Kisah Dokter Tika, Berawal dari Bisnis Handicraft, Berlanjut Menjadi Agen Pemain



24 Oktober diperingati sebagai Hari Dokter Nasional. Tentu banyak definisi dan arti apa tugas dan kewajiban seorang dokter. Secara garis besar kerja seorang dokter akan selalu mendatangkan manfaat untuk orang di sekitarnya. 

Tugas dan kerja seorang dokter bersifat kemanusiaan dan ada batasan-batasan bagi seorang dokter agar tidak menerobos sesuatu yang bukan pada bidang keahlian medisnya, misal seorang dokter gigi tentu tidak bisa memberikan analisis media soal luka pada wajah dan kemudian mem-postingnya di sosial media. Alih-alih bermanfaat untuk orang sekitar, hal itu justru membuat gaduh. 

Namun bukan berarti seorang dokter tidak boleh mencoba untuk melakukan pekerjaan lain semisalnya dokter Tompi yang sukses jadi penyanyi. Ada juga seorang dokter yang suka dengan tantangan lalu bekerja menjadi seorang agen pemain bola, memang ada dokter seperti itu? 

Ada, ialah dokter Ratna Mustika seorang agen pesepakbola yang bertitel dokter. dokter Ratna Mustika terjun sebagai seorang agen pesepakbola didasari keinginan untuk mendapatkan tantangan dalam hidup. Menariknya masuknya dokter Tika ke lingkaran sepakbola didasari faktor ketidaksengajaan. Hal itu bermula saat ia berbisnis kerajinan tangan. 

Bisnis kerajinan tangan ini diekspornya ke negara-negara di Eropa. Di sela-sela menjalankan bisnis ekspor-impor itulah, ia kemudian disodori bisnis baru oleh sejumlah mitra dan rekan bisnisnya. Yaitu ekspor-impor pemain asing.

"Jadi agen pemain sepakbola sejak 2005, saya suka challenge. Saya orangnya pantang mundur. Saya berusaha maksimal sampai saya tidak bisa. Tahun 2005 juga menjadi awalan saya menjual pemain di Indonesia. Tahun kedua atau 2006, saya mulai menjual pemain di luar negeri. Hingga sekarang, lebih dari 100 pemain yang saya jual,” kata dr. Tika seperti dikutip dari indosport.com 

Pemain dari Liberia, Boakay Eddie Foday ialah pemain pertama yang diageni oleh dokter Ratna. Pemain kelahiran 25 Mei 1986 ini berhasil dibawa dokter Ratna ke klub asal Papua, Persiwa Wamena pada 2005. Itu pertama kalinya Eddie Foday berkarier di Liga Indonesia. 

Sukses mendatangkan Eddie Foday ke Persiwa Wamena membuat dokter Ratna semakin nyaman untuk menjadi seorang agen pemain. Wanita pemilik Champions Stars Management tersebut pada 2007 malah berhasil ujian agen pemain FIFA yang digelar di Jakarta pada 29 Maret - 27 September 2007. Ia pun mendapat lisensi dari badan sepakboka tertinggi di dunia tersebut. 

Hebatnya lagi, dari 12 nama agen pemain yang mendapatkan lisensi FIFA tersebut, dokter Tika satu-satunya perempuan. Tentu bukan perkara mudah bagi seorang perempuan yang juga berlatar belakang seorang dokter menjadi seorang agen pemain, apalagi dokter Tika kebanyakan menjadi agen untuk pemain asing. Namun bagi perempuan yang sempat berdinas di sebuah rumah sakit di Kalimantan Barat tersebut, dirinya memiliki tips tersendiri yakni kejujuran dan pakai hati. 

"Semuanya itu yang jelas komunikasi. Saya buka komunikasi yang luas kepada pemain-pemain dan jelaskan sepak bola Indonesia kepada mereka, atmosfer, penontonnya. Yang penting itu, jual pemain harus pakai hati" kata dokter ahli anestesi tersebut. 

Bagi orang awam mungkin akan berpikir sangat mudah menjadi agen pemain, menjual pemain ke satu klub, jika transfernya bernilai besar maka kantong pun akan sangat tebal. Padahal tidak semudah itu. Menjadi agen pemain dibutuhkan kemampuan ekstra, tidak sekedar paham soal sepakbola namun juga memiliki insting tinggi. 

Agen pemain wajib paham membaca statistik pemain saat beraksi di lapangan, data statistik itu idealnya memang dikumpulan sendiri si agen. Hal itu membuat si agen bisa paham betul kualitas pemain yang akan ia tawarkan ke klub lain. Selain paham membaca statistik permainan si pemain, si agen juga memiliki kepekaan soal kondisi pemain serta latar belakang lingkungannya. 

Hal itu menjadi penting karena sudah banyak kasus banyak pemain hebat yang kemudian gagal karena tak mampu beradaptasi dengan baik pada kultur dan lingkungan pemain. Si agen tentu tak bisa main langsung menerima tawaran yang datang padanya untuk menjual pemain pada klub secara kultur sepakbola sulit untuk membuat si pemain berkembang. 

Yang tak kalah penting juga ialah si agen juga bertugas menjaga image si pemain, ia bertindak sebagai P&R si pemain. Menjaga citra pemain menjadi kewajiban si agen. Agen pemain juga harus paham aturan sepakbola di satu federasi, ini untuk menjaga kinerja mereka saat mendatangkan pemain asing ke satu liga lokal. 

Jika ditambah dengan latar belakang pendidikan Ratna Mustika tentu saja hal itu menjadi poin berharga. Ia bisa paham rekam jejak medis si pemain yang akan ditawarkan ke klub lain. 

Belum lagi jika bicara rule soal menjadi agen pemain yang begitu menjelimet.  Pada 2015 lalu, FIFA mengeluarkan aturan baru soal agen pemain yang menggantikan aturan sebelumnya, FIFA PAR. 

Di aturan baru bernama Regulations on Working with Intermediaries ini, FIFA menyebut agen pemain menjadi perantara (intermediary). Apakah kemudian ada perbedaannya antara agen pemain dengan perantasa itu? 

Secara garis besar tidak ada perbedaan mendasar, tugas mereka masih sama seputar urusan transfer pemain. Para agen ini kemudian wajib memperhatikan 3 poin penting saat proses transfer pemain ke satu klub. Poin pertama soal klub calon pembeli dan agen pemain tenang apa yang pemain inginkan bagi dirinya sendiri, poin kedua soal klub dan agen tentang nominal biaya si agen, dan poin ketiga soal kedua kesebelasan tentang biaya transfer. 

Namun sepertinya Regulations on Working with Intermediaries sendiri akan segera berubah pasalnya kabar terbaru menyebutkan FIFA menyetujui proposal tentang aturan baru mengenai pemain pinjaman dan agen klub. 

Dari pemaparan tersebut berat bukan menjadi seorang pemain. Meski begitu dokter Tika mampu menjalaninya dengan enjoy dan profesional. Ia pun tercatat menjadi agen untuk sejumlah pemain asing di Liga Indoensia, mulai dari Rohit Chand, Martin Vunk, Yevgeni Kabayev, Thierry Gathuessi, dan masih banyak lagi. Bahkan pada Liga 1 2018, dokter Ratna sempat buat geger publik sepakbola nasional karena mendatangkan 3 pemain dari negara pecahan Uni Soviet, Tajikistan. 

Mereka ialah Manuchekhr Dzhalilov (Sriwijaya FC), Nuriddin Davronov (Madura United) dan Fatkhullo Fatkhulloev (Persela). Kedatangan ketiga pemain ini tentu membawa atmosfer baru di Liga Indonesia yang lebih sering kedatangan pemain asing dari benua Afrika atau Amerika Selatan. 

Meski begitu dokter Tika mengaku bahwa menjadi agen pemain tidak selamanya membuat ia untung. Selalu ada hal mengecewakan yang bisa menimpanya saat datangkan pemain ke satu klub. Dikutip dari majalah.gatra.com, dokter Tika menyebut kerapkali kontrak yang ditandatanganinya dengan pemain atau klub justru tak dipenuhi oleh mereka. 

Dokter Tika mengatakan, untuk menjalin kontrak dengan pemain asing, selain diberikan fasilitas yang disepakati bersama, juga ada uang muka yang lebih dulu harus dibayarkan kepada pemain minimal 25%. 

"Ini seperti perusahaan. Kalau produk bagus, tentu punya nilai jual tinggi," kata Tika, yang berencana membuat klub sepak bola tersebut. 

Selamat Hari Dokter Nasional, dokter Tika!






Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment