Jejak Djokomono yang Terlupa dan Kini Akan Diangkat ke Layar Lebar

07 Desember 1918, pekuburan kecil di daerah Mangga Dua, Jakarta didatangi iringi-iringian kecil yang membawa sesosok manusia untuk dikuburkan. Ia manusia yang sangat ditakuti oleh pemerintah kolonial Belanda semasa hidupnya, dengan ketajaman menganalisis permasalahan bangsanya sebagai bangsa terjajah, yang kemudian dirangkaian dengan kata-kata yang tajam dan pedas. Alasan ini membuat bangsa kolonial Belanda harus mengawasinya secara khusus. 

Jika Daerah Istimewa Aceh saat itu harus disusupi intelejen Belanda bernama Dr.Snouck Hourje untuk memecah belah persatuan rakyat Aceh, maka untuk sosok satu orang ini bangsa kolonial Belanda, khusus menyewa seorang intelejen Belanda bernama Dr.Rinkes untuk menghancurkan dirinya.

Manusia terperintah yang sangat ditakuti oleh bangsa kolonial Belanda, Pramoedya Ananto Toer menjulukinya sebagai “Sang Pemula”. lalah manusia nusantara pertama yang menggunakan media koran sebagai “senjata” melawan Belanda. 


Ia berperawakan kurus, dengan kumis baplang khas orang-orang priyayi Jawa. Namun dibalik perawakannya tersebut tersimpan kemampuan menulis yang tajam dan pedas terhadap bangsa kolonial Belanda. Ia tak pernah mau bersikap lunak dan menjilat terhadap kolonial Belanda walaupun disatu sisi ia menjalin kedekatan dengan para pejabat residen asal Belanda. 

Aksi-aksi kewartaan membuat sosok ini berulang kali dijatuhi hukuman pengasingan oleh Belanda. Teluk Betung di Lampung merupakan tempat pertama ia diasingkan, bukannya jera sosok manusia ini malah semakin keras terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Setelah artikel berjudul “Drijfusiana di Madiun” di Medan Prijaji yang membongkar persekongkolan seorang Residen dengan patih dan jaksa-jaksa di kota Madiun untuk menjatuhkan Bupati kota Madiun saat itu, Brotodiningrat, membuatnya harus dibuang ke Teluk Betung. 

Setahun kemudian tepatnya bulan Oktober 1910, ia kembali mendekam didalam bui, penyebabnya kali ini adalah isi pidato beliau di resepsi pengangkatan patih Bandung.  Kutipan pidato yang menyeret dirinya masuk ke bui antara lain 

“Kecintaan rakyat, terutama kasta kami, kaum mardika ….. ada tergantung pada tactnya priyayi, dan kecintaan itu mudah diperoleh jika yang jadi jembatan antara bangsa yang diperintah dengan bangsa yang memerintah mudah didekati dan mudah terdekati oleh kasta kami, kaum mardika…..”. 

Selain mendirikan Medan Prijaji, sosok ini juga mendirikan sebuah koran bernama “Poetri Hindia” yang mendapat penghargaan dari Ratu Belanda saat itu sebagai koran pribumi pertama yang memperjuangakan aspirasi kaum hawa.

Artikel-artikelnya memang banyak yang membongkar praktek-praktek jahat antara kaum primordial pribumi yang menindas rakyat dengan bangsa kolonial Belanda. Koran yang berdiri pada Januari 1907 merupakan koran pertama yang dikelola oleh bangsa pribumi. Medan Prijaji dikelola oleh ia seorang, ia sendiri yang mencari berita, ia sendiri yang mendistribusikan koran ini, dan ia sendiri pula yang mencari dan mengatur keuangan koran ini.

Seorang wartawan, Taufik Razhen pernah mengatakan pada saya bahwa sosok manusia ini pada awalnya hanyalah seorang pemuda suka hura-hura, play boy, dan ia suka hang out di salah satu pusat hiburan di Batavia, Istilah yang pada zaman sekarang disebut “generasi hedon”. Titik balik dari karakternya yang suka hura-hura menjadi seorang pemuda progresif terjadi saat ia mendirikan koran Medan Prijaji. 

Pram mempunyai penilaian khusus pada sosok ini “ialah orang pertama yang menerbitkan pers nasional pada 1903, yang dengan sadar membebani diri dengan tugas memajukan bangsa,,….. sehingga pers bukan saja menjadi alat perjuangan nasional juga menjadi alat pemersatu nasion..….. ialah juga pribumi pertama yang mengawali pendirian organisasi modern dengan jangkauan nasional (Hindia)…”. Bahkan Pram menceritakan tokoh ini di dalam buku tetralogi pulau Buru sebagai tokoh yang bernama “Minke”.

Keberaniannya sungguh tiada tanding untuk saat itu atau mungkin untuk saat ini, ia menjadi “bom” berkekuatan maha dashyat yang sangat ditakuti Belanda, sepak terjangnya di Nusantara terdengar hingga di negeri Belanda. Sosok ini dianggap sebagai jurnalis berbahaya di negeri jajahan oleh bangsa Belanda, ia menjadi target utama badan intelejen Belanda saat itu.

Ia dijauhkan dari keluarga, difitnah, di buang ke pengasingan, dijebloskan ke bui, dan perilaku-perilaku biadab lainnya. Dirinya menjadi manusia buangan dengan kondisi kesendirian dan nyaris gila di penghujung akhir hayatnya. Di 1913, ia harus diasingkan ke Ambon dengan kondisi mental dan psikologis yang sudah kalis.

Kondisi dibuang dan dilupakan memang bukan menjadi barang baru untuk beliau, tak hanya sengaja untuk dilupakan dan dibuang oleh bangsa colonial Belanda, penerus dari negeri ini yang telah merdeka pun melakukan hal yang sama terhadap dirinya. 

Rezim fasis Orde baru bahkan tak pernah memuat sosok ini di literature dan buku sejarah baik sejarah nasional maupun sejarah pers Indonesia, ia dilupakan atau memang sengaja dilupakan.  Meninggal pada tahun 1918, ia baru mendapat gelar sebagai pahlawan nasional pada tahun 2006, sungguh waktu yang sangat panjang untuk kemudian mengenal sosok ini sebagai pahlawan nasional.

Sang Pemula, telah dilupakan, dilupakan oleh anak negeri yang puluhan tahun ia perjuangkan untuk bisa menghirup udara sebagai manusia merdeka. Sosok yang lahir pada tahun 1880 ini, bernama kecil Djokomono yang kemudian lebih dikenal dengan nama penanya, Tirto Adhi Soerjo. Sang pemula yang sebelum wafat maupun pasca wafat sama-sama dibuang dan dilupakan.

*tulisan ini pernah dimuat di kompasiana.com pada 07 Juni 2011.
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment