakan mahluk yang mengedepankan mind, self, dan society atau bahasa familiarnya ialah akal budi. 

Kesadaran untuk lebih mengedapankan akal budi menjadi penting agar tak melihat sesamanya sebagai benda mati.  Dengan membangun kesadaran tersebut, basis suporter akan mampu menghilangkan stereotype negatif terhadap kelompok lain. 

Penghilangan stereotype negatif tentu akan berujung pada lunturnya nilai fanatisme sempit. Kelompok suporter harus menyadari bahwa fanatisme sempit sebenarnya terbangun karena rasa ketidakpercayaan diri untuk menghadapi perbedaan secara pikiran, ekspresi dari kelompok lain. Suporter harus sadar bahwa fanatisme merupakan antipola atas civil society karena menolak rasionalitas sebagai landasan kemajemukan ruang publik.  Kondisi yang sebenarnya bukan berasal dari nilai-nilai fair play dan sportifitas di sepakbola. 

Pasalnya menurut William B. Gudykunst, fanatisme yang terus ditumbuhkan dalam ruang lingkup sangat sempit akan membuat kelompok tertentu merasa diancam secara identitas soal dan membuat mereka merasa mau tak mau harus bertempur di dalam kelompok tersebut. Fenomena yang tentu bisa membahayakan nilai-nilai persatuan di NKRI. 
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment