Laga Paling Berdarah Sepanjang Sejarah Sepakbola: Patah Kaki Hingga Berujung Aksi Massa

Pada Februari 2018 lalu seperti dikutip dari bbc.co.uk (09/08/18) pertandingan Liga Brasil yang mempertemukan Vitoria vs Bahia dianggap sebagai laga sepakbola paling brutal. Bagaimana tidak di pertandingan tersebut wasit harus mengeluarkan 10 kartu merah dan 6 kartu kuning untuk pemain dari kedua kebelasan.

Referensi pihak ketiga
Laga tersebut pun membuat media-media di seluruh dunia makin menasbihkan bahwa di kawasan Amerika Selatan, pertandingan sepakbola memang selalu identik dengan kekerasan. Fakta yang memang tak salah, malah jika kita melihat sejarah di kawasan Amerika Selatan-lah pernah terjadi laga sepakbola paling berdarah sepanjang sejarah sepakbola modern.
Boca Juniors melawan klub Peru, Sporting Cristal pada 1971 di ajang penyisihan grup Copa Libertadores merupakan laga berdarah sepanjang sejarah sepakbola. Pertandingan yang berlangsung di markas Boca Junior, Stadion Alberto J. Armando dianggap publik Argentina sebagai fakta kelam dari perjalanan sepakbola negara tersebut.
Pada pertemuan pertama, Boca Junior menyerah di kandang Cristal. Aksi balas dendam pun diusung oleh skuat Boca Junior kala itu. Pada awalnya Boca vs Cristal berlangsung cukup seru. Boca sempat memimpin 2-0 lewat gol yang dicetak oleh Jorge Coch dan Angel Rojas.
Namun Cristal tak menyerah, dua gol penyama kedudukan mampu dicetak oleh Juan Orbegoso dan Carlos Pajuelo di pertengahan babak kedua. Skor 2-2 inilah yang menjadi awal pertandingan berdarah itu dimulai. Insiden pertama dilakukan oleh kapten Boca, Ruben Sune.
Pemain yang sempat mau bunuh diri dengan cara melompat dari apartemennya tersebut lakukan pelangaran brutal ke pemain Crital, Alferdo Quesada. Tackling kerasnya membuat Quesada mengerang kesakitan, situasi yang membuat emosi pemain Cristal terpancing.

Referensi pihak ketiga
Sune lolos dari hukuman sang wasit. Merasa dilindungi oleh wasit, Sune kembali berulah. Kali ini korbannya Alberto Gallardo. Sune menerjang kaki Gallardo. Gallardo tak tinggal diam dan menyerang Sune dengan tendangan tepat mengenai kepala. Seperti dikutip dari thesefootballtimes.co (09/08/18) kabarnya Sune membutuhkan 7 jahitan di kepalanya.
Tak berhenti di situ, pemain Boca lain, Coch bahkan menyerang dua pemain Cristal sekaligus, Eloy Campos dan Fernando Mellan. Tackling Coch membuat Mellan alami patah kaki, sedangkan Campos alami patah hidung. Keributan antar pemain usai insiden itu pun tak bisa lagi dibendung. Sang pengadil tentu jadi sorotan di laga paling berdarah ini.
Ialah Orlando de la Tore yang menjadi pengadil di laga tersebut. Ia beberapa kali mendapat dorongan dan makian dari pemain kedua tim. Emosi de la Tore pun habis dan membuat dirinya ikut bertindak brutal. Bagaimana tidak, ia memberi kartu merah kepada Ramon Mifflin, pemain Boca yang sama sekali tak terlibat dalam perkelahian antar pemain.

Referensi pihak ketiga
Namun naas bagi de la Torre, sang ibu yang menonton pertandingan lewat layar kaca dilaporkan kena serangan jantung dan meninggal dunia setelah menyaksikan sang anak ikut dalam pertandingan brutal tersebut. Pendukung Boca pun marah dengan sikap de la Tore yang terlalu memihak tim tamu. Dikabarkan ada puluhan pendukung Boca yang akhirnya ditangkap pihak kepolisian karena lakukan aksi rusuh.
Parahnya lagi, usai pertandingan tersebut kemarahan langsung menyeruak di seluruh jalanan kota Lima, Peru. Sejumlah massa yang mayoritas ialah pendukung dari Cristal dikabarkan menggelar aksi demonstrasi di depan kedutaan Argentina.

Referensi pihak ketiga
Presiden Boca Junior kala itu, Alberto J Armando mengakui bahwa apa yang dilakukan pemainnya tersebut sudah di luar nalar. Ia bahkan mengaku jijik dengan apa yang terjadi di pertandingan tersebut. Armando pun mengaku siap jika Boca mendapat hukuman berat dari CONMEBOL.
Sementara itu, pemain Crital yang pulang ke Peru sehari setelah pertandingan disambut oleh ribuan massa. Para pemain ini dianggap sebagai prajurit tempur yang baru pulang dari medan perang. Sampai detik ini, masyarakat sepakbola Peru masih sangat marah jika mengingat laga berdarah tersebut.
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment