Mengenal 'Socrates' Sepakbola Belgia, Michel Sablon

Kemampuan Timnas Belgia melenggang hingga babak perempatfinal Piala Dunia 2014 lalu merupakan prestasi terbaik kedua yang diraih tim berjuluk The Red Devils tersebut. Sebelumnya di era Piala Dunia 1986, Belgia mampu menembus hingga babak semifinal dan finish di urutan keempat. Di Piala Dunia 2018, dua kemenangan yang diraih Belgia di grup G antarkan Eden Hazard cs melangkah ke babak 16 besar. 

Faktanya memang sejak era 80-an, Timnas Belgia tak mampu kreasikan pesepakbola handal. Bisa dibilang pesepakbola asal Belgia di era 80 dan 90-an ialah pemain kelas kedua di Eropa. Nama-nama seperti Luc Nilis, Emile dan Mbo Mpenza hanya segelintir diketahui pecinta sepakbola. 


Lantas bagaimana federasi sepakbola Belgia, Royal Belgian Football Association (KBVB) bisa hasilkan generasi emas seperti Eden Hazard Cs? 

The Guardian di 2014 lalu sempat menurunkan artikel terkait cetak biru generasi emas sepakbola Belgia. Dalam artikel yang ditulis oleh Stuart James tersebut terselip nama Michel Sablon. Nama yang terdengar asing untuk pecinta sepakbola. 

Sosok Sablon bisa dibilang 'Tuhan' yang menciptakan generasi emas sepakbola Belgia saat ini. Berkat konsepnya, muncul Courtois serta De Bruyne. Sablon ialah 'Socrates' dalam sepakbola. Pemikirannya tidak melulu pada pertandingan di lapangan hijau, tapi bagaimana filosofis dalam sepakbola tidak boleh dilupakan serta hal penting lainnya yang selama ini lalai diproses pembangunan sepakbola nasional. 

Siapa Michel Sablon? Hal apa yang membuat sosok seperti Sablon dibutuhkan oleh sepakbola nasional?

'Menyadap' pola negeri tetangga yang lebih maju

Saat mendapat tugas untuk membangun sepakbola Belgia, hal pertama yang dilakukan oleh Sablon ialah mengubah pola pikir di sepakbola Belgia. Kala itu, Sablon menugaskan Bob Browaeys, pelatih tim muda Belgia saat itu untuk membiasakan para pemain muda Belgia menerapkan formasi 4-3-3. 

"Anda harus tahu bahwa pada akhir 90-an, kami menerapkan kultus individu saat bermain. Kami menerapkan formasi 4-4-3 dan 3-5-2, itu formasi yang terorganisir tapi bahayanya kami akan rentan pada serangan balik," kata Browaeys seperti dilansir The Guardian.

Perubahan formasi yang dilakukan oleh Sablon di tim muda Belgia lewat Browaeys diketahui 'menyadap' dari pola sepakbola negeri tetangga Belgia yang lebih maju, Belanda dan Prancis. 


"Itu adalah pergeseran besar, tapi kami percaya saat itu bahwa pola 4-3-3 adalah formasi yang terkuat untuk pemain kami," kata Browaeys. 

Browaeys dan Sablon percaya bahwa pemain Belgia bisa mengembangkan skill mereka dengan melakukan dribbling terlebih dahulu, membiasakan mereka untuk duel satu lawan satu, "Anda harus menawarkan terlebih dahulu menggiring bola, dan membiarkan mereka bermain dengan bebas," kata Browaeys. 

Gandeng kaum akademisi

Bagi Sablon pembangunan pemain muda ialah ruh untuk bisa menciptakan generasi emas di Belgia. Sablon saat menjabat direktur teknis Timnas Belgia langsung meminta dana untuk membangun pusat pengembangan sepakbola pemuda Belgia yang terletak di Tubize, di pinggiran Brussels, Belgia. 

Selain itu, Sablon pun menggandeng kerjasama dengan sejumlah universitas di Belgia, salah satunya Universitas Louvain. Universitas ini diminta untuk melakukan riset terkait pengembangan pemain muda Belgia. 


Para akademisi dari Universitas Louvain tiap harinya melakukan pertemuan rutin dengan sejumlah direksi klub untuk bertukar ide dan mendorong mereka memberi kontribusi untuk pengembangan pemain muda. 

"Kami memang memulainya dari analisis ilmiah. Jika kita mengatakan bahwa anak-anak laki-laki dan perempuan yang berlatih menendang bola bolak-balik selama setengah jam itu baik, tidak ada yang membantahnya. Karena kami mendapat itu dari riset ilmiah," kata Sablon. 

Menariknya, Sablon menugaskan seorang pemain dan pelatih dari klub divisi dua Belgia, Werner Helsen untuk melakukan riset tersebut. "Tapi ia adalah seorang profesor dari Universitas dan juga pemain," kata Sablon. 

Apa yang dilakukan oleh Sablon kemudian berbuah hasil saat ini. Meski Sablon mengakui bahwa sebelumnya ia sempat mendapat cibiran dari para petinggi sepakbola Belgia. 

"Menurut mereka, mengapa saya lebih memperhatikan sebuah sistem (formasi) dibanding berpikir apakah kita sudah memenuhi syarat untuk bisa tembus ke Piala Dunia dan Euro. Justru dari situ, syarat mampu kami penuhi," kata Sablon. 

*artikel ini pernah dimuat di Indosport.com, 25 Oktober 2016

Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment