Ernesto Guevara: Darah Irlandia, Fotografi, Perjuangan, dan Kematian

Ernesto Guevara Lynch de la Serna, nama lengkap dari sosok pejuang karismatik Amerika Latin yang saat ini begitu terkenal dengan banyaknya poster-poster serta kaus dan pin up yang bergambarkan wajah pejuang yang lebih terkenal dengan panggilan Che Guevara. 

Che lahir 14 Juni 1928 di Rosario, Argentina ia adalah anak 1 dari 5 bersaudara, ayahnya Ernesto Guevara senior adalah seorang campuran Spanyol dan Argentina.


Guevara senior bekerja di banyak bidang pekerjaan mulai dari jasa konstruksi, perkebunan, dan masih banyak pekerjaan lainnya maka tidak heran kehidupan Che sewaktu kecil berkecukupan. 

Ibunya Celia de la Serna adalah perempuan rumah tangga yang berasal dari keluarga bangsawan Argentina campuran Irlandia, dari sosok ibunya Che banyak belajar mengenai Marxisme karena sosok ibunya merupakan seorang pejuang Marxis yang menentang diktator Juan Peron.

Silsilah Che Guevara dan Asal Nama

Sosok Che yang terkenal dengan kepeduliannya untuk berjuang demi kaum papa yang tertindas,terbentuk karena factor keluarganya, silisilah keluarga Che penuh dengan orang-orang yang berjuang untuk kaum papa. 

Kakek Che dari ayahnya merupakan pejuang Juan Antonio Guevara yang berjuang melawan dictator Juan Manuel Ramos di Spanyol sedangkan dari silsilah ibunya yang berasal dari daratan eropa tepatnya di Irlandia, nama Lynch sendiri merupakan nama salah satu marga / keluarga besar di Irlandia yang terkenal sebagai salah satu marga / keluarga besar yang berjuang melawan colonial Inggris di Irlandia. 

Kata Guevara sendiri adalah bahasa Basque, etnis di Spanyol yang terkenal perlawanannya terhadap bangsa Spanyol, Kata Guevara menurut bahasa Basque sendiri mempunyai pengertian : batu, keras.

Walaupun berasal dari keluarga yang berkecukupan tidak membuat Che kecil menjadi anak yang sombong dan tidak peduli terhadap sesama, pola pendidikan di keluarganya membuat Che kecil pun menjadi anak yang sangat peduli terhadap sesamanya yang tidak berkecukupan. 


Sikap pedulinya terhadap sesama bahkan tidak hanya kepada manusia, sifat Che kecil bahkan bisa dibilang sangat melankolis, pernah sewaktu che berusia 10 tahun seekor anjing tetangganya meninggal, ia menyuruh teman-teman sebaya lainnya untuk mengadakan upacara kematian layaknya manusia, ia bahkan sempat memberikan pidato perpisahan di hadapan teman-teman sebayanya.

Sosok kepimpinan serta peduli terhadap sesama memang sudah terlihat dari usia belia, memasuki usia dewasa ia melanjutkan sekolah di University of Buenos Aires mengambil jurusan kedokteran spesialisasi penyakit alergi dan kulit. Che sendiri mengidap penyakit asma akut yang terus menyiksanya dari ia kecil sampai dewasa. 

Sebagai calon dokter, ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mempraktekkan ilmu kedokterannya kepada orang-orang tidak mampu, seperti di pelabuhan atau tempat-tempat kumuh lainnya. 

Che pernah membuat obat alergi yang ia produksi sendiri dan dipasarkan sendiri kepada orang-orang miskin dilingkungan sekitarnya, obatnya ia beri nama gammexane namun karena kesulitan serta pendirian che untuk tidak menerima bantuan financial usahanya ini pun bangkrut.

Berkelana

1941 adalah awal pertemuan Che Guevara dengan sahabatnya Alberto Granados, Alberto sendiri adalah seorang ahli penyakit kusta – pada zaman itu di beberapa kawasan amerika latin serta amerika tengah banyak terdapat orang-orang yang mempunyai penyakit kusta dan sebagian besar adalah suku asli Amerika Latin. 

Pertemuan dua orang yang sama-sama mempunyai rasa solidaritas kuat terhadap sesama ini mendorong mereka berdua untuk melakukan perjalanan keliling Amerika Latin untuk lebih banyak mengetahui tentang kondisi warganya, selain itu misi perjalanan mereka ini adalah untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan medis.


Tahun 1952 dua anak manusia ini memulai perjalanannya mengelilingi Amerika Latin mengendarai sepeda motor besar kepunyaan Alberto Granados, jalur perjalanan yang mereka lewati adalah tempat-tempat yang banyak ditinggal suku asli amerika latin yang pada saat itu banyak menderita akibat penyakit kusta dan lepra. 

Di pegunungan Andes, motor mereka rusak sehingga harus ditinggalkan, mereka berdua pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau menumpang kepada supir truk-truk pertambangan.

Kisah 2 orang sahabat ini bahkan pernah difilmkan dengan judul “The Motorcycle Diary”, dan dari perjalanan mereka ini, che semakin dekat dan merasakan penderitaan mereka kaum papa terutama para suku asli Amerika Latin yang sangat merasakan perlakuan diskriminatif oleh mereka kaum kaya yang sebagian besar berasal dari Amerika Serikat dan Eropa, tentu saja semakin memperkuat sikap revolusioner Che untuk melawan kepada mereka para tuan tanah, para kapitalis Amerika yang sering Che sebut, yunkiees. 

Che pernah berkata kepada Alberto ketika mereka sampai di Chile dan melihat banyak suku Indian yang terjajah di tanahnya sendiri, che berkata : “Melakukan revolusi tanpa menembakan senjata ?apa kamu gila?”.

Untuk mencukupi nafas mereka sehari-hari Alberto dan Che bekerja apa saja, mereka pernah bekerja menjadi penambang, petani kokain, sampai menjadi perawat untuk orang-orang penyakit lepra di Brazil- kawasan Iquitos, suatu kawasan yang dikhususkan sebagai tempat penampungan orang-orang yang terkena penyakit lepra. 

Saat mereka berdua sampai di Venezuela, Alberto dan Che berpisah, Che melanjutkan perjalanannya sedangkan Alberto menetap di Venezuela bekerja di laboratorium penyakit lepra. Che meneruskan perjalanannya sampai ke Miami, Amerika Serikat, tahun 1953 Che kembali ke Argentina untuk menerima gelar M.D nya di bidang kedokteran.

Setelah mendapatkan gelar tersebut Che kembali meneruskan perjalanannya atua lebih tepatnya ke Venezuela untuk menemui kembali Alberto Grannados, namun sayangnya sebelum Che sampai ke Venezuela naluri revolusionernya memanggil untuk berjuang di Negara Guetamala, bersama tokoh pejuang revolusioner Argentina lainnya, Ricardo Rojo. 

Bagi Che sendiri perjuangan melawan para tuan tanah serta rezim pro kapitalis Amerika wajib hukumnya tidak peduli walaupun Negara tersebut bukan tanah airnya, pemikiran sederhananya : 

“Jangan Hiraukan bendera, karena kita berjuang menegakkan masalah suci penyelamatan kemanusiaan, sehingga mati dibawah bendera Vietnam, Venezuela, Guetamala, Laos, Ghana, Kolombia, Brazil – sekedar nama medan perjuangan bersenjata – sekarang adalah sama mulia dan sama pentingnya bagi seorang Amerika, Asia, Afrika atau bahkan seorang Eropa”. 

Pemikirannya inilah yang kemudian juga mendorong jiwa revolusionernya untuk membantu perjuangan Fidel Castro dari Kuba untuk meruntuhkan rezim Batista, sebelum ke Kuba ia sempat singgah di Meksiko, di Meksiko inilah Che muda mulai menempa dirinya dengan “pendidikan” revolusioner bersama para pejuang Moncanda, Kuba.

Fidel dan Revolusi Kuba

Setelah perjuangannya di Guetamala tidak berhasil, ia semakin banyak belajar dan mengerti mengenai makna perjuangan revolusioner bersama rakyat bukan berjuang atas nama rakyat, di Meksiko sendiri untuk meneruskan nafasnya selama sehari-hari ia bekerja menjadi seorang fotografer wisatawan di Meksiko menggunakan kamera Brownie yang sudah rusak pemberian temannya bernama Roberto “el patojo” Careces.

Kemampuan fotografinya bahkan terus diasahnya – ia banyak belajar fotografi kepada seorang fotografer dan wartawan Kuba, Alexander Corda -, beberapa hasil-hasil jepretannya sekarang di museumkan di Museum Nasional di Kuba, bahkan saat ia dieksekusi mati di Bolivia ditemukan di tas serta kantong bajunya, kamera serta 3 rol film yang telah digunakan namun sayang sampai sekarang 3 rol terakhir Che belum sempat dicetak bahkan hilang seperti raib ditelan bumi.


Melihat sosok Che, kita seperti melihat sosok manusia yang begitu misterius dengan tatapan mata – tergambar dari foto-fotonya – yang mempunyai banyak makna perjuangan, sosok misterius yang sangat mengidam-idamkan adanya persamaan yang layak terhadap manusia lainnya, tidak adanya penjajahan manusia terhadap manusia lainnya yang hanya disebabkan oleh materi. 

Oleh karena itu Che sangat menekankan pembangunan manusia sosialis artinya semenjak ia dan Castro berhasil melakukan revolusi di Kuba, ia menginginkan bahwa manusia-manusia di Kuba khususnya dan dunia umumnya untuk merubah mainstream pemikirannya mengenai pembangunan Negara berdasarkan materi. 

Menurut Che pembanguanan Negara harus berdasarkan moral dan jiwa sosial yang tinggi, manusia baru yang mempunyai moral serta jiwa sosial yang tinggi inilah yang diinginkan Che untuk menjaga dan membangun jiwa revolusioner di Kuba.

Sepintas sosok Che banyak diidentikan sebagai seorang pejuang revolusioner yang tegas, kaku atau bahkan dibeberapa literatur yang dikeluarkan Koran-koran Amerika Serikat seperti The New York times, Che diidentikan drakula berdarah dingin dari Argentina karena sikap Che yang tegas dan tidak kenal pandang bulu terhadap mereka-mereka para tuan tanah dan para pendukung kapitalis Amerika Serikat bahkan terhadap anak buahnya sendiri Che tidak segan untuk menembak/menghukum mereka jika mereka bersalah. 

Namun dari semua judgement terhadap sosoknya, kepribadian Che tidaklah seperti itu, sikap tegas dan tidak pandang bulu ini karena memang dalam revolusi seperti di Kuba sikap displin dan tidak ceroboh adalah sifat yang harus dimiliki pejuang revolusioner, dalam kesempatan wawancara dengan wartawan dari Amerika Serikat, ketika Che ditanyakan seputar dirinya yang bisa membunuh kawannya sendiri ketika ia bersalah, Che menjawab ; 

"Kami berjuang bersama rakyat dan demi rakyat, ketika seseorang melakukan kesalahan dan itu merugikan perjuangan revolusioner, maka eksekusi mati memang harus dilakukan bukan kami tidak menghargai hak asasi manusia justru kami melindungi hak asasi manusia yang lebih besar “,

Sifat che yang tegas ini memang harus dilakukan untuk terus menjaga revolusi Kuba dan menciptakan manusia sosialis seperti yang Che impikan. Justru dalam kesehariannya Che adalah orang romantic melankolis. 

Che sangat menyukai lagu-lagu Beethoven dan lagu-lagu klasik lainnya selain itu ia sangat menyukai puisi-puisi Pablo Neruda. Sisi lain dari Che adalah kegemarannya menghisap cerutu terutama cerutu Monte carlo no.4 dan Barbados no.2, dengan penyakit asma yang akut serta kegemarannya menghisap cerutu membuat ia terus menerus digrogoti sesak nafas. 

Pernah sewaktu ia bertempur di Kuba, stock cerutunya kehabisan dan ia lalu mengumpulkan segala jenis tanaman dan dicampur dengan tembakau untuk membuat cerutu sepanjang 25 cm untuk kemudian dipotong-potong dan dibagikan ke anak buahnya, Che pernah berkata 

“Cigaret sangat baik untuk kesehatan terutama bagi mereka yang ingin menghilangkan rasa cemas dan panik akibat perang”

Seputar Percintaan

Sedangkan untuk urusan percintaan, dengan wajah rupawan, ia memiliki daya tarik untuk para kaum hawa. Hilda Gadea seorang gadis Peru anggota perjuangan Aprista Peru adalah sosok perempuan pertama yang berhasil menarik perhatian Che,mereka pun menikah pada tahun 1955. 

Sesaat Che dan fidel serta 82 pejuang Moncanda lainnya berangkat ke Kuba dari Meksiko untuk menggulingkan rezim Batista, anak Che yang pertama bernama Hildita Beatrice lahir . Hilda pernah berkata,

“Saya kehilangan suami saya karena revolusi kuba”, karena memang Che akhirnya menceraikan Hilda dan menikahi seorang perempuan kuba bernama Aleida March pada tanggal 3 juni 1959 dianugrahi 4 orang anak, 2 laki dan 2 perempuan. 

Seputar sebab perceraiannya dengan Hilda, Che sempat menuliskan curahan hatinya yang tertuang dalam buku Che, 

“Aku mencintaimu dan sangat mencintaimu, namun aku mahluk bebas dan menginginkan mahluk lainnya merasakan kebebasan, aku tidak ingin menodai rasa cinta ku yang tulus kepada mu dengan pemaksaan satu sama lain “ 


Dari kutipan tersebut, penulis berpendapat bahwa sebab perceraian che dengan Hilda lebih dikarenakan perbedaan pemikiran antara keduanya mengenai sikap perjuangan Che, anak pertama che sendiri Hildita Beatrice sendiri dibesarkan di Kuba.

Ajal pun tiba

Setelah revolusi di Kuba berhasil, dan Che diangkat menjadi menteri perindustrian Kuba namun jabatan ini tidak membuat Che selesai dengan perjuangan revolusionernya. 

Karena perbedaan pendapat dengan Castro mengenai posisi Kuba terhadap Uni Soviet, membuat Che pergi meninggalkan Kuba dan berangkat ke Kongo untuk membantu revolusi disana, setelah di Kongo tidak berhasil Che kemudian mendarat di Bolivia dan membantu revolusi disana. Namun karena memang menjadi salah satu musuh Amerika Serikat, membuat ia sangat dicari hidup atau mati.

Tanggal 8 Oktober 1967 adalah hari naas bagi Ernesto Guevara ia ditangkap oleh pasukan Bolivia yang dibantu pasukan khusus Amerika serikat dan dihukum mati karena tidak mau diintorgasi oleh CIA, tanggal 9 Oktober 1967 pejuang Argentina ini dieksekusi mati di sebuah bangunan sekolah di dekat kota La Higuera bersama 2 kawan seperjuangannya di Bolivia. 

Di usainya yang baru 39 tahun Che meninggal dunia, ia meninggalkan 2 orang perempuan yang sangat mencintainya dan 5 anak yang ia inginkan menjadi manusia sosialis. Ia juga meninggalkan ratusan atau bahkan ribuan anak muda yang mengagumi sosok serta prinsip perjuangannya, prinsip-prinsip kemanusiannya serta perjuangannya untuk umat manusia lainnya tetap hidup dan diwarisi oleh The Next che dari berbagai belahan bumi lain. 

Manusia-manusia yang masih percaya dan yakin bahwa kita dapat membangun sebuah masyarakat yang santun, anti penindasan, dimana semua orang menghormati satu sama lain, dan dimana semua orang dapat berkomunikasi satu sama lain sebagai manusia seutuhnya yang masih yakin bahwa "kita dapat melakukannya"
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 Comments:

Post a Comment