“Hiroshima, Ketika Bom Dijatuhkan”

Peristiwa jatuhnya bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki menjadi akhir dari Perang Dunia II yang memakan banyak korban jiwa, namun mirisnya untuk mengakhiri perang pun harus mengorbankan jiwa yang tak sedikit. 

John Hersey seorang wartawan Amerika Serikat kelahiran Cina menuliskan kisah menyedihkan ini ke dalam sebuah buku yang diberi judul “Hiroshima, ketika bom dijatuhkan”. 

Buku ini menceritakan fakta sejarah jatuhnya bom atom ke kota Hiroshima, Jepang pada tanggal 6 Agustus 1945, walaupun cerita ini merupakan fakta sejarah tapi John Hersey menuliskan dengan gaya penulisan cerita novel. Dalam istilah jurnalisme tulisan feature seperti ini disebut dengan aliran jurnalisme sastrawi.

Buku berjumlah 162 halaman ini memaparkan peristiwa di detik-detik bom atom akan dijatuhkan, saat bom atom jatuh dan pasca bom atom telah dijatuhkan. John Hersey memfokuskan kepada kisah keenam orang korban selamat dalam peristiwa tersebut. Keenam orang tersebut adalah Dokter Sasaki, Nyonya Nakamura, Nyonya Sasaki, Dokter Fujii, Pendeta Kleinsorge, dan Pastur Tanakagi. 


Keenam orang ini adalah sedikit korban yang selamat dari peristiwa memilukan ini. Dalam buku ini terbagi dalam 4 bab. Ditiap babnya John memaparkan bagaimana keenam orang ini bisa selamat dari dahsyatnya kekuataan bom atom.

6 Agustus 1945, tepat pukul 08:15 pagi waktu setempat, sebuah Bom atom jatuh tepat dikota Hiroshima. Bom atom yang dibawa oleh pesawat pengebom Amerika serikat, B-29 ini meluluh lantakan kota Hiroshima yang saat itu menjadi pusat industry Jepang. Nyonya Nakamura seorang janda beranak 3 saat peristiwa terjadi sedang memasak sarapan untuk ia dan ketiga anaknya, malam sebelum kejadian ia baru saja mengungsi di sebuah “daerah aman” yang sudah ditentukan. 

Ia mengungsi karena radio-radio di Jepang saat itu memberitakan bahwa pesawat-pesawat B-29 terus mengitari pulau Honsu, dekat Hiroshima. Alarm peringatan terus berbunyi di kota Hiroshima, malam sebelum bom atom dijatuhkan. Di pagi hari tanggal 6 Agustus 1945, nyonya Nakamura memutuskan untuk kembali ke rumahnya, saat itulah ia melihat sebuah cahaya putih yang tak pernah dilihat sebelumnya, reflek sebagai seorang ibu Nyonya Nakamura melompat ke arah tempat anak-anaknya sedang tidur. 

Nyonya Nakamura pingsan dan tak bisa mengingat apa yang terjadi lagi setelahnya. Pengalaman lain justru dirasakan oleh pendeta Kleinsorge, seorang misionaris asal Jerman. Di pagi yang naas itu ia sedang membaca sebuah buku di gereja tempatnya bekerja. Tak lama kemudian Kleinsorge mendengar sebuah ledakan dashyat seperti sebuah kilat besar. Tak lama kemudian bangunan tempatnyaberada menjadi runtuh, dan Kleinsorge pun berusah menyelamatkan diri bersama pendeta-pendeta lainnya. 

Kleinsorge berhasil lolos dari runtuhan bangunan, walaupun dengan luka-luka. Dokter Fujuii sendiri merasakan hal yang sama dengan Nyonya Nakamura, di pagi itu ia sudah berada di rumah sakit tempatnya bekerja. Saat sedang menelusuri lorong menuju bangsal tempat orang sakit, ia melihat sebuah cahaya putih dari pantulan kaca di ruang tersebut, sesaat kemudian rumah sakit tersebut bergerak mundur. Fujuii dapat selamat karena melompat dari rumah sakit yang akan roboh tersebut. Peristiwa ketiga orang ini juga dialami tiga orang lain yang selamat.


Keenam korban selamat ini kemudian melihat seisi kota dikelilingi oleh api. Banyak bangunan yang terbakar dengan hebat, dan juga banyak orang yang mengalami luka bakar setelah bom atom jatuh. Nyonya Sasaki seorang juru tulis di sebuah koran, di pagi yang naas itu sudah berada di kantor. Ia tak bisa menyelamatkan diri saat bom atom jatuh dan meruntuhkan bangunan tempatnya bekerja. 

Ia terkubur di dalam bangunan tersebut, beruntung ia hanya pingsan. Saat sadar melihat tubuhnya sudah tertimbun di material bangunan, tak lama kemudian ia berjuang untuk bisa keluar dari banguan tersebut, karena melihat bangunan tersebut sudah mulai terbakar. Sebagian korban yang selamat dalam peristiwa ini mengalami luka bakar, dan kebanyakan korban yang meninggal dalam peristiwa ini disebabkan tertindih di dalam bangunan tempat mereka berada. 

Pendeta Tanakagi satu-satunya korban yang tak mengalami luka-luka, saat peristiwa terjadi Pendeta Tanakagi berlindung di sebuah lubang persembunyian yang memang dibuat warga Hiroshima saat itu. Saat ia keluar dari lubang tersebut, Tanakagi melihat bagaimana kondisi kota kelahirannya telah luluh lantak, pemandangan menyedihkan terlihat dengan jelas. 

Ratusan orang terkubur hidup-hidup, sebagian lagi bertahan dengan luka bakar, dan penderitaan lainnya. para koban yang selamat saling bahu membahu menyelamatkan satu sama lain, mereka bingung dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi. Kota menjadi hancur lebur, para tentara jepang pun banyak yang menjadi korban. 

Dengan kebingungan dan kepanikan luar biasa mereka harus bisa bertahan hidup dan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Seluruh kota dipenuhi dengan api yang menjalar-jalar menghanguskan tiap bangunan yang ada.

Dengan kepanikan dan jutaan pertanyaan, para korban yang selamat berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bom apa yang dijatuhkan Amerika Serikat? Mereka juga bertahan dengan fasilitas yang tak memadai untuk bisa terus hidup. 

Rumah sakit banyak yang roboh, sementara hanya ada satu rumah sakit yang masih bisa menolong orang yang luka-luka, rumah sakit itu merupakan rumah sakit swasata tempat Dokter Fujuri. Dokter yang selamat hanya 3 orang di rumah sakit itu, dan perawat hanya 5 orang sedangkan jumlah pasien yang datang ke rumah sakit itu ratusan orang dengan kondisi beragam, ada yang sudah kritis, luka ringan, dan luka berat. 

Dengan segala daya yang tak maksimal, para dokter terus berjuang membantu para korban luka-luka. 1 minggu setelah peristiwa ini, Kaisar Jepang, Hirohito mengumumkan bahwa Jepang sepakat mengakhiri Perang Dunia II sebagai pihak yang kalah. Hal ini disambut dengan rasa haru oleh para korban Hiroshima, dan masyarakat Jepang lainnya. 

Mereka yang masih bisa bertahan hidup masih dilingkupi dengan banyak pertanyaan mengenai bom apa yang dijatuhkan pesawat B – 29.  Ada yang berspekulasi bahwa itu merupakan bom kimia, karena setelahnya banyak korban yang mengalami rasa mual dan pusing teramat sangat setelah bom jatuh. 

Ada juga yang menganggap bahwa selain menjatuhkan bom, Amerika serikat juga menjatuhkan sejumlah racun dan bahan kimia lain sehingga membakar kota dan meracuni korban lainnya.

Di bab terakhir dalam buku ini John Hersey menggambarkan bagaimana reaksi para korban selamat yang mengetahui lewat pengumuman radio bahwa Jepang menjadi pihak yang kalah dalam Perang Dunia II. Selain Hiroshima, Nagasaki pun menjadi korban Bom Atom Amerika Serikat. 

Dengan derita tersebut Kaisar Hirohito memutuskan untuk mengakhiri perang agar korban yang jatuh tak lagi menjadi banyak. Menjadi pecundang dalam Perang Dunia II justru tak membuat para korban menjadi malu, mereka justuru sangat mendukung keputusan yang diambil oleh Kaisar. 

Di akhir cerita, para korban yang selamat berusaha membangun kota menjadi keadaan yang lebih baik, saling bahu membahu antara para korban yang selamat dan jutaan warga jepang lainnya malah membawa Jepang menjadi negara maju. Dengan semangat bushido mereka berjuang tak lagi menjadi pecundang tapi menjadi pemenang.

Pesan yang diinginkan oleh John Hersey dalam buku ini adalah bahwa perang dengan alasan apapun tidak akan pernah menguntungkan, yang ada hanyalah kerugian baik itu kerugian materil dan nyawa yang tak sedikit. 

Dan para korban nyawa sebagian besar adalah mereka yang tidak bersalah. Mengakhiri perang dengan menjatuhkan bom atom juga merupakan tindakan yang tidak manusiawi dan tidak tepat. Mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak dengan mengorbankan korban yang juga tak sedikit bukanlah solusi terbaik untuk menghentikan perang. 

Dunia akan lebih baik jika ilmu pengetahuan digunakan untuk kemanusian bukan untuk kehancuran. Baik Jepang sebagai pihak yang kalah dalam PD II maupun Amerika Serikat sebagai pihak pemenang PD II merupakan sama-sama negara fasis. 

Jepang selama PD II mempunyai track record sangat kejam di beberapa Negara yang ia duduki, Cina, Korea, Indonesia merasakan bagaimana kejamnya serdadu Dai Nipon ketika menduduki negera mereka. Kekejaman yang mungkin bisa tersaingi dengan kejamnya tentara SS Nazi Jerman ketika menduduki banyak negara di Eropa, seperti Polandia, Belanda, Hungaria, dan lain sebagainya. 

Namun penciptaan nuklir oleh seorang Yahudi, bernama Albert Einsten membuat kekejaman kedua negara ini berpindah kepada Amerika Serikat. Kekejaman yang hingga kini sulit dicari saiangannya. Sudah banyak negara yang merasakannya kekejaman dari Amerika Serikat, jumlah negaranya bahkan melebihi jumlah negara korban dari Jepang dan Jerman.

Pertanyaannya kemudian, apakah perlu negara lain menjatuhkan bom atom berikutnya ke Amerika Serikat untuk mengakhiri kekejaman negara ini ? 

Negara-negara seperti Korea Utara, Iran, ataupun India bisa saja melakukan itu, namun apakah itu cara yang bijak untuk mengakhiri kekejaman Amerika Serikat ?
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment