Andai Carlos Roa Masih Bermain untuk Tim Tango


Jika mau fair sebenarnya tidak hanya seorang Lionel Messi semata yang membuat Argentina tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia 2018. Sejumlah pemain faktanya juga melakukan kesalahan fatal yang buat Argentina sejak babak fase grup bermain buruk.
Salah satu yang jadi sorotan ialah sektor penjaga gawang. Tiga kiper yang dibawa oleh Jorge Sampaoli bermain sangat buruk. Di laga pertama kiper veteran Wil Caballero lakukan blunder, sementara Franco Armani yang menggantikan kiper botak itu sangat terlihat demam panggung. Sedangkan untuk kiper ketiga, Nahuel Guzman tak diturunkan.
Publik sebenarnya sudah mencecar Sampaoli dengan tidak diikutsertakannya kiper Sergio Romero. Meski hanya jadi pemain cadangan David de Gea di Man United, Romero secara kualitas lebih baik dibanding 3 kiper di atas.
Sosok Carlos Roa

fifa.com
Regenerasi kiper di Timnas Argentina memang cukup mengkhawatirkan. Argentina saat ini tak lagi memiliki kiper sekaliber Carlos Roa misalnya, penggawa Timnas Argentina yang bermain bagus di Piala Dunia 1998. Carlos Roa bisa dibilang sebagai sosok kiper tanggung Argentina.
Lahir di Sante Fe, Roa menghabiskan 5 tahun kariernya di Racing Cluub. Ia memulai debut seperti dikutip dari soccerway.com (07/07/18) pada usia 19 tahun. Ia mencatatkan 100 caps bersama Racing.
Di klub ini juga Roa sempat terkena penyakit malaria saat mengikuti tur pramusim klubnya ke Kongo. Penyakit ini sempat membahayakan kariernya. Ia tak mampu sembuh total dari penyakit mematikan tersebut. Bermain cemerlang di Racing, Roa kemudian pindah ke Lanus untuk gantikan kiper hebat Argentina lainnya, Marcelo Ojeda.
Pada 1997, Roa coba peruntungan di Eropa. Ia bergabung ke Real Mallorca. Bersama Hector Cuper, Mallorca menjelma jadi kuda hitam di La Liga Spanyol saat itu dan Roa jadi sorotan karena aksinya menjaga gawang.
Setahun kemudian Roa masuk dalam skuat Argentina di Piala Dunia 1998. Di babak fase grup, Roa mampu menjaga gawangnya tidak kebobolan. Roa jadi tembok terakhir pertahanan Argentina yang dikomandoi oleh Jose Chamot, Roberto Ayala, dan Nestor Sensini.
Menjadi pastor

gettyimages.com
Setelah perhelatan Piala Dunia 1998, Roa memutuskan untuk gantung sepatu. Bukan karena ia cedera atau usianya sudah tua, ia memutuskan gantung sepatu karena ingin lebih dekat dengan Tuhan. Ia lalu menghilang dan dikabarkan mengungsi ke Meksiko.
Setelah sempat dibujuk untuk kembali bermain, Roa pun bersedia namun dengan syarat ia tak ingin bermain di hari Sabtu dan hari-hari suci agamanya. Yang menarik keputusan Roa ternyata dipengaruhi oleh kepercayaannya pada hari Kiamat yang datang pada 2000 atau saat itu dikenal dengan istilah Y2K.
"Di bumi, ada perang, kelaparan, kemiskinan, banjir, wabah penyakit. Itu membuktikan bahwa manusia tak punya hubungan spiritual dengan Tuhan," kata Roa seperti dikutip dari thesefootballtimes.co (07/07/18).
Roa sendiri akhirnya benar-benar berhenti jadi pesepakbola dan alih profesi sebagai seorang pastor.
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment