Ada Konspirasi Dunia Coba Hentikan Kejayaan Indonesia di Ajang Bulutangkis ?

Jika bicara siapa negara yang memiliki kejayaan di olahraga bulutangkis, negeri kita boleh sesumber dan sombong pasalnya atlet bulutangkis kita tiap tahunnya selalu memberikan gelar bergengsi di kejuaraan bulutangkis. 

Di level All England misalnya, pasangan ganda putra Indonesia Kevin/Marcus yang pada Maret 2018 lalu sukses meriah gelar bergengsi menerusi jejak gemilang senior mereka, Ricky Subagdja/Rexy Mainaky meraih gelar All England secara dua tahun berturut. 

Prestasi ini pun membuat Presiden RI, Jokowi seperti dikutip liputan6.com (03/04/18) saat bertemu Kevin Sanjay dan Marcus Gideon di Istana Negara mengatakan agar tradisi emas dan juara di kompetisi bulutangkis terus dipertahankan atlet bulutangkis Indonesia. 


"Pak Presiden terus menyemangati agar emas-emas ini terus dipertahankan untuk memberikan yang terbaik di ajang Asian Games 2018," kata Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. 

Sayangnya kegemilangan atlet bulutangkis Indonesia mendapat ancaman tersendiri dari negara-negara lain. Sejumlah aturan dari Federasi Bulutangkis Dunia, BWF dinilai terlalu merugikan atlet bulutangkis Indonesia. 

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti mengatakan ada tiga aturan anyar di BWF yang bakal memberatkan pemain. Dikutip dari bwfbadminton.com (03/04/18) aturan anyar tersebut antara lain, Pertama, keharusan pemain elit bertanding di minimal 12 turnamen dalam setahun. Kedua, perubahan batas tinggi servis, dari tinggi rusuk terbawah tiap pemain, menjadi satu standard 115 cm dari permukaan lapangan. Ketiga, kemungkinan perubahan sistem skor pertandingan dari reli poin 21 menjadi skor 11 poin dikali lima gim. 

Khusus untuk aturan poin nantinya tiap gim, pebulutangkis bakal menang jika sudah meraih poin 11. Jika terjadi angka sama di match poin seperti 10-10, maka maksimal game sampai di angka 15. Perpindahan lapangan bakal terjadi pada game kelima saat kedudukan angka 6. 

Meski untuk skor resmi ini belum resmi diputuskan namun rencannya BWF bakal mencobanya di Olimpiade Tokyo 2020. Menurut Susy seperti dikutip dari kompas.com (03/04/18) aturan tersebut harus memiliki durasi waktu panjang agar pebulutangkis Indonesia bisa beradaptasi. 

Susy memberi contoh, dalam perubahan skor pindah bola (poin 15) menjadi reli poin (skor 21), butuh waktu empat sampai lima tahun untuk bisa diadaptasi total oleh pemain. Kekhawatiran Susy juga soal animo penonton bulutangkis, sebagai negara yang gila Bulutangkis sistem poin ini tentu akan mempengaruhi keseruan para pencinta bulutangki nasional. 

"Jadinya kita agak susah menikmati permainan badminton, terlalu cepat. Belum lagi nanti servis difault, bola out, habis deh, jadi tidak ada seninya." kata atlet yang suskes meraih emas Olimpiade 1992 Barcelona tersebut. 

Khusus untuk servis, Susy juga memberi perhatian khusus. Di aturan servis baru ini sejumlah pebulutangkis nasional menjadi 'korbannya'. Di German Open 2018 lalu saja misalnya, pebulutangkis nasional seperti Gloria Emanuele Widjaja, Rizki Amelia Pradipta, Melati Daeva Oktavianti, Mohammad Ahsan, hingga Fajar Alfian, yang servisnya kerap dinyatakan fault. 

Services judges (hakim) dengan bantuan alat manual di pinggir lapangan menjadi penentu sah tidaknya servis. Karena masih mengandalkan pandangan hakim pribadi, Susy menilai aturan ini riskan kesalahan. 

"Tapi dari sudut pandang mana? Kan services judges kan sudut pandangnya berbeda," kata Susy seperti dikutip dari tempo.co (03/04/18). 
Share on Google Plus

About P I

“Semua yg terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap orang yg berpikir” -PAT-
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 Comments:

Post a Comment