Meragukan Keseriusan PSSI Mempertahankan Luis Milla

Luis Milla | kompas.com

Polemik soal posisi Luis Milla sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia sepertinya menimbulkan tanda tanya besar. Terlebih kemudian muncul kabar bahwa PSSI masih menunggak gaji kepada Milla dan stafnya. 

Salah satu anggota exco PSSI, Gusti Randa membenarkan bahwa pihak PSSI masih belum membayarkan hak dari eks pemain Real Madrid tersebut. 

"Apakah Luis Milla masih tertunggak gajinya? Masih. Kalau kita ingin perpanjang satu tahun, kita lihat secara administratif, apa yang masih dan belum diselesaikan, salah satunya adalah masalah gaji," kata Gusti Randa seperti dinukil dari indosport.com 

Maka sebenarnya jika kondisnya seperti itu, tak mengherankan jika Milla memilih bertahan di Spanyol dibanding harus kembali ke Indonesia. Yang menarik kemudian, Gusti Randa juga menyebut bahwa sebenarnya anggaran PSSI saat ini tak mendukung keputusan Ketum PSSI, Edy Rahmayadi untuk memperpanjang kontrak Milla. 

Melihat kondisi tersebut, timbul pertanyaan, apakah PSSI memang benar-benar serius ingin memperpanjang Luis Milla atau hanya sekedar untuk menenangkan publik yang usai Timnas Indonesia tersingkir dari UEA di Asian Games 2018 ramai-ramai bersuara ingin Milla bertahan sebagai pelatih. 

Jika merujuk pada target-target yang dicanangkan PSSI saat menunjuk Luis Milla sebagai pelatih, ia memang terbukti tak mampu memenuhinya. Ada kewenangan penuh sebenarnya dari PSSI jika tak ingin memperpanjang kontrak pria Spanyol itu jika evaluasinya dari target yang harus dipenuhi. 

Tak perlulah PSSI cari muka di hadapan publik sepakbola nasional yang sudah luntur kepercayaannya dengan mengatakan mendengar aspirasi publik lalu memperpanjang kontrak Milla. 

Padahal sudah 15 hari pasca Ketum PSSI Edy Rahmayadi mengumumkan Luis Milla dipertahankan, permasalahan admistrasi dan gaji Milla tak kunjung selesai dan ia tetap bertahan di Spanyol. 

“Hadirnya Milla memberikan kultur dan mengubah warna sepak bola kita sehingga kami tahu persis ke arah mana pembinaan ini,” kata Edy pada 28 Agustus 2018 seperti dikutip dari bolasport.com 

Sebenarnya yang menjadi keinginan dari publik sepakbola Indonesia bukan soal apakah Luis Milla dipertahankan atau tidak menjadi pelatih Timnas, namun soal bagaimana PSSI memiliki blue print yang cukup jelas dan terukur membangun kekuatan sepakbola Indonesia. 

Karena jika melihat dari kondisi Milla saat ini, publik tentunya makin dibukakan fakta bahwa PSSI mengelola sepakbola nasional, utamanya soal Timnas hanya dengan rencana-rencana prematur. 

Bagaimana mungkin, secara anggaran seperti yang disampaikan Gusti Randa bahwa keputusan PSSI mempertahankan Luis Milla tak mencukupi? Ini tentu jadi sorotan bersama, publik harus tahu seperti apa PSSI menyusun anggarannya untuk pelatih Timnas Indonesia? 

Karena jika bicara fakta, pelatih Timnas Indonesia memang kerap hanya memiliki kontrak jangka pendek. Pelatih Timnas Indonesia hanya segelintir yang bisa bertahan lebih dari 2 tahun. 

Dinukil dari tirto.id, sebagian besar pelatih yang ditunjuk untuk mengawal Timnas Indonesia hanya dipakai dalam jangka waktu sewarsa saja. Bahkan, selama satu dekade pada 1974 hingga 1984, hampir tiap tahun timnas berganti pelatih, baik lokal maupun asing.

Sepertinya memang sudah jadi tradisi turun temurun di PSSI untuk hanya memberikan porsi waktu singkat kepada seorang pelatih menangani Timnas. 

Entah apakah itu ia berhasil meraih prestasi seperti Anatoli Polosin, atau seperti Milla yang seperti kata Ketum PSSI bisa membawa kultur berbeda di sepakbola nasional, tetap saja durasi melatihnya hanya jangka pendek saja. 

Apalagi kabar teranyar seperti dikutip dari kompas.com, Sekjen PSSI, Ratu Tisha memilih untuk memberi ultimatum kepada Milla dibanding misalnya memberi tahu ke publik soal tunggakan gaji tersebut. 

"Kami sudah memberikan informasi kepada agen Luis Milla dan menunggu sampai 14 atau 15 September 2018 hingga mereka memberikan jawaban," kata Ratu Tisha.


Artikel ini tayang di kompasiana.com, 12 September 2018 pukul 18:14 WIB
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment