'Hawkeye' Terpilih Sebagai Pengganti Lopetegui di Real Madrid



Sosok pemanah handal di film Avengers, Clint Barton bukanlah pemeran utama. Ia hanya seorang manusia biasa, agen S.H.I.E.L.D sangat terpercaya yang hanya memiliki senjata busur semata. Kekuataannya tak seperti Thor dengan mjolnir, palu ajaib yang dapat menciptakan kilat dan halilintar. 

Tokoh fiktif yang dikenal dengan sebutan Hawkeye ini juga tak memiliki peralatan canggih seperti Tony Stark dalam balutan kustom robotnya. Hawkeye juga tak memiliki perisai cakram seperti Captain America yang bisa melindungi dirinya dari serangan musuh. 

Modal Hawkeye semata busur dan kemampuan bela dirinya. Meski begitu peran Hawkeye cukup vital, setidaknya hal tersebut bisa kita lihat di film The Avengers yang rilis 2012. Kemampuannya mampu mengalahkan para armada Chitauri yang datang ke Manhattan, Amerika Serikat lewat lubang cacing yang dibuka oleh Loki. 

Aksinya bersama Natasha Romanoff setidaknya membuat ia seperti manusia hebat diantara para dewa yang tengah bertarung tersebut. Seklumit gambaran ini cukup relevan dengan seorang Santiago Solari, sosok pelatih anyar Real Madrid yang menggantikan Julen Lopetegui. 

Solari sudah tak asing bagi suporter Real Madrid. Ia menjadi bagian dari Real Madrid saat klub ini dikenal dengan sebutan Los Galaticos. Solari gabung ke Real Madrid setelah di musim terakhirnya bersama tim tetangga, Atletico Madrid mengalami kekecewaan. 

Atletico Madrid pada musim 1999/2000 harus terdegradasi ke Divisi Segunda. Beruntung Real Madrid kemudian mengaktifikan klausul pembelian kepada dirinya. Ia pun hijrah ke Bernabeu di saat Florentino Perez kala itu tengah membangun El Real dengan kekuatan para pemain bintang 5. Kasarnya Solari ke Real Madrid hanya untuk jadi ban serep. 

Solari sadar bahwa kedatangnnya ke Bernabeu hanya jadi pemain pengganti. Pasalnya di skuat Real Madrid kala itu, Vicente del Bosque sudah memiliki gelandang lain yang lebih jempolan jebolan Anfield, Steve McManaman. Jika ia kemudian ditempatkan sebagai gelandang serang, del Bosque tak memiliki opsi untuk memainkan skema tersebut. 

Pada musim 1999/2000, del Bosque lebih senang menempatkan dua gelandang sayap kanan dan kiri, kanan ada Figo, sedangkan kiri McManaman. Analoginya, Figo ibarat Captain America, dan McManaman bak Iron Man, tentu saja jika Del Bosque ialah seorang Nick Fury, ia akan lebih memilih dua pahlawan super itu untuk melawan Chitauri, dibanding bertaruh menempatkan Solari yang hanya manusia 'biasa' sebagai andalan. 

Pada musim selanjtunya, berharap akan ditempatkan sebagai gelandang serang, Real Madrid malah membeli Zinedine Zidane. Maestro Prancis ini tentu jadi nyawa untuk permainan Real Madrid bersama si pengkhianat dari Nou Camp, Luis Figo. 

Menariknya meski begitu Solari tetap mendapat tempat, malah ia memiliki caps cukup banyak dibanding Zidane pada musim 2001/02, secara keseluruhan pemain kelahiran Rosario itu bermain 40 kali, 7 kali lebih banyak dibanding Zidane dan 2 kali lebih banyak dibanding McManaman. 

Hal ini menjadi bukti bahwa hadirnya Solari bukanlah ban serep semata. Bukti ketangguhan dan pentingnya Solari sebenarnya bisa terlihat saat ia menjadi starting line up saat Real Madrid bertemu Bayer Leverkusen di final Liga Champions. 

Kebanyakan orang menganggap bahwa gol indah dari Zidane di laga final tersebut berasal dari umpan manis seorang Roberto Carlos, namun peran seorang Solari-lah yang membuat full back Brasil itu mengirim umpan ke kotak penalti Leverkusen. 

Umpan chip Solari mengelabui pemain Bayer Leverkusen yang terlanjur terpaku pada pergerakan Zidane dan Raul, hingga tak sadar Carlos meringsek masuk dari sisi kiri. Sayangnya kemudian sejumlah highlight pertandingan hanya menyoroti saat Carlos memberi umpan ke Zidane. 

Pada laga itu juga, insting Solari sebagai pemain yang bisa ditempatkan sebagai penjaga ritme permainan mampu menghalau tangguhnya gelandang Leverkusen yang dikomandoi oleh Michael Ballack. Meski kemudian El Real bisa meraih gelar Liga Champions, Solari tetap berada di halaman belakang, cover jadi milik Zidane, Raul atau Roberto Carlos yang memberi dua assist. 

Peran Solari di musim 2001/02 tak hanya di laga final itu, jika merunut ke belakang, ia juga menjadi bagian penting saat Real Madrid melakoni laga berat melawan Manchester United di Old Trafford. Ia menjadi otak dibalik gol Ronaldo de Lima pada menit ke-67, gol yang meruntuhkan mental David Beckham cs. 

Setelah mempersembahkan 2 gelar La Liga, 2 gelar Supercopa de Espana, 1 Champions League, 1 Super Cup Eropa, dan 1 Piala Dunia Antarklub, Solari kemudian hijrah ke Serie A Italia dan bermain untuk Inter Milan. Main 3 musim di Italia dan mempersembahkan 3 Scudetto, ia pulang ke Argentina, bemain untuk San Lorenzo. Solari lalu memutuskan untuk gantung sepatu di klub besar Uruguay, Penarol. 

**** 

Lepas jadi pemain, Solari coba peruntungan sebagai pelatih. Tak banyak lampur sorot yang diarahkan kepadanya. Ia tetap dianggap sebagai pemain lapis kedua yang coba raih masa jaya di bidang berbeda, sebagai pelatih sepakbola. 

Pada 2013, ia didapuk untuk menjadi tim yunior Real Madrid. Klub merasa bahwa sebagai seorang pemain, Solari ialah sosok yang bisa mengoptimalkan dan mencari bibit muda untuk Real Madrid di masa yang akan datang. 

Bagi klub, Solari memiliki kemampuan di luar manajerial kepelatihan, yakni kemampuannya dalam urusan teknis bermain sepakbola. Hal itu yang dibutuhkan seseorang saat dipercaya jadi tim junior. 

Sebagai pemain spesialis sisi kiri, Solari mampu ditempatkan sebagai full back kiri misalnya saat Roberto Carlos tengah berada di bawah perfomance. Tugasnya menjadi full back kiri dijalani dengan bagus, pengalaman ini yang menjadi pelajaran berharga untuk pemain di level junior untuk mampu ditempatkan di posisi berbeda. 

Dalam urusan dribble, seperti dikutip dari managingmadrid.com, Solari memiliki keahlian mengolah bola selayaknya pemain dari Argentina. Gocekan khas tarian Tango. Sedangkan di urusan menggunakan kaki kiri, Solari mampu menggeser tubuhnya yang tinggi dan kurus saat menendang bola hinga arah bola sangat sulit dibaca bek lawan, hal itu terlihat dari umpan manisnya ke Roberto Carlos di final Liga Champions. 

Sejumlah kemampuan teknis inilah yang membuatnya tergolong sukses saat menjabat pelatih junior. Ia pun dipromosikan menjadi pelatih tim Real Madrid Castilla. Di Real Madrid Castilla, Solari lagi-lagi membuktikkan kecerdasannya sebagai seorang pelatih. Tim bermaterikan pemain muda pada musim ini dalam 7 pertandingan terakhir tak terkalahkan, sangat kontras dengan Real Madrid di bawah Lopetegui. 

Artinya dengan segudang pengalaman dan raihan prestasinya Solari memang sangat layak untuk mengganti peran Lopetegui. Selain faktor tak kalah penting dari seorang Solari ialah ia begitu dekat dengan seorang del Bosque, sosok pelatih besar Spanyol dan Real Madrid. Solari mengakui bahwa sepanjang kariernya sebagai pemain, del Bosque ialah pelatih yang banyak menginspirasi dirinya. 

"Jika melihat angka-angka, Del Bosque ialah pelatih sukses. Kami berhasil memenangkan Liga, Liga Champions, Piala Super, dan Piala Dunia. Ia pelatih yang penuh inspirasi," kata Solari seperti dikutip dari sbs.com

Jadi kita tunggu saja, aksi Solari dengan 'trik panahnya'  bersama Real Madrid di sisa musim ini seperti saat Hawkeye beraksi di hadapan para pahlawan super di Avengers. 

Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment