Memungut Sampah Lebih Terhormat Dibanding Menelanjangi, Memukul, dan Psywar di Sosmed

Tak ada yang lebih indah sebenarnya usai pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2018 antara Belgia vs Jepang selain aksi berkelas dan terhormat para suporter Jepang usai laga berakhir. Kekalahan Jepang secara dramatis tak membuat suporter Jepang kehilangan nalar dan akal sehatnya. 

Aksi mereka malah jadi buah bibir di seluruh dunia. Bayangkan saja harus tersingkir dengan cara menyakitkan para suporter Jepang seperti dikutip dari fifa.com (03/07/18) masih meluangkan waktu mereka untuk memungut sampah di sekitaran Rostov Arena, Rostov-on-Don, Rusia tempat laga berlangsung. Aksi yang terbilang sepele namun lebih terhormat tentunya dibanding aksi-aksi oknum suporter di Indonesia yang belakangan ramai diberitakan dan dibicarakan. 


Ya kebalikan dengan suporter Jepang, sejumlah oknum suporter Indonesia justru lakukan hal sebaliknya. Menghilangkan nalar dan akal sehat dengan dalih membela kehormatan klub, para oknum ini lakukan hal yang membuat miris atau mungkin membuat suporter Jepang tertawa terbahak-bahak melihat tingkah barbar oknum suporter ini. 

Ada oknum suporter yang berteriak-teriak di jalan meminta seorang pembonceng motor untuk melepaskan jerseynya, ada juga oknum suporter yang menyandra sejumlah anak di bawah umur hanya karena korban berasal dari kota tempat lawannya berasal, lalu ada juga oknum suporter yang tanpa akal sehat dan nalar memukul anak seorang menteri hanya karena ia menonton timnya bertandingan dan masih banyak lagi aksi barbar lainnya.

Belum lagi jika kita bicara aksi psywar para suporter di sosial media. Entah oknum suporter sampai sejumlah petinggi perkumpulan suporter pun seperti tak bisa menahan jarinya untuk menyebarkan energi negatif yang berujung makin membesarnya konflik suporter di Indonesia. 

Apa itu mentalita suporter ? 

Jika membandingkan aksi suporter Jepang dengan aksi suporter di Indonesia tentu banyak dimensi yang harus dilihat. Meski sebenarnya melihat fenomena itu cukup dari sisi mentalita suporter, alasan yang selalu didengungkan sejumlah suporter di Indonesia saat mereka lakukan aksi negatif. 

Apa itu sebenarnya mentalita suporter? Dikutip dari banyak referensi dan pengertian, mentalitas secara garis besar ialah  jiwa bukan sekedar tampilan atau bentuk fisik, mereka yang berjiwa tak akan pernah mundur walau dengan penuh keterbatasan. Mereka yang punya jiwa mentalita tidak akan pernah takut meski hanya sendiri , karena dilubuk hatinya telah di tanam jiwa pelawanan yang akan terus berkobar sebelum kebenaran menang secara mutlak.

Dari pengertian tersebut, apakah aksi-aksi negatif oknum suporter di Indonesia yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini sudah sesuai dengan mentalita suporter? Tentu banyak lagi perdebatanya. Namun jika kita berani jujur dan membahasnya secara akal sehat, tentu aksi tersebut jauh dari kata mentalita suporter. 

Bagaimana mungkin aksi menelanjangi, memukul, menyandar, dan sebar psywar jadi bentuk perlawanan untuk memperjuangkan kebenaran? Bicara kebenaran sebenarnya juga tidak ada habisnya dan banyak versi namun dalam lingkung sepakbola, kebenaran tentu bermuara pada aksi fair play bukan? 

Justru aksi memungut sampah suporter Jepang itulah mengajarkan kita bahwa mereka memiliki jiwa tak hanya sekedar tampilan fisik untuk memberikan perlawana terakhir persis yang dilakukan Shinji Kagawa cs kepada Belgia di lapangan. 

Suporter Jepang terus mengobarkan semangat kebenaran bahwa pertandingan sepakbola tetaplah sebuah pertandingan dengan semagat fair play dan menggunakan akal sehat lebih terhormat dibanding mengumbar emosi dan kemarahan saat mendapati kenyataan tim yang disayangi alami kekalahan. 

Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment