Si Penderita Asma yang Memiliki Kecerdasan di Lini Tengah Manchester United

Paul Scholes lahir Salford, Inggris, 43 tahun silam tepatnya pada 16 November 1974. Sejak kecil, Scholes memiliki kelainan di gen yang menyebabkan dirinya tak berkembang seperti pada anak sebayanya. Dikutip dari telegraph.co.uk (20/02/18), Scholes sempat alami penambahan tinggi badan, namun hanya 10 centimeter di usianya ke 18 tahun. 

Tidak hanya itu, pemain yang disapa dengan Scholesy juga memiliki penyakit asma serta penyakit Osgood-Schlatter (penyakit yang biasanya menyerang pada lutut seorang atlet). Kondisi ini membuat Scholesy di awal ia masuk ke akademi Manchester United pada 1991 silam dianggap tak bisa bermain sepakbola. 

Anggapan miring itu diutarakan langsung oleh Sir Alex Ferguson, pelatih Manchester United saat itu. Namun hal itu tak membuat surut untuk terus berkarier di sepakbola. Sir Alex pun akhirnya meralat ucapannya saat Scholes tunjukkan penampilan gemilang saat membela akademi Manchester United di ajang Piala Liga ketika bertemu Port Vale. Scholes saat itu mencetak 2 gol kemenangan. 


Dua gol inilah yang membuat Sir Alex langsung jatuh cinta. Pasalnya dua gol tersebut tercipta dari proses yang sangat cerdas. Hal ini juga yang membuat Scholes kemudian di kemudian hari dikenal sebagai gelandang yang memiliki kecerdasan melihat situasi di lapangan. 

"Salah satu otak permainan terbaik yang pernah dimiliki oleh Manchester United," kata Sir Alex kepada Scholes seperti dikutip dari fourfourtwo.com (20/02/18). 

Meski memiliki kekurangan di penyakit asma, Scholes nyatanya memang jadi pemain yang mampu ritme permainan Manchester United di lini tengah. Ia memiliki staminan prima saat harus naik turun membantu serangan dan pertahanan Manchester United. 

Bahkan seorang Zidane dan Edgar Davids pun sangat kagum dengan cara bermain Scholes tersebut. Legenda Brasil, Socrates seperti dikutip dari dailymail.co.uk (20/02/18) bahkan sempat mengatakan bahwa sangat menyenangkan jika Scholes bisa membela Timnas Brasil. "Dia akan sangat baik jika bermain untuk Brasil. Saya sangat suka menonton Scholes bermain," kata Socrates. 

Yang membuat Scholes dipandang positif banyak pemain sepakbola karena sifatnya yang sederhana di luar lapangan dan tanpa kompromi saat sudah bertarung di lini tengah. Maka saat Scholes benar-benar resmi pensiun pada 2013 lalu tak mengherankan jika banyak pesepakbola top dunia yang ikut dalam pertandingan perpisahan untuknya. 

Selama berkarier di Manchester United sejak di akademi pada 1991 silam hingga 2013, Scholes tercatat telah memenangkan 25 gelar untuk Manchester United, termasuk 11 gelar juara Liga Inggris dan 2 juara Liga Champions. 
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment