Begini Rasanya Menjadi Pembimbing Eskul di Tingkatan Anak SMA

Awal memasuki lingkungan SMA 9 untuk menjadi bagian dari SMA ini, ada perasaan yang berat dalam pribadi saya. Saya diminta untuk menjadi pelatih eskul Jurnalistik bersama seorang kawan yang mengajar eskul fotografi. 

Harus mengahadapi siswa/i SMA memiliki perangai yang tidak konstan atau bisa disebut masih labil dalam melakukan tindakan jadi salah satu alasannya. Apalagi jika bicara ilmu jurnalistik saya yang masih belum ada seujung kuku. 

Eskul Jurnalistik SMA 9 sebelum kehadiranya saya hanya terdiri dari 5 individu yang masih mencoba untuk mempertahankan eskul ini ditengah keterbatasan sumber daya manusia. 

Kelima orang ini bisa disebut sebagai orang-orang yang tak ingin eskul ini dibubarkan dikarenakan minim prestasi dan ketidaktarikan siswa lain untuk bergabung ke dalam eskul ini. Seiring dengan berjalannya waktu, beberapa siswa mulai tergabung kedalam eskul ini.


Tercatat ada 15 orang yang kemudian menjadi pengurus baru eksul ini. Mereka memiliki tanggung jawab dan peran masing-masing di dalam kepengurusan itu nantinya. Yang menjadi unik, saya mengubah susunan organisasi eskul ini dengan menghilangkan peranan ketua, namun saya ganti menjadi koordinator. 

Posisi koordinator berperan sebagai pengatur, penyeimbang, dan pengelola eskul, dengan keputusan besar ada ditangan seluruh anggota eskul – Saya menenkankan proses diskusi dan demokrasi dalam hal pengambilan keputusan, tidak melulu ketua/koordinator berhak memutuskan satu masalah –

Perjalanan kepungurusan baru eskul jurnalistik & fotgrafi SMAN 9 memang tak mudah, masih saja terdapat individu-individu yang tidak memainkan perannya meski sudah memiliki tanggung jawab sebagai pengurus eskul. Bagi saya itu hal wajar untuk ukuran anak SMA. 


Meski begitu, terlihat dengan jelas bagi saya kemauan dan semangat anak-anak dalam berkarya, menambah ilmu, dan berprestasi. Kemauan kuat mereka kadang tak diimbangi oleh saya sebagai pelatih mereka, ada hal-hal yang membuat kemajuan mereka untuk lebih baik sedikit terhambat. 

Belum lagi, permasalahan sekolah yang masih 'menganak-tirikan' eksul ini. Dukungan tidak sepenuhnya tercurah ke eskul ini, sangat berbeda jauh dengan eskul eksul lain seperti futsal misalnya. Minim prestasi di kepengurusan sebelumnya, mungkin menjadi penyebab.

Beberapa orang di kepengurusan baru saya akui memiliki semangat untuk memajukan eskul ini dengan apapun caranya. Tak jarang, semangat mereka 'menggangu' saya. Saya harus sedikit berkorban untuk kembali membaca ulang beberapa literatur mengenai jurnalisitik, sebut saja beberapa buku seperti 9 elemen jurnalisme, 10 pedoman bahasa jurnalisitik, sejarah mengenai tokoh pers nasional, Tirto Adhi Soerjo (TAS) dan buku lainnya saya kombinasikan untuk menjadi bahan ajar ke mereka. 

Secara pribadi, saya menekankan kepada mereka, untuk berpikir dan berjiwa peka serta kritis. Bagi saya ini penting untuk terjun ke dunia jurnalisitik.

Tak ayal materi pengajaran, semangat anak-anak , serta metode pengajaran saya yang tak mengenal batasan guru dan murid sedikit membuahkan hasil. Hasil nyata menurut saya salah satunya adalah pembentukan karakter siswa/i yang sedikit lebih peka dan kritis terhadap kondisi sosial di sekitar mereka.

Beberapa tulisan yang dihasilkan mereka sedikit membuat saya tersenyum, pesan kritis akan kondisi sekolah yang tak baik, atau kondisi kehidupan para penjaga dan satpam sekolah, hingga prilaku guru yang 'tak terpuji' berani mereka tuangkan dalam bentuk tulisan. 

Meski masih juga ada beberapa siswa yang masih 'nyaman' dengan kondisi mereka, setidaknya mereka ini masih memiliki rasa ingin tahu, tidak abai. Rasa penasaran mereka masih muncul ketika saya memberikan fenomena sosial di luar 'lingkungan' mereka. Bagi saya, itu proses yang cukup baik.

Rasa bangga pun kembali muncul di mereka, ketika hal yang bombastis mereka dapatkan. Dengan sedikit keragu-raguan, mereka mencoba untuk mengikuti lomba untuk tingkat nasional, hal yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan. Bidikan pertama adalah mencari pengalaman, mengasah ilmu yang telah mereka dapat, dan belajar bekerja sama untuk eskul mereka. Mereka pun mengikuti lomba Mading 3D yang diselenggarakan oleh Kompas Muda, ini event tahunan dan nasional yang sering diadakan oleh Kompas Muda. 

Saat itu, tema besar adalah “Investasikan energi mu untuk bumi pertiwi”. Dengan 'memeras' otak, pioner-pioner muda ini bekerja sama membuat mading 3D yang sesuai dengan tema lomba. Kreasi dan olah pikir, mereka kombinasikan untuk membuat miniatur mading 3D. Pun disepakati bahwa mereka akan mengambil sub tema untuk mading 3D yaitu menjaga hutan untuk mencegah global warming.

Kerja dan usaha keras mereka pun berbuah hasil. Meski tidak ada satu pun anggota eskul yang yakin akan hasil yang mereka buat akan membuat juri terkesan, justru pun hal itu berbalik. Penilaian juri memberikan nilai yang mendekati sempurna, hingga mading 3D kreasi eskul jurnalistik dan fotografi SMAN 9 didaulat sebagai juara 1. 

Sorak sorai gembira pun mereka rasakan, hasil kerja keras mereka 'terbayar' dengan pengakuan layak dari orang luar sekolah mereka. Pekik kebanggaan tercermin dari mereka. Namun kini, tugas pun menjadi lebih berat. Menjadi no 1 lebih mudah dibandingkan mempertahankan, setidaknya ini yang harus dilakukan kepengurusan baru eksul jurnalisitik&fotografi SMAN 9. 

Setelah vakum beberapa bulan lamanya akibat keteledoran saya sebagai pelatih, kini eskul ini siap kembali menjadi media komunitas di tingkat pelajar. Hal yang lebih bermanfaat jika dibandingkan dengan sikap dan perilaku pelajar akhir-akhir ini yang terjerumus ke hal negatif. 

*tulisan ini pernah dimuat di kompasiana.com pada 28 September 2012. 
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 Comments:

Post a Comment