Mengenang Vichai Srivaddhanaprabha



Kejadian tragis terjadi di akhir pekan lalu dalam lanjutan Liga Inggris pekan ke-10. Helikopter pribadi milik bos Leicester City, Vichai Srivaddhanaprabha jatuh dan terbakar tak lepas setelah lepas landas dari Stadion King Power usai pertandingan antara Leicester City vs West Ham yang berakhir 1-1, Sabtu 27 Oktober 2018 waktu setempat. 

Setelah sebelumnya kabar soal keberadaan Vichai Srivaddhanaprabha masih simpang siur, apakah menjadi korban dalam kecelakaan tragis tersebut atau tidak, pihak Leicester City lewat situs resmi mereka akhirnya mengumumkan kabar duka bahwa Vichai Srivaddhanaprabha menjadi korban meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut. 

"Dengan penuh penyesalan dan hati yang terluka, kami mengonfirmasi bahwa chairman kami, Vichai Srivaddhanaprabha, merupakan salah satu dari mereka yang secara tragis kehilangan nyawa pada Sabtu malam ketika helikopter yang membawanya beserta empat orang lain jatuh di luar King Power Stadium. Dari lima orang yang berada di helikopter, tak ada satu pun yang selamat," tulis Leicester City.

Wafatnya Vichai menjadi duka bagi sepakbola Inggris, serta publik Thailand. Vichai merupakan penguasaha sukses kelahiran Bangkok, 04 April 1958. Vichai memulai karier bisnisnya dengan menjalankan bisnis ritel di Bangkok. Bisnis ritel bernama King Power milik Vichai kemudian berkembang dan menjadi yang terbesar di Thailand. 

Meski seorang pengusaha ritel yang sukses, Vichai ternyata sejak dahulu sudah memiliki ketertarikan pada bidang olahraga. Pada 1998, ia menggagas berdirinya Asosiasi Polo Thailand. Perkenalan Vichai pada sepakbola saat perusahaannya menjadi sponsor untuk jersey Leicester City. 

Keberhasilan Vichai membangun bisnis ritelnya dan mulai menjajaki pasar Eropa dengan menjadi sponsor untuk jersey Leicester City membuat ia kemudian pada 2009 diundang oleh Raja Thailand saat itu Bhumibol Adulyadej untuk menghadiri sebuah acara yang ditujukan kepada sejumlah pengusaha dan orang penting di Thailand. 

Setahun setelah acaranya dengan Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej, atau lebih tepatnya pada Agustus 2010, Vichai bersama Konsorsium Asia Football Investments membeli saham mayoritas Leicester City. Ia kemudian menjadi pemilik klub berjuluk The Foxes ini menggantikan Milan Mandaric, penguasaha asal Yugoslavia yang telah menjadi bos Leicester City sejak 2006 tersebut. 

Sebelum menjadi pemilik resmi Leicester City, Vichai di empat tahun pertamanya meminjamkan uang sebesar 100 juta poundsterling untuk menutup hutang Leicester City. Pinjaman ini yang kemudian diubah oleh Vichai menjadi saham dan menjadikannya bos The Foxes. 

Kemampuan Vichai bersama anaknya Aiyawatt menguasai saham mayoritas Leicester City membuat ia menjadi milioner ketiga dari Asia Tenggara yang mampu jadi pemilik klub di Liga Inggris, sebelumnya ada nama Vincent Tan yang sempat menguasai klub Cardiff City, serta Tony Fernandes yang menguasai QPR. 

Namun tidak seperti dua milioner asal Malaysia tersebut, Vichai justru yang paling sukses. Pasalnya Vichai menjadi milioner Asia Tenggara pertama yang mampu membawa klub yang dimiliknya jadi kampium di Liga Inggris. Secara 'ajaib', Leicester City tampil perkasa pada musim 2015/16 dan menjadi juara Liga Inggris untuk kali pertama dalam perjalanan sejarah klub. 

Musim 2015/16 memang jadi tahun-tahun kegemilangan bagi Vichai, The Foxes yang dari awal musim sama sekali tak diprediksi bakal mengangkat trofi mampu membalikkan itu semua. Bermodalkan sejumlah pemain yang di musim itu disebut pemain berbintang 3, serta pelatih berjuluk Mr Runnes-up Claudio Ranieri, Leicester City tampil ganas, semua klub besar semisalnya duo Manchester dibuat tak berkutik. 

Malah sebelum musim 2015/16, sejumlah rumah judi di dunia hanya menempatkan Leicester City di tempat terendah untuk bisa jadi juara Liga Inggris, bayangkan peluangya hanya 5000:1. Tapi Leicester mematahkan kemustahilan tersebut di akhir musim. 

Tak seperti kebanyakan klub di Liga Italia atau Liga Inggris, Vichai bukan sosok bos yang mau ikut campur terlalu dalam untuk urusan taktik. Vichai hanya fokus pada pengembangan bisnis Leicester City semata. Ia misalnya tak terlalu ikut campur saat manajemen klub akhirnya memutuskan meminang Ranieri di musim panas 2015, padahal saat itu santer terdengar sejumlah nama beken lebih difavoritkan untuk jadi pelatih The Foxes seperti Martin O'Neill.

Memiliki klub kecil seperti Leicester City, Vichai mau tak mau harus cerdas mengelola keuangan klub. Ini yang jadi fokus kerja Vichai selama menjadi pemilik. Ia kemudian menjadikan para pemainnya di musim 2015/16 sebagai pemain dengan gaji terkecil di Liga Inggris. 

Anggaran gaji pemain Leicester City saat menjadi juara Liga Inggris jauh di bawah klub lain. Sekedar informasi, di musim 2015/16, Manchester United menjadi klub dengan anggaran gaji terbesar saat itu mencapai 203 juta poundsterling. Kondisi ini tentu membuat pusing Ranieri, pasalnya ia otomatis sama sekali tak bisa mendapatkan pemain berlabel bintang 5. 

Namun Vichai bukan sosok yang pelit, setelah Leicester City dipastikan menjadi juara, ia membelikan semua skuat Leicester City mobil BMW tipe i8. Mobil ini berbandrol 100 ribu poundsterling, total Vichai mengeluarkan dana 2 juta poundsterling untuk 19 pemain Leicester City pada musim itu. Tak hanya itu, ia juga memboyong para skuatnya berlibur ke Las Vegas setelah menjadi juara Liga Inggris. 

Selain itu untuk memanjakan para suporter, Vichai juga sering mentraktir para suporter yang hadir di Stadion King Power dengan bir gratis. Hal ini kemudian membuat ia tidak terlalu dianggap musuh oleh fans saat misalnya mengganti nama stadion Leicester dari Walkers Stadium menjadi King Power Stadium. 

Di luar bidang sepakbola, Vichai juga sosok yang sangat mendukung pada aktifitas riset pada bidang ilmu pendidikan, tak mengherankan jika kemudian ia sempat mendonasikan uang sebesar Rp 19,4 miliar kepada Fakultas Kedokteran Universitas Leicester City. Universitas ini juga pada 2016 menganugrahi Vichai sebagai dokter kehormatan. 

Sayang kemudian, sebelum Vichai meninggal dunia karena kecelakaan helikopter pada akhir pekan lalu, ia sempat jadi sosok kontroversial karena memecat Ranieri. Pemecatan Ranieri pada Februari 2017 membuat gejolak di kalangan supoter Leicester City. Vichai mendapat hujatan dan kritik tajam karena keputusannya yang kontroversial ini. 

"Rasanya seperti ada kesedihan di seluruh kota, banyak yang merasa kehilangan seorang paman terbaik," kata Jason Bourne, wartawan BBC Radio Leicester saat itu. 

Meski dengan kontroversi di akhir hayatnya, sosok Vichai Srivaddhanaprabha akan selalu dikenang sepanjang masa sebagai pria Asia Tenggara yang sukses mengantarkan Leicester City meraih trofi Liga Inggris secara fenomenal.
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment