Apa Kabar Sepak Bola di Titik Nol Indonesia, Kota Kelahiran Edy Rahmayadi

Menurut kajian sejarah, Sabang sebelum Perang Dunia II merupakan kota pelabuhan terpenting dibandingkan dengan Singapura (dulu masih bernama Temasek). Pada awal kemerdekaan Republik ini, Sabang menjadi pusat pertahanan Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS). 

Berada di 'pintu masuk' Indonesia, Sabang menjadi salah satu daerah yang cukup strategis jika ditilik dari sisi ekonomi. Sejak zaman Orde Lama, Orde Baru, hingga ke era Reformasi, Sabang menjadi prioritas dalam hal ekonomi. 

Era Presiden KH. Abdurrahman Wahid misalnya, Sabang dijadikan Kawasam Perdagangan Bebas sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) No.2 tertanggal 22 Januari 2000. 

Sabang kembali hidup dengan banyaknya aktifitas ekonomi di sana. Sayang pada 2004, Aceh ditetapkan menjadi Daerah Darurat Militer, hal ini tentu berdampak pada kehidupan di Sabang ditambah dengan tragedi Tsunami di tahun yang sama. 


Tidak hanya soal ekonomi, namun juga dari sendi kehidupan sosial, budaya, hingga olahraga. Bicara olahraga, khususnya sepakbola di Sabang sangat jarang informasi mengenai hal itu. 

Menariknya, kekinian Sabang kembali terangkat usai putra asli daerah tersebut, pada Kamis, 10 November 2016 lalu, sukses menjadi ketua umum PSSI yang baru. Ia adalah Letnan Jenderal TNI, Edy Rahmayadi. 

Tentu banyak harapan tidak hanya dari pecinta sepakbola nasional, namun juga pecinta sepakbola di Sabang agar geliat sepakbola di kawasan tersebut kembali hidup bahkan bisa setara dengan kota-kota besar lain di Indonesia. 

Adalah Persatuan Sepakbola Sabang (Persas Sabang) klub sepakbola yang tercatat sebagai klub sepakbola asli Sabang. Persas Sabang bermarkas bermarkas di Stadion Gelora Sabang Merauke, Sabang, Aceh. 

Sayang, nama Persas Sabang sudah sangat asing terdengar. Informasi soal Persas Sabang pun sangat jarang diperbarui. Padahal sejumlah talenta berbakat sepakbola pernah bermain di klub ini, salah satunya ialah gelandang Persija Jakarta, Rudi Setiawan.

Bagaimana sebenarnya gambaran dan kondisi sepakbola di Sabang? Berikut ulasan singkatnya: 

Kiprah Laskar Gerbang Barat Nusantara

Persas Sabang memulai kiprahnya di sepakbola nasional pada 2008 lalu. Persas bermain di divisi tiga liga Indonesia. Kala itu, Persas dilatih oleh salah satu pelatih kontroversial, Iwan Setiawan yang juga putra daerah Sabang. 

Kiprah klub Kijang Sabang ini di perhelatan divisi tiga cukup memukau. Klub yang bermarkas di Stadion Gelora Sabang Merauke, Sabang ini sukses promosi ke Divisi Dua Liga Indonesia. 


Hanya satu tahun untuk Persas Sabang mampu promosi ke Divisi Satu Liga Indonesia. Pada 2010, Persas Sabang hampir saja bisa menembus kompetisi tertinggi kedua sepakbola nasional, Divisi Utama Liga Indonesia.

Sayang langkah dari Persas Sabang terhenti setelah pada putaran kedua babak play off promosi Divisi Utama Liga Indonesia harus takluk. 

Padahal pada putaran pertama, Persas Sabang mampu mengalahkan sejumlah klub seperti PSAB Aceh Besar, PS Madina Medan Jaya, Persidi Idie, dan Persekaba Aceh Utara. 

Terhimpit masalah finansial

Pada perhelatan Divisi Satu musim 2011/2012, Persas Sabang terkendala masalah finansial.

“Kita tetap berjuang supaya Persas bisa ikut kompetisi. Perjuangan ke divisi I seperti sekarang ini akan sia-sia. Kita akan persiapkan pemain dalam waktu dekat. Jadi, untuk saat ini, kita tak berani pasang target, yang terpenting bertahan saja dulu di divisi satu,” kata Ketua Umum Persas Sabang, Izil Azhar (Izil Azhar mengundurkan diri dari jabatannya pada 12 Desember 2011) seperti dilansir dari aceh.tribunnews.com

Himpitan biaya jua yang pada akhirnya membuat Persas Sabang memutuskan mengundurkan diri di Divisi Satu Liga Indonesia. Persas Sabang saat itu berada di Grup 1 bersama Persidi Idie, Pidie Jaya, Persal Aceh Selatan, Aceh Utara FC, dan PSAB Aceh Besar. Persidi Idie keluar sebagai juara grup. 

Penyebab dari matinya Persas Sabang tak terlepas dari pengaruh politik lokal di Sabang. Zulkifli Adam dan Nazarudin yang kala itu memimpin Sabang disebut-sebut tak peduli pada sepakbola dan membiarkan Persas Sabang tak mampu bergeliat. 


Pasalnya, dana bantuan yang diberikan dari dana Anggaran Pendapatan Belanja Kota (APBK) Sabang pada tahun anggaran 2012 dinilai tidak rasional hanya sebesar Rp200 juta dari nilai yang diusulkan Persas Sabang ke DPRK sebesar Rp1 miliar.

Ketua Pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Kota Sabang, Abdullah Imum saat itu seperti dilansir dari medanbisnisdaily.com menyebut ada hal aneh terkait dana tersebut,

"Seperti untuk cabang olah raga bola volly yang tidak memiliki pretasi apapun mendapat alokasi dana mencapai Rp700 juta," kata Imum.  

Kekecewaan sangat jelas dirasakan oleh pecinta sepakbola Sabang pasca Persas Sabang harus mati karena masalah finansial. 

"Prinsipnya kita sudah berjuang maksimal bagaimana upaya kita mengangkat prestasi pesepakbolaan di Sabang untuk masuk ke ajang professional, tapi kini semua sudah sia-sia," tegasnya.

Harapan untuk bapak Calon Gubernur 

Saat tampuk kepemimpinan PSSI kini berada di tongkat komando Letjen Edy Rahmayadi, pecinta sepakbola Sabang sangat berharap ada titik terang untuk sepakbola dan Persas Sabang. 

"Ada kebanggaan tersendiri buat kami, beliau kelahiran Sabang. Kami mendukung penuh. Semoga saja di kepemimpinan beliau, PSSI ada perubahan baik prestasi maupun displinnya," kata Samanizal Zal kepada penulis.  

Ditambahkan oleh Samanizal, penggiat sepakbola di Sabang selaras dengan plat form awal Edy Rahmayadi untuk meningkatkan prestasi sepakbola nasional yakni soal pembinaan usai muda. Samanizal mengaku akan terus mengembangkan pemain muda di Sabang. 

"Mulai besok kami sudah bekerja di pembinaan usia muda dan akan lahir cikal bakal dari ujung Indonesia untuk Persas dan untuk Timnas," kata Samanizal.  

Besar harapan dari Samanizal dan sejumlah penggiat sepakbola Sabang untuk PSSI di bawah Edy Rahmayadi bisa memperhatikan klub-klub sepakbola seperti Persas dan klub lainnya di seluruh pelosok Indonesia. 

"Meski kami tinggal di pulau kecil, kami selalu mengikuti perkembangan sepakbola nasional dan sepakbola ialah hiburan utama masyarakat di sini," kata Samanizal. 

Untuk Sepakbola Sabang

Sejumlah eks pemain dan manajemen Persas Sabang serta masyarakat sepakbola Sabang tentu saja berharap klub ini bisa kembali bergeliat dan jadi warna di sepakbola nasional. 

Eks winger Persas Sabang, Ahmad Sopian yang dihubungi penulis sangat berharap Persas Sabang kembali mendapat perhatian pihak terkait. 

"Walaupun saya bukan orang Aceh, tapi saya seperti orang Aceh. Tim Persas Sabang harus mendapat perhatian, Persas Sabang kan salah satu tim kuat juga," kata pemain yang membela Persas Sabang dari kasta terbawah hingga bisa tembus ke divisi satu Liga Indonesia. 

Hal setara juga dikatakan oleh eks asisten pelatih Persas Sabang, Samanizal Zal. Samanizal yang sampai saat ini masih berprofesi sebagai pelatih tersebut mengatakan sangat ingin Persas Sabang kembali hidup dan berkiprah di sepakbola nasional. 

Apalagi kini PSSI di bawah komando putra asli Sabang, Letjen Edy Rahmayadi. Ia juga berharap kembalinya eks pimpinan Persas Sabang, Izil Azhar atau yang biasa disapa Ayah Merin bisa memimpin kota Sabang dan Persas Sabang. 

Ayah Merin dipandang oleh Samanizal dan pecinta sepakbola Sabang sebagai tokoh yang bisa kembali mengangkat Persas Sabang. Apalagi Ayah Merin mempunyai 'darah' Persas Sabang, orangtua dari Ayah Merin ialah eks pemain Persas.

*Tulisan ini pernah dimuat di Indosport pada Desember 2016
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 Comments:

Post a Comment