Pro Kontra Laga Perebutan Tempat Ketiga Piala Dunia, Pentingkah Laga Tersebut Dihelat ?


Pada perhelatan Piala Dunia 2014, pelatih Timnas Belanda, Louis van Gaal saat itu mengeluarkan pernyataan yang sedikit kontroversial usai timnya mengalahkan Brasil di pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia.
"Saya pikir pertandingan ini tak usah dimainkan. Saya telah mengatakan hal ini sejak 10 tahun lalu. Ini pertandingan yang tak adil bagi pemain. Publik akan tetap melihat pemain kami sebagai pecundang karena hanya meraih tempat ketiga," kata van Gaal saat itu seperti dikutip dari fifa.com (13/07/18).
Ya van Gaal menyoroti langkah FIFA sejak Piala Dunia pertama yang menghelat pertandingan perebutan tempat ketiga. van Gaal menilai pertandingan itu dilangsungkan hanya untuk meraup keuntungan semata dari penjualan tiket dan hak siar.
Faktanya, di Piala Dunia 2018 tiket untuk laga perebutan tempat ketiga yang mempertemukan Inggris vs Belgia ternyata hampir terjual habis sejak beberapa bulan lalu dan tiket yang tersisa dijual dengan harga 10 kali lipat dari harga asli. Dikutip dari dailymail.co.uk (13/07/18) harga tiket di Krestovsky Stadium, Saint Petersburg dijual dengan harga 1000 dolar yang harga sebelumnya hanya 175 dolar.

fifa.com
Kontroversi pertandingan tempat ketiga di Piala Dunia tidak hanya soal tiket. Pada Piala Dunia 1930 yang mempertemukan Amerika Serikat vs Yugoslavia ternyata sudah diatur sedemikan rupa. Anak dari pemain Yugoslavia yang bertanding di laga itu, Kosta Hadzi menyebut ayahnya sebelum pertandingan itu digelar mendapat medali dari FIFA yang sama persis dengan medali untuk Amerika Serikat yang menang di laga tersebut. Medali itu diberikan sebelum laga berlangsung.
Suara-suara ketidaksukaan adanya pertandingan tempat ketiga di Piala Dunia 2018 memang terus berkumandang. Di era modern, tidak hanya van Gaal yang lantang menyuarakan itu, Guus Hiddink di Piala Dunia 2002 juga melontarkan pernyataan serupa.

fifa.com
"Mengapa kami harus menjalani laga tersebut. Pemain sudah hilang energi dan semangatnya karena gagal di semifinal. Semua pemain hanya memikirkan laga final bukan laga untuk para pecundang," kata Giddink seperti dikutip dari foxsports.com (13/07/18).
Sejumlah pemain besar pun seperti tak suka jika harus bermain di laga tempat ketiga ini dan hal itu dipahami oleh pelatih mereka. Michel Platini misalnya yang ogah bermain saat Prancis gagal ke final Piala Dunia 1986.

fifa.com
Meski ada juga pemain yang mengincar laga ini sebagai panggung untuk meraih kesuksesan pribadi, Davor Suker misalnya di Piala Dunia 1998, lalu ada Salvatore Schillaci di Piala Dunia 1990, serta Diego Forlan di Piala Dunia 2010. Ketiganya memaksimalkan laga tersebut untuk bisa menasbihkan diri mereka sebagai top skor Piala Dunia.
"Jelas itu (laga tempat ketiga) ialah sesuatu yang spektakuler di ajang ini. Kami menyukainya dan itu sesuatu yang positif," kata Diego Forlan seperti dikutip dari fifa.com (13/07/18).
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment