Luhut Binsar Si Playmaker Pemerintahan Jokowi dan Kesukaannya pada Tim Samba Brasil

Nama Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan dalam beberapa pekan terakhir jadi sorotan. Aksi tegasnya ke salah satu aktifis, Ratna Sarumpaet saat berdialog dengan keluarga korban KM Sinar Bangun menuai perhatian masyarakat. 

Apa yang dilakukan Luhut ke Ratna tentu patut diapresiasi. Posisinya sebagai Menko menuntut dirinya lebih mengedepankan kepentingan korban dibanding pihak-pihak yang berusaha mencari celah di tengah kondisi duka tersebut. 

Sepak terjang Luhut sebagai seorang politikus memang cukup mewarnai belantika perpolitikan Indonesia. Setelah pensiun dari dinas kemiliteran pada 1999 silam ini, pria yang sempat ikuti pelatihan Royal Army Special Air Service (SAS) di Inggris pada 1981 tersebut mendapat tugas sipil pertamanya sebagai Duta Besar RI untuk Singapura zaman pemerintahn BJ Habibie. 


Meski berlatar belakang militer, saat jadi Dubes Singapura, Luhut mampu berprestasi baik. Ia bisa mendamaikan ketegangan kedua negara pasca hura hara politik 1998. Saat Abdurrahman Wahid jadi Presiden, ia diminta kembali ke Indonesia dan dipercaya mengemban tugas sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI pada Kabinet Persatuan Nasional. 

Setelah pemerintah Gus Dur, Luhut lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berkecimpung di dunia olahraga terutama karate. Ia menjadi ketua FORKI sejak 2001 hingga 2010. Tak mengherankan memang jika Luhut mau berkecimpung di dunia olahraga, pasalnya saat masih jadi prajurit TNI ia dikenal sebagai sosok yang piawa di banyak bidang olahraga, mulai dari karate, renang, terjung payung hingga judo. 

Bahkan khusus untuk renang, suami dari Devi Simatupang tersebut sempat menyambet medali di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) mewakili provinsi Riau. Selain mengurus FORKI, Luhut juga aktif sebagai petinggi partai Golkar. Pada rentang waktu 2008 hingga 2014, Luhut menjabat sebagai Wakil Ketua DPP partai Golkar. 

Tenaga Luhut untuk negara kembali dibutuhkan saat Presiden Jokowi menjabat. Pada 2014 hingga 2015 ia menjabat sebagai Kepala Staf Kepresiden RI. Jabatan yang terbilang cukup vital dan membutuhkan sosok tegas seperti Luhut. 

Luhut sang playmaker

Sepak terjang Luhut sebagai Menteri di pemerintahan Jokowi memang terbilang brilian. Ibarat sepakbola seperti yang dianalogikan oleh pengamat politik, Gun Gun Heryanto bahwa Luhut ialah striker saat ini memang cukup benar bahkan jika bisa dikoreksi, Luhut ialah sosok playmaker yang mengatur ritme permainan. 

"Luhut di-plot jadi striker baru, karena sebelumnya dia pemain bertahan kan. Sekarang jadi striker, perannya strategis. Saya kira Luhut itu jadi perimbangan politik, hukum dan keamanan, saya kira itu yang tak nampak di Tedjo kemarin" kata Gun Gun seperti dikutip dari okezone.com (14/08/15) lalu. 

Luhut jadi garda terdepan dan mengatur ritme tensi perpolitikan nasional di saat banyak berhembus isu tak sedap pemerintah Jokowi. Jika merujuk pada istilah sepakbola, playmaker merupakan pemain yang berperan menjalankan dan mengatur sistem atau skema yang sudah digariskan pelatih. 

Johan Cruyff, legenda sepakbola Belanda menyebut bahwa Tim yang memiliki probabilitas menang lebih tinggi adalah tim yang paling banyak memegang kendali permainan. Dan Luhut paham betul memainkan peran tersebut. 


Isu-isu tak sedap yang terkait dengan kementerian yang ia pimpin atau seputar pemerintahan Jokowi akan selalu di-counter Luhut dengan cara yang cantik, elegan, dan tegas. Soal Freeport misalnya, saat rumor tak sedap berhembus soal sosok Riza Chalid di divestasi Freeport, Luhut membantahnya dengan tegas. 

Pun soal rumor soal Cawapres Jokowi jelang Pilpres 2019 misalnya dengan elegan Luhut memberikan jawaban terkait rumor tersebut, "Saya pikir menurut saya, dia (Jokowi) akan pilih orang yang bisa dekat dengan komunitas Islam, kedua tentunya bersih, mungkin dia ngerti ekonomi bisa juga, tapi ya tentunya yang cocok dengan pribadi juga. Diendorse oleh partai-partai politik yang koalisinya," kata Luhut seperti dikutip dari detik.com (20/07/18). 

Sebagai sosok yang berpengalaman di bidang politik dan militer, Luhut juga bukan sosok yang penuh dengan pertimbangan matang. Simak saja saat Luhut sempat ditanya soal jagoan ia di Piala Dunia 2018. Dengan lugas Luhut menyebut Brasil,  "Saya masih tetap Brasil sih, tapi kayaknya Brasil agak repot nih," kata Luhut. 

Faktanya memang seperti yang dikatakan Luhut, Brasil memang kerepotan di Piala Dunia 2018. Sepak terjang Neymar cs di Rusia harus terhenti di perempatfinal setelah dikalahkan oleh Belgia dengan skor 2-1. 
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment