Grozny, Kota Berlatar Belakang Perang yang Jadi Markas Mesir di Piala Dunia 2018

Mesir menjadi negara berstatus kuda hitam di ajang Piala Dunia 2018. Lolosnya Mesir ke Piala Dunia 2018 tentu tak lepas dari peran seorang Mohamed Salah, pemain Mesir yang saat ini memiliki pengaruh luar biasa.

Meski sempat alami cedera pundak saat final Liga Champions akibat dibanting oleh bek Real Madrid, Sergio Ramos, pemain Liverpool tersebut seperti dikutip dari fifa.com (05/06/18) masuk dalam 22 pemain resmi yang bakal membela Mesir di Piala Dunia 2018.

Nantinya selama perhelatan Piala Dunia 2018, Mesir yang tergabung di grup A bersama Rusia, Arab Saudi, dan Uruguay akan bermarkas di kota Grozny, Chechen Republic, Rusia. Dipilihnya Grozny sebagai markas Mesir tentu tak lepas dari budaya Islam yang ada di kota ini.

Sebagai bagian dari Chechen Republik, Grozny merupakan salah satu kota di Rusia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Budaya Islam yang memang sangat kental di kehidupan orang Grozny, bendera kota ini sendiri memiliki simbol masjid Akhmad Kadyrov, yang merupakan masjid terbesar di kota tersebut.


Sayangnya kota Grozny menurut catatan sejarah merupakan kota yang dari tahun ke tahun jadi korban perang. Dikutip dari rbth.com (05/06/18), Grozny awalnya merupakan pos militer Jenderal Aleksey Petrovich dari Kekaisaran Rusia yang ingin menguasai kota Chechen. Awal abad ke-20, kota ini mulai tumbuh semenjak di temukan cadangan minyak bumi.

Namun penemuan minyak bumi ini malah membuat kota ini menjadi sasaran berikutnya saat Uni Soviet berkuasa. Saat terjadi revolusi Bolshevik di Rusia, Grozny memiliki peran penting, pasalnya kota ini berusaha untuk menjadi negara berdiri sendiri lepas dari Soviet. Akibatnya kota ini jadi gempuran para prajurit Rusia.

Puncaknya pada era 1944-1948 hampir 100 ribu lebih penduduk kota ini menjadi korban tewas akibat perang dengan militer Rusia. Grozny sendiri menurut banyak pengamat di Eropa berpotensi menjadi negara-negara di Balkan yang pecah konflik antar etnis karena beragamnya penduduk kota ini.

Baru pada 2003, Grozny perlahan sudah menutup lembaran kelam akibat perang dan mulai bangkit sebagai kota yang maju. Grozny sendiri memiliki klub sepakbola yang saat ini bermain di Liga Rusia, FC Akhmat Grozny. Pada 2011, klub ini bahkan sempat mempekerjakan legenda Timnas Belanda, Ruud Gullit sebagai pelatih tapi pria Belanda itu tak bertahan lama sebagai pelatih Akhmad Grozny.

Sebenarnya pemilihan Grozny sebagai markas Mesir dirasa cukup aneh, pasalnya jarak antara Grozny ke sejumlah kota yang bakal jadi tempat bertanding Mesir di grup A cukup jauh.

Jika melihat letak geografisnya, Mesir akan menempuh perjalanan berjam-jam, misalnya saat Mesir ke Yekaterinburg waktu yang ditempuh lebih dari 4 jam menggunakan pesawat terbang.

Mesir sendiri akan melakoni 3 pertandingan di grup A yakni melawan Uruguay di Stadion Central, Yekaterinburg pada 15 Juni 2018, melawan Rusia pada 19 Juni 2018 di Krestovsky Stadium, Saint Petersburg, dan melawan Arab Saudi di Volgograd Arena, Volgograd pada 25 Juni 2018.
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 Comments:

Post a Comment