Lebih Dekat dengan Oscar Romero, Santo Pelindung Kaum Papa



Dalam beberapa hari terakhir ini saya begitu mengagumi pada satu sosok yang sangat terlambat untuk mengetahuinya, Uskup Oscar Romero. Seorang klerus berkedudukan tinggi di Gereja Katolik di El Savador, negara di kawasan Amerika Tengah. 

'Perjumpaan' saya pada Oscar Romero saat membaca artikel Tom Gibb di The Guardian yang berjudul 'The killing of Archbishop Oscar Romero was one of the most notorious crimes of the cold war. Was the CIA to blame?' yang terbit pada 23 Maret 2000 silam. Meski tak fasih-fasih betul berbahasa Inggris, saya mencoba mendalami siapa itu Oscar Romero sampai organisasi seperti CIA diduga menjadi otak pembunuhan pria kelahiran 03 Februari 1977 itu. 

Dari sejumlah referensi yang saya dapat, Oscar Romero merupakan tokoh Katholik yang selalu bersuara lantang terhadap aksi kekerasan dan penindasan kepada kaum papa di negaranya. Sifat dan keteguhan hatinya ini yang membuat ia menemui ajal saat sedang Misa di kapel Rumah Sakit Providensi Ilahi pada 24 Maret 1980. 

Meski Oscar Romero bukanlah tokoh Katholik yang pro pada teologi pembebasan yang banyak disuarakan oleh para rohaniawan di kawasan Amerika Tengah dan Selatan, namun keteguhannya mengikuti ajaran Katolik tentang pembebasan dan opsi prefensial terhadap kaum papa membuat ia memiliki posisi sangat jelas saat terjadi penindasan yang dilakukan rezim penguasa. 

Tentu saja karena sikapnya itu yang membuat gereja pimpinannya harus berhadapan dengan rezim penguasa militer di El Savador yang saat itu begitu kuat mencengkram kaum papa karena mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat. Sikap Oscar Romero yang begitu melawan kepada rezim militer El Savador ini semakin menguat saat rohaniawan Katolik lainnya, Rutilio Grande dibunuh rezim karena memperjuangkan hak tanah para kaum papa. 

Rutilo tewas setelah dibunuh oleh anak buah para penguasa tanah yang begitu dekat dengan rezim militer berkuasa saat itu. Oscar Romero yang menjadi uskup keempat dari Gereja Katolik El Salvador ini bersuara saat kubu pemerintah militer lewat partai Arena mengatakan ke publik bahwa Rutilo Grande menerima akibat terburuk karena berjuang berdasarkan ajaran komunisme. Pernyataan itu mendapat tentangan keras dari Oscar Romero yang menyebut bahwa perjuangan Grande berakar dari iman kepada Yesus Kristus.

Pernyataan inilah yang menjadi babak awal sikap bersebrangan dirinya dengan rezim El Savador kala itu. Ini tentu jadi pilihan yang sangat beresiko terhadap keselamatan dirinya. Namun Oscar Romero tak memperdulikan hal itu, ia tetap bersuara lantang menentang rezim. 

“Ketika Gereja mendengarkan jeritan kaum tertindas, tak bisa lain ia menggugat struktur-struktur sosial yang menyebabkan dan melanggengkan kesengsaraan yang dari dalamnya jeritan itu datang” kata Oscar Romero seperti dikutip dari militanindonesia.org 

Pernyataan ini jelas menyiratkan bahwa ia ingin menyadarkan para jemaatnya bahwa pemerintah harus mendapat gugatan dan kritikan keras akan kondisi terjajah yang mereka alami. Di tiap kesempatan saat melakukan misa, Oscar Romero selalu memasukan materi soal membangun kesadaran tersebut di homilinya. 

“Kristus sedang ‘tersalib’ bersama-sama rakyat El Savador yang menderita dan tertindas. Maka bagi siapapun yang mengimani Kristus, seharusnya merasa terpanggil untuk  membasuh peluh dan darah yang mengucur dari  luka rakyat El Salvador, bagaikan usapan seorang wanita Yerusalem terhadap wajah Yesus yang penuh dengan luka ketika memanggul salib menuju Golgota.” Suara dan sikap ini yang membuat rezim penguasa El Savador begitu marah kepada Oscar Romero. 

Bagi rezim tak ada cara lain selain untuk menghentikan Oscar Romero kecuali membunuhnya. Pada malam naas, Senin 24 Maret 1980, sebutir peluru menembus jantung Oscar Romero saat sedang melakukan Misa untuk mengenang ibu seorang sahabat. Ia meninggal dunia beberapa menit kemudian.  

Keputusan untuk membunuh Oscar Romero diambil karena sehari sebelum ia terbunuh, sang Uskup kembali menyuarakan kritik pedas dan ajakan untuk bangkit dari ketertindasan. Suara itu ia sampaikan ke bukan sembarang jemaat tapi para prajurit El Savador, 

“Demi Tuhan, demi rakyat yang menderita ini, yang jeritan-jeritannya ke langit semakin keras dari hari ke hari, saya memohon dengan sangat kepadamu, saya meminta kepadamu, saya memerintahkanmu: Hentikan penindasan!” 

Tak mau suara Oscar Romero menjadi sebuah energi pembebasan terhadap rezim yang berkuasa, melenyapkan sang Uskup jadi pilihannya. Siapa pembunuhnya? 

Sebuah laporan Komisi Kebenaran El Savador yang rilis pada 1993 mengungkapkan bahwa ada peran dari ketua sekaligus pendiri partai Arena, Roberto D'Aubuisson di balik pembunuhan Oscar Romero. 

“Ada bukti yang jelas bahwa eks mayor Roberto D'Aubuisson telah memberikan perintah untuk membunuh Uskup Agung dan telah memberikan instruksi-instruksi yang jelas kepada anggota-anggota pasukan keamanannya, yang bertindak sebagai pasukan pembunuh, untuk mengorganisir dan mengawasi pembunuhan itu.” bunyi laporan tersebut. 

CIA dianggap menjadi penyokong utama bagi D'Aubuisson untuk memuluskan praktek jahatnya tersebut. Pemerintah El Savador sendiri saat itu tutup mata terjadap kejahatan tersebut. Kematian Oscar Romero mengguncang dunia. Dunia berduka cita karena ditinggal oleh sosok yang semasa hidupnya tak pernah mau untuk bersahabat dengan para penindas. 

Munculnya Romero menjadi seorang martir perjuangan di El Savador sendiri tak pernah diprediksi oleh banyak pihak sebelumnya, pasalnya selama kariernya ia lebih dikenal sebagai sosok rohaniawan konservatif dan lebih cenderung mendukung gerakan sayap kanan Katolik. 

Seperti disebutkan di awal, Oscar Romero bukanlah sosok seperti Camillo Torres yang begitu gigih pada perjuangan Teologi Pembebasan hingga angkat senjata, namun suara hati dan keyakinan pada ajaranNya membuat Oscar Romero berani menantang maut dengan melawan rezim penguasa. 

PBB sendiri pada 2010 lalu memproklamasikan 24 Maret sebagai "Hari Internasional bagi Hak untuk Kebenaran terhadap Kekerasan Hak Asasi Manusia dan Dignitas Korban-korban" dalam menghargai perjuangan Uskup Agung Romero. Selain itu pada 1997, Paus Yohanes Paulus II memberikan gelar Pelayan Allah kepada Romero. Pada 03 Februari 2015, ia dideklarasikan menjadi martir oleh Paus Fransiskus. 

Terbaru, pada perayaan agung, 14 Oktober 2018, di hadapan puluhan ribu orang di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus mengumumkan penetapan Oscar Romero (dan beberapa lainnya) sebagai orang Kudus. 



Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment