Jangan Harap Sepakbola Indonesa Maju, Itu Hanya Fiksi Belaka !

Entah apa yang dirasakan oleh Micko Pratama saat ia dan rombongan bonek lainnya berangkat dari rumahnya dari Sidoarjo menuju Bantul, Yogyakarta. Yang pasti hanya ada keinginan untuk mendukung klub kesayangannya, Persebaya Surabaya yang akan bertanding melawan PS Tira di lanjutan kompetisi Liga 1 2018. 

Menumpang truk, para bonek ini kemudian malah dihadang orang-orang tak bertanggung jawab saat melintas di Pasar Kleco, Solo. Bentrokkan tak terhindarkan. Lemparan batu tak bisa dicegah. Dikutip dari laporan bolasport.com (15/04/18), rekan dari Micko menuturkan bahwa tiba-tiba saja ada orang tak bertanggung jawab melempari mereka batu. 


"Kejadian itu sangat-sangat seram. Kami dilempari batu,"  kata Anggun Yulianto. Mengapa tiba-tiba mereka dilempari batu? Menurut Anggun, hal itu disebabkan adanya rombongan bonek sebelumnya yang melakukan tindakan tidak terpuji dengan menjarah kios pedagang. 

"Sebelumnya memang ada rombongan yang menjarah di sana, tetapi imbasnya kepada kami," kata Anggun. Malang bagi Micko, lemparan batu mengenainya dan terjatuh dari truck. Orang tak bertanggung jawab yang sudah kesetanan itu langsung mengeroyok ramai-ramain Micko hingga berpulang ke Ilahi. 

Darah segara kembali harus jatuh ke ibu bumi. Orang tak bersalah dan hanya berkeinginan untuk mendukung klub kesayangannya harus jadi tumbal. Siapa yang salah ? Siapa yang harus bertanggung jawab ? Entahlah. 

Insiden meninggalnya Micko menambah panjang korban tak berdosa di sepakbola Indonesia. Bentrok antara suporter atau bentrok dengan orang tak bertanggung jawab seperti jadi hal lumrah di sepakbola Indonesia. Nyawa di sepakbola Indonesia seperti sedemikan murah sehingga jika kejadian itu terulang kembali hanya ada sepenggal kalimat penyesalan tanpa ada rasa ingin insiden jangan sampai terulang kembali. 

Mari flash back, bagaimana kalimat penyesalan bertaburan pasca meninggalnya Gilang, Harun Al Rasyid, Agen Astrava, Ricko Andrean, Catur Yuliantono, atau suporter lain yang harus merenggang nyawa di sepakbola Indonesia. Sayangnya kalimat penyesalan itu tak bertahan lama dan darah kembali jatuh di sepakbola Indonesia. 

Tak bermaksud menghakimi namun instrospeksi kubro harusnya dilakukan semua pihak di sepakbola Indonesia. Sementara kita semua melakukan instrospeksi kubro, ada baiknya tinggalkan dahulu angan dan mimpi kita melihat Timnas Indonesia berprestasi. Jangan pernah berharap atau bahkan bermimpi sepakbola Indonesia bakal maju jika empati terhadap sesama suporter masih sangat minim. 

Jangan juga para suporter lantas memberi alasan, di negara lain juga sering bentrok dan Timnas mereka berhasil. Faktanya nyawa di negara lain yang juga terjadi bentrok karena sepakbola tak semurah di negeri ini. Dan jika ingin berkaca, bentrok yang terjadi di sejumlah negara lain juga dilatarbelakangi oleh faktor yang lebih mengakar dibanding hanya karena saling hina. 

Tak percaya? Silahkan bedah laporan berjudul 'SUPPORTERS’ MOVEMENT “AGAINST MODERN FOOTBALL” AND SPORT MEGA EVENTS: EUROPEAN AND POLISH CONTEXTS  yang dipublsih oleh Universitas of Lodz. Di sana berisi apa yang menjadi latar belakang suporter sepakbola di sejumlah negara di Eropa saling baku hantam. 

Laporan dari panditfootball.com (15/04/18) juga bisa jadi referensi untuk mereka yang merasa bentrok antar suporter ialah bumbu di sepakbola. Baku pukul antara suporter di Eropa, memiliki aturan tidak tertulis yang wajib dipatuhi semua pihak, TIDAK SALING MEMBUNUH. 
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 Comments:

Post a Comment