Bernostalgia Kala Juventus Bermarkas di Stadion Delle Alpi



Keperkasaan Juventus di Serie A musim ini semakin menjadi-jadi. Setelah mampu kalahkan Manchester United di tengah pekan lalu pada pentas Liga Champions, Juventus kembali meraup kemenangan di pentas Serie A. 

Bertandang ke markas Empoli, Sabtu 27 Oktober 2018, Juventus berhasil meraih kemenangan 2-1. Dua gol kemenangan Juventus dicetak oleh bintang anyar mereka, Cristiano Ronaldo, masing-masing pada menit ke-54 dan 70. 

Hasil ini makin memperkokoh Juventus di puncak klasemen Serie A dengan mengemas 28 poin hasil dari 9 kali menang dan 1 kali imbang. Juventus tidak hanya jago tandang, ia cukup superior saat bermain di kandang mereka, Juventus Stadium. 

Mereka belum pernah merasakan kekalahan di kandang sendiri hingga pekan ke-10 Serie A, hasil paling buruk yang diterima si Nyonya Tua saat main di depan publik sendiri ialah hasil imbang 1-1 melawan Genoa pada 20 Oktober 2018 lalu. 

Markas baru Juventus, Juventus Stadium memang jadi momok  menakutkan untuk tim lawan. Keangkeran Juventus Stadium seperti meneruskan dominasi Juventus saat masih bermarkas di Stadion Delle Alpi, Turin. Ya, Stadion Delle Alpi merupakn ikon untuk Juventus, meksi sebenarnya La Vecchia Signora berbagi stadion dengan tim tetangganya, Torino. 

Stadion Delle Alpi dibangun pada 1988, tak perlu waktu lama untuk stadion ini bisa dioperasi. Dua tahun setelah batu pertama ditancapkan pada 31 Mei 1990, Stadion Delle Alpi sudah siap untuk digunakan -- saat itu klub Portugal, FC Porto melawan tim gabungan pemain Juventus dan Torino pada laga eksebisi. Orang Inggris menyebut stadion ini, Stadium of The Alps, merujuk pada pegunungan Alpen yang tak jauh dari lokasi stadion. 

Stadion ini dirancang sejumlah arsitek yang tergabung dalam Studio Hutter. Dibangunnya Stadion Delle Alpi awalnya untuk memenuhi kebutuhan Italia sebagai tuan rumah Piala Dunia 1990. Pihak FIFA saat itu meminta Italia untuk membangun stadion baru dibanding menggunakan Stadion Olimpico yang dianggap sudah terlalu tua. 

Meski proses pembangunan Stadion Delle Alpi terasa singkat namun stadion ini mendapat pujian dari FIFA. Stadion ini dianggap sangat representatif untuk menjadi tempat pertandingan Piala Dunia. Stadion yang sempat jadi tempat konser Guns N Roses pada 1992 ini kemudian jadi tempat terburuk untuk dikenang oleh Stuart Pearce dan Chris Waddle. 

Pasalnya dua nama pesepakbola Inggris tersebut jadi biang kerok kekalahan Inggris atas Jerman Barat di babak perempatfinal Piala Dunia 1990. Pearce dan Waddle yang jadi dua penendang terakhir tak mampu taklukkan kiper Jerman Barat saat itu, Bodo Illgner. 

Usai perhelatan Piala Dunia 1990, Juventus merasakan keindahan di Delle Alpi. Mereka jadi tim yang sangat ditakuti di Serie A, berbanding terbalik dengan tim tetangga yang sama-sama menempati stadion sama, Torino yang malah terus mengalami keterpurukan. 

Lewat laya kaca, saya melihat bagaimana seorang Pavel Nedved serta Zinedine Zidane membuat lini tengah Juventus begitu mengerikan. Seorang Edgar Davids bermain spartan dari kotak penalti Juventu ke daerah pertahanan lawan. Sepakan free kick indah seorang Del Piero juga tercipta di stadion. Kita mungkin juga dibuat kesal saat seorang Inzaghi sangat mudah terperangkap offisde. 

Bicara soal Inzaghi tak adil jika hanya membicarakan soal 'hobinya' terperangkap offside di Delle Alpi, di stadion ini juga kita melihat bagaimana Inzaghi harus dilecuti celananya saat Juventus merayakan gelar Scudetto ke-25. 

Meski merasakan kejayaan dan keindahan di Delle Alpi, data menunjukkan tak semua suporter Juventus mau datang ke stadion ini. Dikutip dari data stadiumguide.com, stadion yang berkapasitas 69 ribu tempat duduk ini tak pernah dipenuhi oleh suporter Juventus tiap musimnya. 

Angka paling tinggi terjadi pada musim 1991/92 yakni rata-rata penonton mencapai angka 51.832 penonton. Malah khusus untuk Torino, angka rata-rata penonton tak pernah mencapai angka 30 ribu tempat duduk. Tak heran sebenarnya, pasalnya saat masih bermarkas di Delle Alpi, Torino hanya mentas di Serie B. 

Kondisi ini tentu saja membuat pusing pemerintah kota Turin yang menjadi pemiliki stadion ini. Salah satu faktor yang membuat enggan suporter datang ke stadion ini adalah lintasan lari. Publik menganggap lintasan lari yang berada di tengah stadion ini merusak atmosfir sepakbola Italia. Suara-suara dan chant para pendukung tak terdengar langsung ke telinga para pemain. 

Alasan ini kemudian sempat membuat pemerintah kota Turin menghancurkan lintasan lari tersebut dan memperkecil kapasitas tempat duduk menjadi 41.475. Namun hal itu tak banyak membantu, Delle Alpi pada akhirnya benar-benar dirobohkan dan Juventus miliki kandang baru, Juventus Stadium pada 2011 lalu. 

Jurnalis Chris Lee dalam artikelnya berjudul Reflections on the short life of the Stadio delle Alpi menyebut bahwa stadion ini akan selalu menciptakan kenangan dan nostalgia tersendiri bagi mereka yang pernah datang. 

"Kesan pertama saya tentang Stadion Delle Alpi ialah eksteriornya yang berwarna abu-abu berpadu rapi dengan cuaca di langit Turin yang sedikit kontras. Kursi di sana tidak nyaman untuk bisa berlama-lama duduk. Anda mungkin lebih senang berdiri sepanjang laga saat menonton pertandingan di sana."  

"Jika menengok ke atas, kita seperti melihat cincin planet Saturnus karena bentuk oval sempurna stadion ini. Sayangnya stadion ini tak seperti Bernabeu, Calderon, atau Mestalla di Spanyol yang selalu penuh, delle Alpi tiap pekannya selalu menyisakan banyak bangku kosong. Hanya mereka yang berada di blok Curva yang sepertinya sangat menikmati berada di stadion ini. Meski begitu saya seperti ingin kembali ke stadion ini. Ada perasaan dan kenangan yang sulit dicari di stadion lain, mulai dari aroma juara dan kemenangan sampai koleksi trofi yang tersimpan rapi di museum yang terletak tak jauh dari pintu masuk stadion," tulis Chris Lee. 

Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment