Cengkraman Mafia di Sepak Bola Italia - Pria Ibra

Breaking

Jasa Pembuatan Artikel

priaibra.com

Tuesday, November 6, 2018

Cengkraman Mafia di Sepak Bola Italia


Kabar tak mengenakkan datang dari sepakbola Italia. Salah satu penggawa Timnas Italia yang membawa gelar juara Piala Dunia 2006, Vincenzo Iaquinta tersandung kasus kriminal yang melibatkan kelompok mafia ternama asal Italia Selatan, 'Ndrangheta. 

Seperti dilaporkan footballitalia.net, Iaquinta menjadi salah satu tersangka dari 150 tersangka yang ditangkap kepolisian Italia karena terlibat di dalam kelompok 'Ndrangheta. Ayah Iaquinta, Giuseppe Iaquinta bahkan dijatuhi hukuman 19 tahun penjara karena terbukti membantu kelompok mafia ini. 

Sementara Iaquinta meski tak terbukti di pengadilan ia terlibat dalam kelompok mafia ini, eks striker Juventus ini terbukti bersalah dalam kasus kepemilikan senjata api. Kasus yang melilit Iaquinta ini seperti mengulang kasus sama yang melibatkan mantan striker Inter Milan, Adriano beberapa waktu lalu. Adriano sempat diamankan kepolisan Brasil karena terbukti terlibat di dalam genk kriminal. 

Kembali ke kasus Iaquinta, pengaruh kelompok mafia di Italia memang bukan hal baru bagi publik di sana. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kelompok mafia juga menancapkan kukunya di sepakbola Italia sejak lama.

Pada 29 Oktober 2006 lalu misalnya, seorang pesepakbola muda Italia, Giovanni Montani merenggang nyawa karena diberondong anggota mafia saat tengah mengendarai sepeda motornya. Belakangan diketahui bahwa kematian pemain ini lebih kepada persaingan antar kelompok mafia lokal di Bari. Montani ternyata ialah seorang keturunan dari keluarga Montani yang juga memiliki pengaruh luar biasa di kalangan mafia lokal. 

Paman dari Montani, Andrea Montani dipenjara sejak 1991 silam karena bisnis keluarga tersebut. Anak dari Andrea, Salvatore kemudian meneruskan bisnis keluarga tersebut. Meskipun ayah dari Giovanni Montani pernah menyebut anaknya sama sekali tidak terkait kelompok mafia Montani namun Giovanni sangat akrab dengan sepupunya, Salvatore Montani. 


Kepolisian setempat menyebut bahwa kematian dari Giovanni Montani akibat aksi balas dendam antar keluarga Montani. Lalu ada juga kasus Renato di Giovanni yang juga tewas mengenaskan di tangan para mafia. 

Cengkeram mafia di sepakbola Italia tentu saja berujung pada praktek perjudian, pengaturan skor, dan praktek kotor lainnya. Sepak terjang para mafia sepakbola Italia ini sangat sistematis dan rapi. Salah satu kelompok mafia ini bahkan pernah membuat klub sepakbola yang bertujuan hanya untuk mengkaburkan praktek perjudian dan pengaturan skor mereka dari jerat hukum. 

Pada medio 2011 silam, di Italia Selatan berdiri klub dengan nama La Nuova Quarto Calcio yang didirikan oleh Giuseppe Polverino. Polverino bukan orang sembarangan. Polverino merupakan Camorra, sebutan mafia dari Naples, Italia. Bisnis organisasi yang dipimpin oleh Polverino ialah jual beli kokain, prostitusi, hingga perjudian. 

Dilansir dari thesefootballtimes.co, Polverino mendirikan klub La Nuova merupakan bagian dari strategi bisnis perjudiannya serta keinginannya untuk mendapat penghormatan dari warga setempat. 

Namun usaha dari Polverino tidak lama, setelah pemerintah Italia membentuk unit khusus pemberantasan mafia. Unit ini kemudian menangkap Polverino dan skuat La Nuova, aset klub ini juga disita. 

Sayangnya meski kepolisian Italia sudah berusaha untuk meminimalisir praktek mafia di segala sendi kehidupan termasuk sepakbola, hal itu tak benar-benar terjadi. 

Usai klub buatan Polverino dibekukan, data menyebutkan bahwa di pertengahan hingga akhir 2011, tercatat ada 100 orang ditangkap oleh Kejaksaan Italia terkait kasus match fixing. 

Para tersangka ini sebagian besar merupakan anggota dari kelompok mafia yang tersebar di Italia serta melibatkan sejumlah pemain dan klub. Kasus penangkapan 100 orang ini kemudian dikenal dengan sebutan skandal 'Ultima Scommessa'. Tiga klub terlibat dalam skandal ini yakni Bari, Napoli, dan Cremona. 

Sejumlah pengamat di Italia menyebut bahwa keterlibatan mafia dalam sendi kehidupan masyarakat Italia termasuk bidang sepakbola merupakan kasus yang rumit untuk diurai. 

Mengapa hal itu bisa terjadi? Mafia di Italia bukan sekedar kelompok kriminal semata, sebagian besar masyarakat Italia bahkan memiliki balas budi ke kelompok mafia. 


Kasus Polverino misalnya, sejumlah warga yang tak rela jika klub La Nouva harus ditutup selamanya. Mereka berupaya agar klub itu masih ada eksistensinya. 

Selain itu bagi mafia, ada hukum tak tertulis bahwa pengkhianatan bayarannya ialah nyawa. Warga setempat khawatir jika mereka tak melakukan apapun pada klub itu, nyawa mereka akan jadi ganjarannya jika Polverino bebas dari bui. 

Sebenarnya kasus La Nouva juga dialami oleh para pendukung klub Rosarno. Klub ini pada 2010 sempat diambil alih oleh pihak kejaksaan karena petinggi klub ini terbukti secara hukum merupakan bagian dari mafia. 

Aksi lebih liar dan bengis dilakukan para mafia, seperti kasus klub Giugliano FC misalnya, klub ini ternyata tidak hanya jadi klub sepakbola, namun jadi gudang senjata kelompok mafia. Senjata-senjata itu disimpan rapi di dalam stadion klub, Stadion Boys Caivanese Calcio. 

Tidak hanya pemain dan klub yang jadi imbas, korp pengadil pun tak ketinggalan 'dirangkul' oleh para mafia. Paolo Zimmaro, pria berprofesi wasit ini mendapat hukuman 20 tahun dilarang aktif di sepakbola Italia. Mengapa Zimmaro mendapat hukuman selama itu? 

Usut punya usut, Zimmaro saat akan memimpin pertandingan meminta para pemain untuk mengheningkan cipta selama satu menit. Ternyata aksi mengheningkan cipta itu ditujukan Zimmaro untuk kematian salah satu gembong mafia, Carmine Arena yang tewas karena perang antar mafia pada 2004 lalu. 

Pemerhati masalah mafia, Corrado De Rosa mengatakan mafia telah menancapkan kuku-kuku mereka ke segala lapisan masyarakat. "Kepemilikan klub sepakbola oleh para mafia membuat mereka berada di posisi yang 'terhormat' di masyarakat. Akibatnya aksi kriminal mereka seperti pencucian uang dan lainnya malah mendapat perlindungan. Mereka begitu dihormati selain ditakuti," kata De Rosa. 

Dipandang secara sosiologis, masyarakat Italia yang sudah bertautan dengan mafia, telah mencapai tahap patologis (gejala sakit secara sosial). Akibatnya tindakan mereka kepada aksi kriminal para mafia ini hanya membiarkan, termasuk saat mereka melakukan praktik match fixing dan mendirikan klub untuk pencucian uang.

Di tengah kondisi patologis yang merasuk ke mayoritas Italia, masih ada juga kaum minoritas di sana yang berusaha untuk melawan cengkraman mafia di sendi kehidupan, termasuk di sepakbola. Upaya perlawanan ditunjukkan oleh sejumlah perempuan. 

Para perempuan yang mengkampanyekan perlawanan kepada mafia ini mendirikan klub futsal sebagai wadah perlawanan. Federasi Futsal Italia juga mendukung aksi para pemain futsal perempuan ini. Sayang aksi ini ternyata tidak mendapat dukungan penuh dari Federasi Sepakbola Italia, pihak federasi malah marah karena aksi kampanye terbuka tersebut. 

Mantan jaksa yang sangat keras terhadap aksi kriminal mafia, Nicola Gratteri mengatakan bahwa sudah menjadi resiko melawan mafia akan berujung pada kematian. 

Namun menurut Gratteri, aksi para perempuan ini harusnya menjadi aksi yang masif. "Mereka tidak hanya memikirkan bagaimana terus bermain, tapi mereka memberikan dorongan psikologis kepada para korban mafia ini. Ini merupakan sumber kekuataan sosial di masyarakat," kata Gratteri seperti dikutip dari thelocal.it.